Showing posts with label Thought. Show all posts
Showing posts with label Thought. Show all posts

Saturday, 3 August 2019

Seperti Angin


Bukan lagi, kita tidak bisa menyelamatkan orang yang tidak mau diselamatkan, melainkan, kita harus menyelamatkan orang yang mau kita selamatkan.”

Saya teringat salah satu judul buku Tere Liye yaitu ‘Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.” Jujur saya belum baca buku tersebut, jadi secara pribadi memang tidak tahu makna analogi dari judul itu, tidak tahu bagaimana sebuah daun tidak membenci angin meski telah menggugurkannya. Saya hanya sampai pada batas menerka-nerka setelah membaca sinopsisnya di cover belakang. Buku itu bergabung dengan beberapa tumpukan buku lain yang belum sempat dibaca, setelah sekian lama dibeli. Bukan tidak minat, hanya saja… ah sudah lah bukan itu yang mau saya bahas di sini. Saya ingin menguraikan analogi saya sendiri, tentang angin itu.

Di bangku sekolah dulu kita mempelajari satu pemahaman yang mendasar, bahwa angin bertiup dari satu tempat ke tempat lain bukan karena dia pilih-pilih, mana tempat yang bagus untuk disinggahi, atau mana tempat yang nyaman diterpa, atau daerah mana yang perlu ‘dikerjai’, melainkan karena begitulah sifatnya, begitulah tugas Angin itu. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Tidak ada  pertimbangan apakah orang-orang di tempat itu sedang membutuhkannya, apakah orang-orang di sana pernah mengindahkan keberadaanya, atau apakah kedatangannya dinanti-nanti, dia tidak mempedulikan hal-hal tersebut. Angin bertiup, begitulah tugasnya.

Saya pernah memahami satu hal seperti ini, bahwa kita tidak bisa menyelamatkan orang yang tidak mau diselamatkan. Bagaimana bisa kamu mempedulian orang lain yang bahkan tidak peduli dengan dirinya sendiri? Seperti pekerjaan yang hanya menghabiskan waktu dan menguras perasaan, hal yang sangat melelahkan. Karena pada dasarnya seseorang tidak bisa berubah karena orang lain. Untuk berubah menjadi lebih baik seseorang harus memiliki keinginan itu terlebih dahulu. Tidak bisa hanya kamu paksa, atau kamu cekoki ini itu, orang itu bisa berubah menjadi apa yang kamu ingini, sekalipun hal itu baik untuk dirinya. Begitulah yang saya pahami.
Namun suatu hari, pemahaman itu patah dengan sendirinya, disadarkan sebuah kesalahpahaman.

Kepedulian itu… ada baiknya kita memahaminya terlebih dahulu sebelum meng-klaim memilikinya. Karena bisa jadi kita sebelumnya salah paham, seperti saya. Harusnya kita seperti angin, bukan? Tidak peduli akan hal apapun, hanya bertiup kemana harusnya bertiup. Satu hal yang dia pedulikan, tugasnya. Satu hal yang harusnya kita pedulikan, kepedulian itu sendiri. Berlaku lah seperti namanya, mempedulikan. Bukan pilih-pilih orang yang dipeduli mau dipedulikan atau tidak, namun pedulilah, terus-menerus. Karena seperti itu lah yang namanya kepedulian. Bukan lagi, kita tidak bisa menyelamatkan orang yang tidak mau diselamatkan, melainkan kita menyelamatkan orang yang mau kita selamatkan. Perkara orang itu selamat atau tidak, berubah menjadi lebih baik atau tidak, kita tidak bisa menjamin. Sebab bukan tugas kita memberi jaminan, melainkan Yang Maha Pemberi Jaminan. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan kepedulian itu, terus berusaha menyelamatkan orang yang kita pedulikan, sampai memperoleh hasil terbaik—wujud dari sebuah kepedulian itu.

Jangan berhenti berusaha, karena seperti itulah usaha.
Jangan salah paham kepada Angin, karena begitulah Angin. Jangan mengabaikan kepedulian, agar kamu tidak salah paham.

