Showing posts with label Competition. Show all posts
Showing posts with label Competition. Show all posts

Tuesday, 21 June 2016

Dalam Beberapa Hari Belakangan... #Radiasi

Saya tahu, ini terlalu payah untuk dikatakan sebagai postingan kedua untuk tema yang beberapa minggu lalu saya janjikan. Oleh karena itu saya buat postingan ini, untuk semacam pemberitahuan saja.

Dalam beberapa hari belakangan ini saya disibukkan dengan kerjaan mengolah data, sekitar semingguan terakhir. Mengapa lama sekali? Selain karena datanya yang agak susah, terjadi sedikit kesalahan dari pihak costumer yang mengakibatkan saya harus mengolah untuk kedua kalinya. Jadilah saya tidak punya cukup waktu untuk membuat postingan.

Wednesday, 8 October 2014

Saturday Night #FF2in1

Di sini aku sekarang, di hadapan pintu lebar berwarna coklat tua, belum bisa melakukan apa-apa. Angin sabtu mala mini tidak terlalu dingin, tapi aku menggigil. Kali ini aku memahami satu hal, tidak ada perjuangan yang mudah untuk sesuatu yang berharga. Ya, tidak mudah memang mendapatkan hati Tiara, terlebih hati kedua orangtuanya.

“Aku capek backstreet terus…” kala itu Tiara mengungkapkannya, di malam dua hari lalu saat aku meneleponnya seperti biasa. Aku menghela napas panjang.

Di sini aku sekarang, mencoba untuk memperjuangkan cinta yang aku anggap benar. Aku tidak bisa menghilangkan bayangan perempuan yang aku cintai dengan segenap hati tersebut. Tiara pernah bilang, Papanya melarangnya menjalin hubungan yang lelaki yang tidak jelas.

Tuesday, 15 April 2014

Scale of Happiness

Perempuan itu sedang bercerita tentang bagaimana sebuah keindahan dilukiskan dengan kata. Mengagumi Pantai Nusa Dua dari sudut The Bay Bali adalah cara yang paling tepat, tesis-nya. Sebab malam ini sedang berlangsung sebuah drama, penampilan dari deburan ombak yang  saling berkejaran terbawa angin darat dengan alunan musik Bali yang khas sebagai pengiring, pasir putih yang disoroti lampu-lampu temaram dari pohon adalah salah satu tokoh utama. Pemicu suasana megah, begitu katanya. Aku tidak terlalu mengerti bagaimana proses analogi itu bisa terjadi, keahlianku tidak pernah menjangkaunya. Namun, satu hal yang aku tahu. Bagiku perempuan yang sedang berkisah itulah estetika paling nyata di sini, duduk di hadapanku dengan memesona tanpa perlu analogi apapun. Florenza Orlin selalu tampak bersinar tanpa perlu cahaya.

“Jadi, apa misimu membawaku ke sini?” Pertanyaan itu tiba-tiba menodongku, memaksaku untuk menyimpan keterpanaan tadi. Dengan mata yang mengerjap-ngerjap penasaran, Flo menantiku dengan sebuah jawaban. Jawaban yang paling mengejutkan untuknya.

Just have dinner, aren’t we?” Jawabku sekenanya.

“Cuma makan malam, Bay?” Flo seperti tidak percaya, “Kita masih di pasir putih Pirates Bay dan kamu bilang cuma makan malam. Apa nggak terlalu manis?” lanjutnya sedikit berlebihan.

Tuesday, 1 April 2014

Surat untuk Mantan

Untukmu, pemilik rindu.
Apa kabar hari-harimu? Apakah masih sibuk dan terlalu mengganggu? Asal kamu tahu, aku masih menolak untuk mengerti masalahmu yang itu. Maaf. Dan, apa kamu masih belum menganggapnya bukan sebuah masalah? Sudah, lupakan! Kamu tahu apa yang kamu lakukan, aku masih seyakin dulu. Baiklah, aku tidak bisa menahan untuk tidak menanyakannya. Bagaimana kabarmu? Apakah sudah berubah? Sejujurnya, aku tidak berharap banyak. Aku tahu, kamu mampu mengatakan ‘baik-baik saja’ jika memang harus mengatakannya, kamu hanya akan ‘pindah’ jika telah menemukan alasannya. Hanya saja, ada perasaan yang menggerutuku jika hal ini tidak kusampaikan padamu. Tentang kita dan masa lalu. Surat ini akan memberitahu.

Untukmu, yang dirindu.
Kamu tahu, waktu merupakan sahabat paling kejam? Di satu sisi dia setia menemenamiku merajut penantian, tapi di sisi lain, diam-diam dia mengikis pertahananku hingga jatuh berdebam, lalu karam. Yang akhirnya, jeraku tak mampu lagi diredam. Jangan salah sangka, aku mengatakan ini bukan untuk menyalahkannya. Bukan juga untuk mencari siapa yang salah. Pada dasarnya kita sama-sama tahu, pilihanlah yang membuat kita satu sama lain terluka. Aku memilih melepaskan, sedang kamu menawarkan kembali sebuah pertahanan. Kamu tahu, aku bisa. Aku tahu, saat itu aku dan kamu mungkin akan lebih terluka. Dan kita tidak pernah menyangka, menyerah mampu mengantarkan kita menemukan sebuah jalan. Yaitu jalan yang pada awalnya  kita tempuh bersama, namun ternyata tidak membawa kita pada tujuan yang serupa. Aku dan kamu memiliki ujung jalan yang terpisah. Aku tidak menganggapnya sebagai kesalahan, aku harap kamu juga paham.

