Showing posts with label Poetry. Show all posts
Showing posts with label Poetry. Show all posts

Thursday, 12 April 2018

Terikat

Kebodohan ini
seperti akan abadi pada ku
Aku tak ingin keluar
tak akan keluar
ini begitu pas
begitu pas dengan egoku
begitu pas dengan amarahku
terikat pada kebusukanku
Maka akan kujaga
baik-baik
agar dia tak lepas
agar dia tidak pergi meninggalkan ku
seperti yang lain


(Pekanbaru, 12042018)

Thursday, 31 August 2017

Jarak

Jarak adalah satu langkah dan beberapa langkah.
Jarak adalah pemisah antara awal dan tujuan.
Jarak adalah pemisah antara kemauan dan kemampuan.
Jarak adalah penghubung yang memisahkan.
Jarak adalah seberapa lama kau berbicara dengan seseorang di telfon.
Jarak adalah jumlah argometer yang siap mengorek kantongmu.
Jarak adalah pemahaman yang tidak kau pahami.
Jarak adalah kerenggangan setelah perkelahian dengan teman.
Jarak adalah punggung yang saling berhadapan.
Jarak adalah seberapa sering kau menyebut nama seseorang.
Jarak adalah jumlah kalimat yang kau ucapkan kepada seseorang.
Jarak adalah cara menamai sebuah hubungan.
Jarak adalah seni melihat sesuatu.
Jarak adalah keinginan yang belum tersampaikan.
Jarak adalah doa yang kau panjatkan.
Jarak adalah batas kerinduan.

(Jakarta, 31082017)

Friday, 11 August 2017

Pagi Ini

Pagi ini,
terlalu pagi untuk dikatakan pagi.

Dengkur di bantal masih terdengar,
masih terkantuk-kantuk.

Mata itu mulai mengerjap-ngerjap,
mencoba memulai perjuanganya untuk hari ini.

Terlalu dini: terkanya
Haruskah aku tidur lagi?

(Jakarta, 11082017)

Wednesday, 9 August 2017

Maaf

Untuk beberapa kata yang muncul, dan hanya dibiarkan menghilang,

untuk beberapa makna yang diabaikan,

untuk setiap pesona yang sempat hadir, namun tidak dijamu dengan baik,

untuk sebuah luka, yang disusul beberapa luka,

untuk setiap deru napas yang sesak, namun tak pernah diberi penawar,

untuk serangkaian tawa tak bermakna,

untuk tangisan tanpa suara,

untuk pengkhianatan ini, yang sudah kulakukan
berkali-kali.

Maaf,
dari hati.


(Jakarta, 09082017)

Wednesday, 16 December 2015

Jika Tidak

Jika tidak, mengapa lintasan kita bersisian
menuju pusara yang sejak kaki-kaki kita pandai berkhianat,
sudah direnungkan
berjalan melewati pagi,
malamnya bertaruh mengecoh mimpi
Apakah ia akan pecah?
Apakah ia akan berai?
Bagaimana kau tahu pecah dan berai adalah beda?
semua hati menunggu,
siapa juga yang tidak menanti-nanti hasil undian keluar.
Jika pecah yang keluar, maka aku lah pemenang
jika berai yang keluar, semua ini akan menjadi melelahkan
karena jika tidak, mengapa lintasan kita bersisian?

Saturday, 6 June 2015

Penakluk Malam


Hiruk-pikuk keluar
menyambut tamunya: sang hitam tak bertuan
banyak cerita santer terdengar: tentang si pendatang
dari mulut ke mulut orang bertukar
dari cicit demi cicit burung yang tidak ada kerjaan
hingga daun di dahan tidak  mau kalah ikutan
entah salah atau benar
dan, gemintang pun mengambang
memikul dendam dan pembelaan
untuk mengusir bagian yang sumbang
maka, selamat bergabung, selamat berjuang.

(Pekanbaru, 06062015)

Ps: #NulisRandom2015 day 6


Monday, 1 June 2015

Timbul-tenggelam



Terkisah suatu rasa, bergerak liar membalut asa. Dalam denting berirama, ia menyebar makna di tepian senja. Geraknya melukiskan tanya, tentang langkah-langkah yang mulai jera. Suaranya membiaskan kita, tentang masa yang merona jengah.

Terkadang, rasa itu tak berdaya, mengepakkan sayapnya menantang cakrawala harapan. Membiarkan hujan dan percikan saling serang. Sebab untaian tak pernah menyuguhkan satu keputusan, menahan atau melepaskan. Bagai simfoni bergaung sendirian.

Tak jarang, rasa itu terlalu dalam, menabung nada yang selalu ingin diulang tanpa sungkan. Menyediakan sekelumit drama lengkap bersama peran. Sebab sandiwara menyiratkan takhta, untuk ruang tak bertiang. Bagai hujan penawar kesunyian.

(Pekanbaru, 01062015)
#NulisRandom2015 Day 1


Saturday, 11 April 2015

Ada yang Ingin Kusampaikan



Ada yang ingin kusampaikan
tentang sekujur nama yang tadi malam,
hilang disembunyikan kegelapan
tak perlu kau takut
suaranya telah kusimpan ke dalam botol
kuselipkan pada saku maling yang tertangkap,
kemarin siang
sekarang ia sedang diarak keliling pasar
menunggu langit memberi hukuman
biarlah!
setidaknya penjual bisa meniduri keadilan.

Kutitip Senja Padamu



Esok aku pergi
menjeput rindu di dermaga waktu
tak usah kau cemburu
relung ini hanya menyisakan satu
tiket pulang tanpa ulang,
yang selalu membawaku ke peraduan.

(Pekanbaru, 05112014)

Thursday, 19 March 2015

Pulang Bersama Lebur

Senja itu, tanya menapak pada satu takdir
berbekal peluh dan getir,
adakah tanah ini sedang menyambut masa?
adakah tempat yang akan senyaman rumah?
Namun tak ada angin yang benar-benar menjawab
menyiratkan tanda agar tak perlu resah
pada malam yang membawa mimpi, juga
pada pagi yang lekas kembali
sebab kisah ini akan segera ditumpah
dengan judul tak terbantah.

Kala hujan itu, kaki-kaki kita mengejar rinai yang basah
mendekapnya bersama nyanyian rumput menderu
seakan syahdu, beralamat rindu
lumpur-lumpur pun berjingkat
menjelaskan hangat pada bercak yang tertambat
yang berharap, agar kenang tak mampu karam
agar jejak mengingatkan pada gelak
yang sudi kita ingat, sampai kisah ini
tamat.

Monday, 9 March 2015

Kita: di Suatu Mimpi



Lalu, tiba-tiba kita memiliki ikatan yang aneh
Diam-diam mengagumi
Hati-hati menata hati
Diam-diam mengirim salam
Hati-hati bertukar pandang

Lalu, tiba-tiba kita saling melempar tanya
Kemana resah ini harus bermuara?
Dimana rindu itu dapat bersua?
Adakah genggaman ini benar-benar menenangkan?
Dapatkah pelukan itu menyimpan kehangatan?

Lalu, tiba-tiba kita jatuh cinta
Bersama mimpi tanpa nyata

(Pekanbaru, 09032015)