Andrianyuni
(Pekanbaru, 27072019)

Pagi Ini


Pagi ini, lagi-lagi saya tertanya mengapa rasa kecewa itu masih bergelayut di hati dan tak kunjung pergi. Sudah hampir dua tahun, bukan? Tidakkah cukup untuk mengeringkan luka selama itu? Harusnya cukup. Jauh sebelum-sebelum hari ini, harusnya cukup. Di beberapa waktu yang lalu, sempat terpikir bahwa luka ini sudah kering, bahwa saya telah mendapati penerimaan yang benar itu, bahwa waktu akhirnya menyembuhkan, atas semua yang telah terjadi. Namun kenyataan mementahkan anggapan itu. Entah bagaimana luka ini, menjadi jenis luka yang tak pernah bisa benar-benar kering. Tidak akan bisa. Jadi, apa saya akan menjadi pesakitan selamanya? Apa saya harus menghabiskan jatah waktu saya di dunia ini dengan membawa beban itu kemana-mana? Saya tidak yakin, saya sanggup.

Pagi ini, lagi-lagi saya melemparkan pertanyaan pada diri sendiri, apa yang harus kamu lakukan, Yuni? Mengapa kamu selalu begini? Apa yang menyebabkan luka ini selau kembali melukaimu? Tak bisakah kamu merelakannya pergi? Tak bisakah kamu menenangkan hati yang marah entah sudah berapa lama itu? Ini melelahkan, kamu tahu, kan? Yuni, apa kamu baik-baik saja?

Lalu di suatu pagi, teringat satu ceramah seorang Ustad yang menceritakan kisah turunnya surat ad-dhuha.
“(1) Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), (2) dan demi malam apabila telah sunyi, (3) Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu, (4) dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan. (5) Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas. (6) Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu), (7) dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk, (8) dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. (9) Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. (10) Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya). (11) Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).”
Saya akhirnya paham, bahwa sebelum-sebelum hari ini, saya salah paham.

Memang benar, bahwa luka ini adalah jenis luka yang tidak akan pernah sembuh, bahwa beban yang menyertainya akan saya bawa sepanjang sisa hidup nanti. Sebab rasa sakit, sedih, kecewa, penyesalan, dan putus asa terhadap diri sendiri itu pada akhirnya memiliki sebuah tempat tersendiri dan menjadi bagian dari sebuah keutuhan. ‘Mereka’ bergumal bersama waktu menjadi sesuatu yang mau tidak mau harus saya akui keberadaannya. Kamu tidak bisa membuang bagian dari dirimu sendiri, bukan? Sebab ‘mereka’ adalah sebuah pembuktian eksistensi. Apa yang biasa kita sebut sejarah. Oleh sebab itu, luka ini, alih-alih dibuang, harusnya kamu merawatnya.

Tak perlu lagi pertanyaan-pertanyaan—yang saat sepi menjelang dan ia pun datang—itu dilontarkan. Sudahilah menyalahkan diri sendiri atas kesalahan di masa lalu. Jangan lagi menangisi diri sendiri. Hadapilah rasa sakit, berilah pemahaman pada kesedihan, hibur hati yang kecewa, tenangkan segala penyesalan yang ada, dan setiap putus asa datang kalahkan dengan semangat yang membara. Luka-luka itu, rawatlah mereka. Dengan kesabaran, kelembutan, keikhlasan, dan kegigihan,  rawatlah mereka dengan benar. Kamu tidak bisa menjadi kamu yang lebih baik tanpa mereka.

Luka-luka ini, bisa jadi masa perawatannya sepanjang hidup. Meski sudah dirawat, tidak ada jaminan mereka tidak akan menyerangmu lagi. Karena ini bukan perihal menjinakkan, melainkan suatu proses pembelajaran dari sebuah penerimaan yang benar. Dan waktu terus berjalan. Maka berhati-hatilah, sebab terkadang, waktu lebih kenal baik dengan luka ketimbang kita.

