Showing posts with label Fiction. Show all posts
Showing posts with label Fiction. Show all posts

Thursday, 15 March 2018

Kisah Pembeli dan Penjual

Di suatu sudut belahan dunia, sebuah peradaban antah-berantah, terik kebingungan pekat sekali menyingsing hari itu. Menyusup ke dalam pori-pori sosok siapa saja yang tidak kuat tabirnya. Dua sosok tertantang, tegak tergugu saling berlomba mengurung tanya di kepala. Tidak tahan dengan lompatan-lompatan pertanyaan yang memasuki otaknya, satu suara memilih kalah, memecah suasana. Suara tipikal antah-berantah, bergaung membelah terik menjadi dua.

“Apa yang kau jual?”

Dia dipanggil si Pembeli. Kini tengah berdiri di depan sebuah toko segi empat nan sempit. Sempit sekali, pikirnya. Sampai-sampai dia merasa ruang itu tidak cukup pantas untuk dijadikan toko, membuatnya begitu sungkan untuk masuk ke dalam—takut akan kalah cepat merebut oksigen dengan sosok lain. Sejenak dia hanya bungkam, lalu mulai membunuh waktu dengan bergumam, mengerjap, lalu bergumam lagi. Terasa sedikit lama, namun dia tahu bagaimana cara membunuh waktu. Yang dia tidak tahu adalah cara membunuh rasa ingin tahunya pada toko itu. Napasnya ditarik dan dihempas, mencari spekulasi paling logis mengapa dia harus berdiri di sana.

Satu-satunya sosok di dalam toko segi empat nan sempit itu maju beberapa langkah, sekarang tepat berdiri di mulut toko, di depan si Pembeli. Dia dipanggil si Penjual. Berdekap tangan dia menjawab, tanpa merasa perlu mengeluarkan suara—meski ada pertanyaan yang huru-hara di dalam otaknya—sambil mengedikkan kepala hanya melirik kepada plang yang berada di dinding atas toko. Dengan tersenyum sinis yang tipis, selagi diam dia mengolok sosok di depannya semacam bodoh karena tidak bisa baca.

TOKO RASA SAKIT

Wednesday, 20 January 2016

Euforia #8

Ini seperti terampas, hilang dan berbekas. Bukan lagi khayal yang berlarut-larut, hanya pembuktian sebagaimana harusnya ia diletakkan. Ada saat dimana kau ingin menoleh ke belakang, membayang, lalu dengan jengah memungut kepingan-kepingan yang dulu pernah sangat kau genggam.  Untuk apa kau melakukannya? Tentu saja untuk mengisi kekosongan yang tidak sepenuhnya bisa kau pahami. ‘Cukup hanya dengan seperti ini’, begitu mantranya, kau rapal setiap hari, layaknya itu adalah jawaban dari pertanyaan saat kau mati nanti. Nyatanya, kalimat itu pun tidak menjawab apa-apa. Tidak menenangkan apa-apa. Kini tiba saatnya waktu goyah, pijakanmu itu... mengkhianati janji yang pernah kalian ikrarkan. Menggenapkan bekas menjadi satu-satunya yang sudi membantumu menyelesaikan tugas paling sulit setelah semua ini: mengembalikan pagi seperti sedia kala. Dan, bagaimana kau melakukannya jika salah satu potongan telah meninggalkan mozaiknya? Kau menyumpahi pertanyaan ini. Sial sekali, bukan? Di saat kau ingin berhenti, malah tidak ada yang benar-benar bisa berhenti. Bahkan untuk sebuah pertanyaan. Kau tahu kenapa? Karena dari awal kisah ini, yang kau temukan adalah euforia. Rasa indah yang pada akhirnya akan kau benci selamanya.

(Pekanbaru, 20012016)

Friday, 4 December 2015

Pigura

Hai.
Aku tidak yakin kapan terakhir kali kau terbujur di sebuah halaman kosong, dimana kau selalu mempunyai tempat. Belakangan kau kehilangan hak, seperti diabaikan untuk dibunuh pelan-pelan. Sekarang kau kembali, mungkin ingin menuntut, atau semacam meminta diberi wewenang yang lebih. Baiklah, kuberi kau wewenang untuk merindu. Adakah kau rindu, Hai? Maaf. Kehilangan bukan rasa yang seharusnya kau miliki. 

Hai, bisa jadi kau bertanya-tanya di mana rangkaian kata itu berdiam selama ini. Bisa jadi kau menerka-nerka adakah tempat yang lebih pantas untuk menyimpan daripada penjaranya: Pigura. Aku mengerti, sebagai pengawal kau adalah yang paling sibuk menyita perhatian, untuk mencari celah agar disulap menjadi ruang. Selama tidak ada itu, kau hanyalah seonggok bungkam, dan bisa-bisa Pigura akan sirna—sesuatu yang selalu kita cemaskan. Kini kau mulai sadar, perjalanan-perjalanan yang lalu menjadikanmu memahami suatu hal: waktu dapat menyihir seseorang menjadi kejam.