Wednesday, 26 March 2014

His Eyes #FF Nulisbuku

Tolong jelaskan padaku apa yang salah pada matanya! Atau… aku?
Biarkan aku menganggapnya sebagai sihir, karena aku benar-benar tidak ada ide. Bagaimana tidak? Aku masih ingat betul bagaimana aku mengemis kepada Rere agar tidak membawaku ke salah satu tempat yang termasuk dalam daftar danger area-ku: Perpustakaan. Dan itu tidak berhasil. Raungan dan sogokan ice cream tidak mempan pada Rere yang sedang semangat membabi buta mengerjakan tugas akhir kuliah. Maka aku hanya bisa pasrah.

Saturday, 27 April 2013

Dear...

          Dear, kau yang sedang tersenyum seperti biasa…
          Sebenarnya aku ragu saat akan menulis surat balasan ini. Kau tahu? Aku tidak terbiasa melakukannya. Tapi… setelah dipikir-pikir, mungkin aku bisa mengataknnya melalui surat ini. Sesuatu yang ingin kusampaikan padamu, saat di bandara, namun aku melupakannya karena masalah kecil itu. Kau tahu aku sangat kerepotan hari itu. Kepulangan yang mendadak ditambah dengan passport-ku tertinggal di hotel. Aku benar-benar tidak bisa memikirkan hal yang lain. Dan… semoga surat ini bisa membantu.
          Aku mengingat hari di mana kita pertama kali bertemu. Aku pikir kau sangat terganggu dengan gumaman-tanpa-arahku sehingga kau harus menghampiriku dan menghentikannya. Aku terlalu penasaran dan cerewet tentang lukisan-lukisan menakjubkan yang tergantung di Galleria degli Uffizi sampai tidak menyadari bahwa ada kau yang sedang lancar menjawab pertanyaan dan pernyataanku. Lalu aku mengatakan sesuatu―yang aku lupa itu apa, dan kau tergelak karenanya. Saat aku menoleh, itu lah di mana aku menyadari ada yang lebih menarik minatku. Aku bertanya-tanya, apa aku pernah bertemu orang Rom seramah dirimu? Dan… apakah semua orang Roma akan tertawa seperti caramu melakukannya?
          Saat kita menghabiskan senja dengan perahu gondola melewati Ponte di Rialto, aku tidak menyangka kau akan membicarakan tentang cinta. Aku membenarkan ucapanmu, seberapa hebat kita merangkai kata, kita tetap tidak akan bisa mengungkapkan bagaimana itu cinta.  Mengapa jatuh cinta? Karena alasan-alasan itu akan terdengar konyol dan nyaris tidak masuk akal. Ya, terkadang kau memang benar.
          Tapi tidak tentang Risotto, aku benci makanan dengan rasa aneh itu! Kau tahu? Aku tidak akan mempercayakan soal makanan kepadamu, seperti aku mempercayakan perjalanan ke Roma-ku kepadamu. Walau aku sangat senang saat kau menyodorkan tawaran-tawaran yang menyenangkan itu. Dan tolong ingat! Lidah Indonesia-ku ini tidak akan pernah mau terbiasa dengan makanan kebangganmu itu. Jadi, jangan sekali-kali berani memaksaku memakannya lagi!
           Aku senang saat kau akhirnya mau mengantarku ke Verona, setelah aku berjanji tidak akan terlihat norak saat mengunjungi rumah Juliet yang megah itu. Aku melakukannya dengan baik, bukan? Kemudian saat kita kembali ingin menikmati hangatnya keindahan mengantar senja di sebuah perahu gondola. Venesia adalah tempat terbaiknya. Lalu kau mengajakku makan malam yang mengesankan di restoran Italia di dekat sungai. Tidakkah itu terlalu romantis untuk kita?
          Dan yang paling indah adalah saat kita berdansa. Aku tidak pernah bisa melakukannya dengan baik, kau juga ternyata. Kupikir pesta itu akan berakhir hanya dengan obrolan panjang antara aku, kau dan teman-temanmu saja. Namun saat musik-nya berubah menjadi Vivo Per Lei dari Andrea Bocelli ft. Judy Weiss, kau menoleh padaku terlalu cepat, dan aku menyadari. Kau melempar senyum menawanmu seperti biasa, dan aku hanya terdiam menikmati. Kau selalu mekukan itu dengan sempurna, membuat aku takut―jangan-jangan kau mengetahui bahwa senyummu itu sudah seperti mantra untukku.
          Katamu, lagu itu adalah salah satu lagu favoritmu dan ingin sekali berdansa dengan iringannya. Lalu, kau menarik tanganku dengan percaya diri, membuat aku bertambah takut. Setiba kita di tengah, kau berbisik, “Yang mungkin terjadi hanya lah kau menginjak kakiku, atau aku menginjak kakimu. Atau yang lebih buruk, kita menginjak kaki kita masing-masing. Jadi, tidak akan ada yang terganggu. Percayalah!” Aku bersumpah, itu adalah ucapan paling konyol yang pernah aku dengar. Namun aku tidak bisa menahan diriku untuk juga merasa tenang mendengarnya, sehingga aku bersedia. Saat kau menggenggam tanganku, saat mata kita saling bertemu. Yang kutahu, hanya ada tentang kita di sana.
          Sebuah perjalanan yang selalu ingin kuulang. Adakah aku kembali? Entah lah. Sekarang aku hanya ingin menanyakan ini padamu. Memastikan bahwa Roma bukan menjadi pilihan yang salah. Aku tidak yakin, namun kuharap kau bisa meyakinkannya untukku. Apapun itu, kali ini aku akan benar-benar mempercayaimu.
          Apakah aku jatuh cinta?
          Apakah kita jatuh cinta?
          Sebuah tanya
               Riany
          Ps: ini note aku buat untuk lomba nulis surat balasan untuk Roma (GagasMedia)