(Pekanbaru, 21072019)
—Andrianyuni

Thursday, 13 June 2019

Memulai Kembali


Tidak mudah, tentu saja. Melakukan ‘memulai’ tidak semudah mengatakannya. Seperti saat ini. Tidak pernah saya hitung berapa kali tulisan semacam ini sudah saya tulis. Terlalu sering. Memulai, lalu berhenti. Memulai lagi, lalu berhenti lagi. Berkali-kali. Dan topiknya selalu sama: tidak tahu harus memulai dengan apa.

Saya bukan penulis handal, bukan juga penulis menawan. Saya: biasa-biasa saja. Mungkin karena itu sampai sekarang saya masih biasa-biasa saja. Tapi, dengan standar yang biasa-biasa itu, (entah dengan bagaimana) menulis seperti selalu membujuk saya kembali. Meski ‘kembali’ tersebut hanya terwujud dengan menulis beberapa paragraph, lalu menghilang lagi. ‘Dia’ selalu datang kembali, membujuk sekali lagi, sekali lagi. Membuat saya merasa sedikit berharga di dalam siklus itu, walau tanpa gelar handal dan menawan.

Entah (lagi-lagi) harus berapa kali lagi mengulang, ini akan tetap seperti ini. Setidaknya saya tahu kenapa. Karena sejak awal, di dalam hati saya, menulis sama dengan pulang. Tidak peduli seberapa jauh saya melangkah, seberapa banyak lelah ditempah, saya akan selalu butuh pulang. Untuk beristirahat, untuk menenangkan, hingga nanti bisa memulai kembali sebuah perjalanan.


(Pekanbaru, 11062019)

Thursday, 15 March 2018

Kisah Pembeli dan Penjual

Di suatu sudut belahan dunia, sebuah peradaban antah-berantah, terik kebingungan pekat sekali menyingsing hari itu. Menyusup ke dalam pori-pori sosok siapa saja yang tidak kuat tabirnya. Dua sosok tertantang, tegak tergugu saling berlomba mengurung tanya di kepala. Tidak tahan dengan lompatan-lompatan pertanyaan yang memasuki otaknya, satu suara memilih kalah, memecah suasana. Suara tipikal antah-berantah, bergaung membelah terik menjadi dua.

“Apa yang kau jual?”

Dia dipanggil si Pembeli. Kini tengah berdiri di depan sebuah toko segi empat nan sempit. Sempit sekali, pikirnya. Sampai-sampai dia merasa ruang itu tidak cukup pantas untuk dijadikan toko, membuatnya begitu sungkan untuk masuk ke dalam—takut akan kalah cepat merebut oksigen dengan sosok lain. Sejenak dia hanya bungkam, lalu mulai membunuh waktu dengan bergumam, mengerjap, lalu bergumam lagi. Terasa sedikit lama, namun dia tahu bagaimana cara membunuh waktu. Yang dia tidak tahu adalah cara membunuh rasa ingin tahunya pada toko itu. Napasnya ditarik dan dihempas, mencari spekulasi paling logis mengapa dia harus berdiri di sana.

Satu-satunya sosok di dalam toko segi empat nan sempit itu maju beberapa langkah, sekarang tepat berdiri di mulut toko, di depan si Pembeli. Dia dipanggil si Penjual. Berdekap tangan dia menjawab, tanpa merasa perlu mengeluarkan suara—meski ada pertanyaan yang huru-hara di dalam otaknya—sambil mengedikkan kepala hanya melirik kepada plang yang berada di dinding atas toko. Dengan tersenyum sinis yang tipis, selagi diam dia mengolok sosok di depannya semacam bodoh karena tidak bisa baca.