Wednesday, 22 April 2015

Kopi Pertama



Sejak kapan aku begini? Menerka-nerka makna kenikmatan pagi. Ah, ya, sejak mendapatimu di sini. Duduk tersenyum menikmati secangkir kopi. Kopi pertamamu hari ini. 

Katamu, ini seperti candu. Menyambut pagi ditemani secangkir kopi. Bagiku, ini hanya tentang kamu. Memandangimu seperti ini di setiap pagi.

Terima kasih, kopi.

(Pekanabru, 22042015)

Monday, 15 December 2014

Tentang Cinta



Keheningan berhasil memecah suasana ruangan, puluhan orang yang ada di dalam bak terkena mantra sihir dari sang MC setelah sesaat tadi memanggil namaku untuk maju ke atas podium. Aku menarik napas dalam-dalam, suasana seperti ini malah lebih menakutkan ketimbang ada yang bertepuk tangan. Tidak ada yang aku siapkan untuk sambutan hari ini, terlebih karena aku tidak pernah membayangkan akan berdiri di atas podium yang dibanggakan oleh orang-orang yang ada di hadapanku sekarang. Tadi, pada saat pembawa acara memanggil namaku untuk kedua kalinya―sebab pada panggilan pertama aku merasa tidak mengenal nama itu, serius―aku tidak yakin tujuanku beranjak dari tempat duduk adalah menuju podium ini. Aku tidak mau mengambil risiko, mungkin saja ada kesalahan. Namun, setelah sentakan dari teman sebelahku dan riuh tepuk tangan yang keterlaluan itu menyadarkan tentang satu kebenaran, aku merasa tidak ada pilihan. Seketika podium ini berubah menjadi bagian yang menegangkan serta… mengharukan.

Aku menatap lurus ke depan, ke segala penjuru yang sedang mewanti-wanti kalau-kalau aku tidak tahu cara memakai microphone yang ada di depan mulutku dengan baik dan benar. Aku maklum, rasa haru membuat aku kehilangan kata-kata lantas tidak bisa langsung bicara. Hari ini merupakan hari paling bersejarah sepanjang hidupku, momen yang harus dikristalkan lalu disimpan dalam brangkas kehidupan. Satu dari tumpukan daftar hari yang aku nantikan. Hari penting. Ada yang membuncah, kuat-kuat aku menahan genangan di mataku agar tidak tumpah, tanggul itu mesti bertahan sampai kalimat sambutan ini keluar. Kini semua mata tertuju padaku, entah mereka berharap aku berubah jadi putri Indonesia, aku juga kurang tahu. Yang jelas, mereka ingin ada yang terdengar dari microphone itu. Hanya saja, fokusku kian pecah.

Aku memandang jauh ke belakang, tepat pada pintu masuk di ujung ruangan. Sudah kuputuskan tidak ada sambutan olehku sebelum jawaban dari daun pintu itu dapat menenangkanku. Aku yakin―entah masih jauh atau sudah dekat―mereka akan datang. Insting cinta jarang sekali gagal.

Friday, 26 September 2014

Risalah Rasa - Chapter 2

Everything Has Changed 

Bagas memandang arloji di tangan kirinya dengan gelisah demi mengakumulasi 22 menit yang sudah melewati waktu yang sudah dijanjikan. Espresso di cangkirnya hanya tersisa ampas hitam saja, ia merasa membutuhkan kafein yang lebih untuk menenangkan dirinya, atau paling tidak untuk membuat Bagas lebih sabar menunggu. Setelah meninggalkan kantor lebih cepat dari yang seharusnya, Bagas terburu-buru menuju De Café, sama sekali tidak berniat datang terlambat. Alhasil ia sampai 10 menit sebelum waktunya, dan sampai sekarang seseorang yang ia tunggu belum juga muncul. Bagas mendorong tubuhnya ke belakang dengan kasar, semakin tidak sabar. 

Saat Bagas baru ingin mengangkat tangan untuk memesan one shot espresso lagi, terdengar bunyi denting dari arah depan café, pintu berbahan kayu jati itu terbuka. Untuk kesekian kalinya Bagas menoleh, kembali ia merasakan pegal yang sudah membebani lehernya dari tadi. Bagas tidak bisa berbuat apa-apa. Setiap mendengar denting pintu itu, ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menoleh ke kiri. Ke arah pintu yang sudah membuat Bagas memerlukan kafein lebih banyak hari ini. Namun untuk yang satu ini, akhirnya ia bisa bernapas lega. Benar-benar lega. Dari sudut ruangan yang luas itu, Bagas  mendapati seraut wajah yang sudah dinantinya sejak tadi, atau bahkan sejak beberapa tahun belakangan. Bagas sudah tidak bisa menghitung. Layaknya ini adalah sebuah penantian panjang dalam hidupnya.