TOKO RASA SAKIT

Wednesday, 22 June 2016

Dialog Kecewa #Radiasi

Kau tahu siapa sebenarnya Kecewa? Di mana rumahnya? Anaknya siapa? Tingkahnya bagaimana? Kau tahu? Karena jika kau mengetahuinya, beri tahu aku. Ceritakan padaku bagaimana Kecewa itu, bagaimana dia... tidak tidak. Kau tidak perlu melakukannya. Lupakan semua pertanyaanku tadi! Kau hanya perlu mengatakan di mana Kecewa sekarang. Beri tahu aku! Biar aku sendiri yang menemuinya, bertanya setiap detail yang ingin kutahu. Aku ingin mendengar dia sendiri yang mengatakan, menjawab semua rasa penasaran yang sudah terlanjur pengap. Jadi, apa kau tahu? Rasa-rasanya aku sudah tidak sabar untuk mendengar setiap penggal penjelasan darinya, untuk mendengar bagaimana dia masih bisa hidup seperti tanpa harus membenci atau dibenci. Bagaimana bisa? Setelah itu, mungkin aku tidak bisa menahan untuk tidak langsung menghajarnya.


Bisa jadi kau bertanya-tanya, mengapa aku sampai seperti ini: memburu Kecewa. Sebut saja ini bagian dari antisipasiku. Sebelum dia yang menyerang, harus aku yang menyerangnya duluan. Ya, tentu saja dia adalah si Kecewa itu. Ada yang datang padaku, seperti kabar burung yang mengatakan bahwa akan ada penyerangan dalam waktu dekat ini. Penyerangan yang tidak diduga-duga, yang pelakunya pun sulit diterka. Sudah mirip dengan penyerangan bom yang terjadi belakangan ini. Namun ada satu nama tercuat setelahnya, sudah didakwa sebagai pelaku utama: Kecewa. Oknum disebut-sebut memiliki keahlian membunuh, membunuh apa saja yang sanggup dia bunuh. Sebut saja Kepercayaan, yang paling kerap dijadikan korban. Mungkin, sekarang pertanyaanmu sudah berubah menjadi: apakah aku takut? Tidak. Tentu saja tidak. Eem, baiklah, sedikit.

Saturday, 28 May 2016

Cemal-Cemil

Hai! Akhirnya saya buat postingan kedua di bulan ini (payah, kan?), dimana nyaris hanya membuat satu postingan mengingat ini sudah hari ke-28. Omong-omong, saya punya beberapa alasan mengapa hampir lima bulan terakhir saya tidak menulis apa-apa di blog ini. Oke, mungkin yang disebut alasan dalam konteks ini lebih untuk mengurangi rasa bersalah saya, tapi yah, saya merasa ini cukup untuk menjadi alasan. Beberapa alasan tersebut bisa saya rangkum dalam satu kata: sibuk. Oh, that word really doesn’t fit to me, ‘cause in fact, I’m a jobless. Biar pengangguran begini, bukan berarti saya tidak punya kegiatan yang bisa membuat saya sibuk. Selepas mendapat gelar Sarjana, sambil mencari pekerjaan saya mempunyai side job di bidang olah data menggunakan SPSS. Setelah beberapa waktu saya tidak kunjung mendapat kerja, saya kembali ke bawah ketiak orangtua dan meninggalkan kota kelahiran tercinta. Tinggal bersama orangtua membuat saya otomatis harus membantu usaha orangtua, dan hal ini lah yang memiliki andil besar dalam menyita waktu saya. Well, sampai saat ini status saya masih sama—pengangguran sok sibuk, namun saya ingin kembali nge-blog. Barang dua sampai tiga postingan perminggu sudah sesuatu sepertinya.
Baiklah, sudah cukup mukadimahnya.

Wednesday, 16 December 2015

Terlintas...

Terkadang, saat kau terlalu lama meninggalkan rumah, tidak dapat menemukan alasan untuk kembali, bisa jadi kau akan sulit mengingat jalan ke sana. Jalan pulangmu sendiri. Mulai bertanya-tanya, apakah selama ini aku menuju rumah yang seharusnya? Benarkah rumah tersebut yang telah menggenapkan rasa pulang? Karena jika demikian, mengapa aku masih bisa tersesat?

Kau tahu, saat kita merasa sedang dihadapkan pada beberapa pilihan, pada dasarnya hanya ada satu pilihan—yang artinya itu bukan pilihan melainkan keyakinan. Lalu dari mana berasal pilihan satu, dua, dan seterusnya? Pilihan-pilihan tersebut berasal dari keraguan—sebab tidak ada yang namanya pilihan, maka sebut itu keraguan satu, dua, dan seterusnya. Maka jelas sudah selama ini, tidak ada yang namanya pilihan. Yang ada hanya satu keyakinan yang diganggu beberapa keraguaan. Jangan sampai bingung.

(Pekanbaru, 16122015)

Monday, 7 September 2015

Ketika Melakukan Kesalahan Membuatmu Merasa Lebih Baik

Anggap saja ini semacam bertukar pemahaman, tentang satu hal yang sederhana. Bisa jadi ada yang berpikir sama, atau bisa jadi di pemikiran lain ada pemahaman yang lebih bijaksana, lebih dapat diterima, lebih menggugah, dan sejenis lainnya. Berikut ilustrasinya:

Ada suatu masa, dimana saat kamu melakukan satu kesalahan yang orang-orang biasa lakukan, dan itu untuk yang pertama kalinya, tapi malah kamu satu-satunya orang yang mendapat ganjaran. Sama sekali tidak menyenangkankan, bukan? Rasanya... entahlah. Mau marah, tapi tidak tahu kepada siapa. Memang punya hak apa? Bagi yang pernah mengalaminya, mungkin pada saat itu kamu merasa sedang sial, atau sangat sial, semacam sedang dijadikan tumbal. Lalu pertanyaan itu pun mencuat, kenapa harus aku? Kenapa??! Sebab tidak ada yang mampu menjawab, beberapa saat kemudian akan kamu habiskan dengan menggalau, mengeluh, mengadu, menggerutu, atau bahkan mengutuk. Rentetan ungkapan penyesalan akan keluar, memenuhi pikiran. Andai begini... andai begitu... harusnya si ini... harusnya si itu...

Wednesday, 2 September 2015

Paradoks

Ketika kau menyadari, bahwa makna lain dari pertemuan itu ternyata perpisahan, bisa jadi rasanya seperti mati rasa. Tidak tahu harus bagaimana, atau lebih tepatnya, tidak tahu harus merasakan apa. Pertemuan rasa perpisahan, mungkin seperti itu frasanya. Layaknya sedang mengecap gula, tapi malah pahit yang sampai di lidah. Menghadirkan kebahagiaan akan membuatmu seperti sedang mengadakan pesta perpisahan. Mengharapkan pilihan akan berubah menjadi tiket pulang menuju kebuntuan. Sekadar menguraikan sisa-sisa do’a semalam. Dan, pada akhirnya, kepasrahan lah yang memperoleh singgasana kehidupan. Mampu menempatkanmu pada takhta pemahaman yang paling rasional, bahwa sejatinya pertemuan dan perpisahan senantiasa duduk berdampingan. Karena, ketika kau siap untuk bertemu, sama artinya kau juga siap untuk berpisah.

(Pekanbaru, 02092015)

Monday, 31 August 2015

Euforia #6

Euforia kembali. Kini dengan sekelumit perasaan yang tak kunjung pergi. Masih dengan perpaduan antara mimpi dan misteri, yang seakan telah bersahabat sejak rasa ini terpatri, yang belakangan membuatmu ingin lari. Begitu, kah? Namun, anehnya, kau tak pernah benar-benar sanggup untuk mengingkarinya. Tak pernah benar-benar ingin meninggalkannya. Hingga tanya-tanya itu terunggah, menuntutmu menyerah. Adakah mimpi terhapus oleh pagi? Atau, bisakah misteri terpecahkan oleh sunyi? Sedikit saja. Agar ilusi tak sempat meranumkan hati, dan pesona tak sempat menguasai peri. Layaknya harap-harap yang terulang. Sayangnya, seperti biasa, hanya ada sautan oleh diam yang bergema. Bukan penjelasan sebagaimana mestinya. Meski kali ini hadir marah yang menyurut lelah, nyatanya kau tetap saja rela—menyisipkan resah yang percaya, entah akan apa. Mungkin akan suatu masa, atau malah akan jejak yang tak jua bernama. Tidakkah kau merasa ini saatnya untuk mengatakan ‘sudah’? Baiklah, terserah. Jika kau bersedia, tunggu saja. Sampai kau temukan makna sekelumit rasa itu sesungguhnya, dan menyadari, bahwa pada akhirnya euforia hanya akan membuatmu menjadi penerjemah yang salah.