Thursday, 25 September 2014

Risalah Rasa - Chapter 1

Regret

Bagas tidak ingat bagaimana ia bisa sampai duduk di Telaga Senja, tahu-tahu di penghujung sore itu ia sudah di sana, tercenung sambil memandang jauh ujung dunia bersama satu-satunya orang yang ingin segera ia temui saat ini. Bagaimana bisa? Tanyanya tak bicara. Sore itu tampak terlalu tenang untuk dinikmati dengan kesunyian, Bagas mendapati banyak hal yang harus dan akan ia utarakan. Hanya saja, Bagas tidak tahu harus mulai dari mana semua itu.

“Kamu ingat kapan terakhir kali kita ke sini?”

Bagas menoleh, pertanyaan itu yang malah membenturnya duluan, seolah memaksa ia memundurkan ingatannya untuk menemui waktu yang telah lalu. Bagas tidak pernah lupa untuk mengamankan setiap kenangan dari tempat ini. Di Telaga Senja, seonggok kenangan yang memiliki ruangnya sendiri, selalu tersimpan di tempat yang sama dan tidak akan berubah. Begitu yang Bagas yakini. Lalu, jika ia tahu jawabannya, mengapa tenggorokannya tidak kunjung mengeluarkan suara? 

Tuesday, 15 April 2014

Scale of Happiness

Perempuan itu sedang bercerita tentang bagaimana sebuah keindahan dilukiskan dengan kata. Mengagumi Pantai Nusa Dua dari sudut The Bay Bali adalah cara yang paling tepat, tesis-nya. Sebab malam ini sedang berlangsung sebuah drama, penampilan dari deburan ombak yang  saling berkejaran terbawa angin darat dengan alunan musik Bali yang khas sebagai pengiring, pasir putih yang disoroti lampu-lampu temaram dari pohon adalah salah satu tokoh utama. Pemicu suasana megah, begitu katanya. Aku tidak terlalu mengerti bagaimana proses analogi itu bisa terjadi, keahlianku tidak pernah menjangkaunya. Namun, satu hal yang aku tahu. Bagiku perempuan yang sedang berkisah itulah estetika paling nyata di sini, duduk di hadapanku dengan memesona tanpa perlu analogi apapun. Florenza Orlin selalu tampak bersinar tanpa perlu cahaya.

“Jadi, apa misimu membawaku ke sini?” Pertanyaan itu tiba-tiba menodongku, memaksaku untuk menyimpan keterpanaan tadi. Dengan mata yang mengerjap-ngerjap penasaran, Flo menantiku dengan sebuah jawaban. Jawaban yang paling mengejutkan untuknya.

Just have dinner, aren’t we?” Jawabku sekenanya.

“Cuma makan malam, Bay?” Flo seperti tidak percaya, “Kita masih di pasir putih Pirates Bay dan kamu bilang cuma makan malam. Apa nggak terlalu manis?” lanjutnya sedikit berlebihan.