(Pekabaru, 31082015)

Sunday, 23 August 2015

Belakangan...

Belakangan, langit tidak memberikan efek apa-apa. Seperti telah kehilangan maknanya. Tak ada lagi yang menjadi benar-benar berarti, atau yang terlalu dirindukan, semacam yang mampu menghibur, atau malah yang kadang dibenci. Entah apa yang terjadi pada makna-makna itu. Pergi meninggalkan, atau hilang ditinggalkan. Keraguan tidak berani menjawab, sedang hati tak ingin lagi bermain isyarat—seakan semuanya sudah cukup sarat. Langit, haruskah kita mulai berkirim surat?

Saturday, 15 August 2015

BEKAL

Hei, apa ini? Bekal?
Pernahkah kalian berpikir bahwa saat ini kita sedang mempersiapkan suatu bekal? Atau beberapa bekal? Yep, bekal buat masa yang akan datang. Semacam amunisi, sebagai persiapan untuk hal yang sudah direncanakan. Sesaat tadi saya terpikir tentang “bekal” itu, entahlah, terlintas begitu saja. Jika membicarakan tentang bekal untuk masa depan, hal yang muncul dalam pikiran saya adalah salah satu ‘tahap pengemasan’ bekal yang tengah saya jalani, yaitu penyusunan tugas akhir (skripsi) untuk gelar S1 saya yang tak kunjung di-acc (). Yah, mungkin waktu terbaik untuk itu belum tiba (semoga segera). Namun, apa hanya satu bekal itu yang sedang saya persiapkan? Tidakkah beberapa bekal juga bisa? Maka pertanyaan-pertanyaan lain muncul.

Beberapa bekal, toh, tidak terdengar buruk, bukan? Kata ‘beberapa’ mengimplikasikan bahwa kita butuh menambahkan amunisi-amunisi yang lebih banyak dari sebelumnya. Niat yang hebat harus diikuti dengan usaha yang kuat. Kira-kira seperti itu. Untuk hal-hal yang lebih besar, tentu perlu penyokong yang lebih besar pula. Dan setiap rencana yang dibuat tentunya akan membuahkan hasil, terlepas itu berhasil atau tidak. Toh, pada dasarnya kita hanya bisa berencana, keputusan akhir tetap milik sang Pencipta. Tapi, percaya satu hal, hasil tidak pernah mengkhianati proses. Untuk itu kita harus tetap berusaha dan berdo’a.

Sunday, 7 June 2015

Pertemuan untuk Perpisahan



Ah, sederhana sekali kehidupan dunia ini, bukan? Akhir ceritanya sudah bisa kita tebak. Tanpa perlu mengira-ngira. Ujung itu sudah disiapkan dari awal. Bagai alur yang terkenal, bagian yang selalu kita hapal. Kekal.

Begitu juga pertemuan dengan kalian. Belakangan jadi kepikiran tentang akhir dari cerita yang sudah dihapal itu. Nantinya kita juga akan seperti itu, bukan? Menemukan suatu waktu dimana perpisahan merupakan pijakan yang harus kita lalui. Menjadi tiket untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya, yang lebih... entahlah. Tidak ada yang benar-benar tahu, selain sang Pembuat Skenario.

Friday, 5 June 2015

Tanda



Pernahkah kau merasa bisa gila karena sebuah tanda?

Seperti tidak keruan. Dikukung rasa yang dapat membawamu ke pintu-pintu yang serba salah. Serba takut, serba susah. Pekerjaan menerka-nerka bukan perkara gampang, sebab itu hati merasa perlu—sangat perlu—meraba waktu yang lalu, waktu sekarang, lalu mencoba melompat-lompat untuk mengintip waktu di depan. Layaknya tengah mencari pegangan untuk membuat suatu keputusan. Sekali lagi, bukan perkara gampang, kan? Ini semua karena tanda.

Tidak untuk dilebih-lebihkan. Tapi ‘menjadi gila’, bisa jadi pemikiranmu yang terakhir saat kau tengah terjebak dalam permainan ‘menebak tanda’. Rasanya sungguh menyebalkan, kadang-kadang keterlaluan. Saat salah satu tebakan mengambang, mulai merangkai keping demi keping cuplikan suatu masa yang kau inginkan, maka tebakan lain akan turut keluar, menyusul guna mematahkan hingga semua berantakan. Atau, saat kau ingin memastikan bahwa ada satu jalan yang mungkin bisa membawamu pada sebuah kesimpulan, maka buntu siap menghadangmu, demi turut memastikan kau akan tetap berdiri di sana tanpa kemana-mana. Di persimpangan kebingungan. Tanda juga dapat melakukannya.

Ada Saat



Ada saat dimana kamu tidak ingin meninggalkan suatu masa, dan ada saat dimana kamu ingin sekali meninggalkan suatu masa. Biasanya saat itu datang bersamaan.

(Pekanbaru, 05062015)

Ps: Anggap ini penangguhan untuk kemarin yang terlewatkan (#NulisRandom2015 Day 4).

Friday, 22 May 2015

Hari-hari yang Hilang



Halo!
Ah, sapaan itu terdengar sudah basi, bukan? Iya, seperti  hari-hari di belakang. Hari di mana seperti ada lubang waktu yang sudah tertinggal. Sekilas melegakan, selebihnya meresahkan. Sebab jejaknya, tidak memberikan petunjuk apa-apa. Dan bayangan hanya menggiring kepada kerinduan. Ah, terdengar semakin basi, bukan? Iya, seperti kalimat-kalimat di belakang.

Langkah demi langkah jarum itu dibiarkan pergi, mengikuti jalur yang sudah dihapalnya setiap hari. Sibuk kesana-kemari seperti di stasiun kereta api. Bisa jadi. Di stasiun kereta api pun, langkah demi langkah dibiarkan pergi, menempuh jalur yang dipilihnya sendiri. Melupakan mimpinya tadi pagi. Setiap hal yang pergi, selalu meninggalkan lain hal di suatu sisi. Walau sisi itu hanya sebatas debu yang berlari-lari. Apa debu tidak ingin ditinggal angin pergi? Apa yang terdiam di stasiun kereta api—yang menatap kosong pada debu yang berlari—ingin turut mengejar kereta api? Juga ingin mengubah waktu di dalam hari? Mungkin saja. Mungkin saja debu telah lelah dipijaki. Dan mungkin saja, yang sudah pergi tidak mungkin kembali lagi. Sebab itu yang ditinggal takut menemui hari setelah ini.

Thursday, 2 April 2015

Euforia #5

Dan terjadi lagi. Seperti lagu kesukaan yang selalu ingin kau ulang. Seperti rumah paling nyaman yang selalu membuatmu ingin pulang. Berkali-kali, kemudian kembali lagi. Tidak ada yang membuatmu merasa ada yang salah, ataupun merasa ada hal yang harus dibenarkan. Bukan. Bukan tentang lagu kesukaan ataupun rumah paling nyaman. Keduanya terlalu lemah untuk diminta pertanggungjawaban. Apalagi hanya karena dijadikan perumpamaan. Hal ini lebih tentang yang terjadi, yang kau anggap seperti dua tadi. Dan yang terjadi di sini adalah, kau membuat percikan yang tercipta pada ruang tak bertakhta itu, seakan memiliki kemampuan untuk menjadi penawar mati rasa. Padamu, istilah ‘gila’ bisa jadi tidak akan mempan, dan waktu yang saling kejar pun mungkin hanya akan mental.
Lalu, kau sebut apa yang tadi itu? Pujangga makna? Ha, yang benar saja! Tidakkah kau merasa sedikit keterlaluan? Begini, biar kuperbaiki, harusnya kau menamainya... imaji tak masuk akal. Bagaimana? Lebih pantas, bukan? Tapi, tunggu! Sejak kapan imaji menjadi lebih sering masuk akal? Ah!

Friday, 13 March 2015

Ceritalah, Pokoknya



Saya ingin cerita. Cerita apa, ya? Tidak tahu juga, yang penting ingin cerita. Mungkin tentang kemarin. Saat saya menemukan bahwa hakikinya manusia hanya bisa berencana, berspekulasi bahwa ini yang terbaik, kalau seharusnya begitu. Kira-kira seperti itu. Namun, pada akhirnya, Yang Maha Tahu lah yang menentukan. Apa yang terbaik, seperti apa seharusnya, dan bagaimana rencana itu sebaiknya berjalan. Hanya Dia yang benar-benar tahu. Mau hasilnya happy end atau sad end, penerimaan yang ikhlas lah menjadi solusinya. Tidak perlu merasa kecewa atau marah, toh, itu tidak berguna. Terkadang sulit memang, tidak semudah saat diucapkan, saya sendiri mengakuinya. Tapi, saya tidak yakin dengan solusi lain. Untuk itu, kita hanya perlu terbiasa, agar menjadi lebih dewasa. Hingga nanti bisa menenangkan hati, lalu memenangkan hati. Mungkin saja begitu adanya.

Wednesday, 11 March 2015

Dimensi Berbeda


Saya tidak yakin, apa memang seperti ini adanya. Kehadiran dimensi berbeda, saya tidak pernah benar-benar merencanakannya. Siapa juga yang mau merencanakan hal seperti ini? Datang begitu saja, tanpa bisa dicegah. Mengacaukan, sekaligus... ah, entahlah. Dimensi berbeda ini, bergerak liar semaunya. Saya tidak bilang, saya tidak suka. Hal ini terlalu... manis—mungkin—untuk dibenci. Toh, dampak perubahan yang dibawanya tidak benar-benar buruk—at least, saya merasa ada yang menyenangkan darinya. Akan tetapi, saya sedikit khawatir. Sedikit.

Saya masih tidak yakin, apa memang seperti ini seharusnya. Dimensi berbeda, menghadirkan yang tidak hadir. Menyuguhkan fantasi aneh yang bahkan di dunia sebelumnya tidak akan dimengerti. Memberikan sensasi asing yang bahkan di dunia sebelumnya terlalu saru untuk direngkuh. Namun, lebih dari itu semua, dimensi berbeda seakan nyata. Lebih dari sekadar kata yang dirangkai, atau makna yang coba dijelajahi. Ini seperti... sebatas ruang yang hanya untuk dimasuki, lalu dinikmati. Cukup dengan dirasakan, tanpa perlu penjabaran. Dan saya sedikit khawatir. Ya, sepertinya hanya sedikit.

Saturday, 3 January 2015

Di Ruang Tunggu

Apa yang harus dilakukan di Ruang Tunggu?

 Kebanyakan orang benci menunggu, setidakknya begitu yang saya tahu. Seperti, tidak ada yang bisa dilakukan untuk membunuh waktu selain hanya dengan diam. Rela disusupi resah, atau tidak jarang kecewa. Hanya bisa melirik, seakan kaki lumpuh tak bisa berlari. Hanya mampu terpaku, lalu berkali-kali menelan teriakan, “Harus berapa lama lagi?”

Benarkah hanya itu yang bisa dilakukan di Ruang Tunggu?