Tuesday, 6 August 2013

Tetangga Baru

Ada yang bilang, cara yang tepat mengabadikan kenangan adalah membekukannya ke dalam sebuah foto. Entahlah, aku tidak terlalu memikirkannya. Yang jelas, aku selalu menyukai saat di mana kita bisa menyimpan potongan kenangan itu menjadi cetak lensa. Kenangan tentang aku dan kamu yang terangkai, lalu berpilin menjadi sebuah rajutan detik yang berharga. Semua.
            Maka di sini aku sekarang, duduk di ujung ranjang yang masih berantakan sambil memandangi satu dari berbagai pigura foto yang berserakan. Mengembalikan ingatan tentang aku dan kamu di kala dulu. Rasanya sudah lama sekali, tapi aku masih bisa mengingatnya. Mengingat setiap waktu yang kita habiskan bersama. Karena bagiku mengingat kisah itu seperti sedang mengulang dua hari yang lalu.
***
            Hup!
            Ketika aku melompat keluar dari bus yang membawaku sampai ke halte itu. Di mana-mana basah, dan halte menjadi salah satu tempat orang-orang mencari perlindungan dari hujan yang sedang turun dengan cukup deras. Aku menyeruak ke dalam halte sambil merapikan seragam putih dongker-ku yang agak berantakan akibat adegan desak-desakan di bus, juga menghindari air hujan yang menerpaku karena terbawa angin. Jarak ke rumah tidak terlalu jauh lagi, untungnya beberapa hari itu aku selalu membawa payung lipat ke sekolah. Antisipasi terhadap musim penghujan.
            Kuperhatikan orang-orang yang sedang berteduh di halte, sebagian besar adalah anak sekolahan. Bangku halte sudah penuh, beberapa dari mereka terpaksa harus berdiri. Dan di sana lah aku menemukanmu, di jejeran orang yang sedang berdiri, masih dengan seragam sekolahmu memandangi hujan dengan tidak senang. Mungkin jadi jengkel disebabkan rasa lapar.
            Aku mengenalmu sebagai tetangga baru. Saat seminggu lalu aku melihat kamu bersama kesibukan yang terjadi di rumah tepat di sebrang rumahku. Dari atas balkon kamar, aku bersorak girang begitu tahu akan mendapat teman baru. Hal-hal seperti itu selalu menyenangkan. Awalnya, kupikir seperti itu. Namun setelah beberapa hari, setelah aku merengek kepada Bunda agar bisa ikut mengunjungi tetangga baru, setelah berkali-kali melongok ke halaman rumahmu, setelah aku bolak-balik bersepeda di depan rumah, nyatanya kita belum juga bisa berteman sampai hari itu. Bahkan belum pernah berkenalan. Kamu yang sepertinya mengacuhkan keberadaanku. Lantas dengan terang-terangan Ibumu menjelaskan bahwa kamu orangnya kurang ramah dan pendiam―jadi maklum saja, saat untuk ketiga kalinya aku ke rumahmu, mengantar nastar buatan Bunda. Jadilah aku menyerah.
            Dan saat itu kamu berdiri beberapa meter di hadapanku, menunggu hujan reda agar bisa segera pulang ke rumah, sedang aku tidak yakin dengan apa yang ingin kulakukan. Setelah menimbang sebentar, pada akhirnya aku mengeluarkan payung lipatku dari tas, lalu melangkah juga menuju pinggir halte, mendekati pijakanmu. Tidak ada yang salah pada sebuah usaha, toh, itu adalah sebentuk bantuan.
            “Kamu… mau pulang?” Sesampai di sampingmu, aku bertanya dengan ragu. Ragu kamu bisa mendengar suaraku, ragu kamu sudi mengindahkanku. Tapi ternyata kamu menoleh juga, lalu memandangku dengan heran. Seperti tidak kenal, lalu tidak mengatakan apa-apa.
            Aku menggigit bibir, mendadak ingin mengurungkan niat mulia itu. Pandangan yang kamu berikan sama sekali tidak bersahabat. “Eemp… aku… tetangga kamu, depan rumah. Aku bawa payung kalau kamu mau pulang bareng…” Sambil memamerkan payung yang kubawa, akhirnya aku berusaha tersenyum ramah, layaknya orang yang sedang memberi tawaran menggiurkan. Namun gagal. Karena nyatanya, aku hanya bisa meringis saat pandanganmu malah jatuh pada sebelah tanganku. Payung lipat dengan warna pink norak yang kubawa.
            Kamu tampak berpikir keras, aku tidak tahu bahwa warna pink adalah petaka. Kembali aku menggigit bibir dengan tanpa sadar menahan napas, takut kamu menolak atau lebih parah. Hanya bisa sejauh ini juga tidak apa-apa, sebenarnya. Aku sekedar menawarkan. Terserah.
            “Boleh…”

Sunday, 14 July 2013

Green Park

Alice membanting pintu di belakangnya dengan sengaja, meninggalkan kedua orang dewasa yang sedang bertengkar itu. Entah apa yang sedang mereka perdebatkan, ia hanya berusaha tidak peduli. Alice benci masalah orang dewasa, membuat ia membayangkan betapa mengerikannya jika nanti hari itu harus menimpanya juga. Menjadi seorang dewasa yang menyebalkan. Umur Alice masih bersekolah, tapi kehidupan sudah memperlakukannya seperti seseorang yang harus memikirkan masalah rumah tangga dan tagihan. Akhir-akhir ini Alice merasa terlalu banyak tahu tentang apa yang terjadi di kamar orangtuanya. Dan, tidak ada hari yang lebih buruk daripada itu.

Remaja itu melangkah memasuki taman komplek rumahnya, tidak akan ada orang dewasa yang saling berteriak di depan banyak anak-anak―setidaknya begitu pikir Alice. Terlihat plang kayu berwarna coklat tua bertuliskan Green Park dari kejauhan. Bagi Alice mendapati plang itu, jauh lebih menenangkan daripada melihat pagar rumahnya. Taman yang terletak di tengah-tengah komplek, di mana terdapat lapangan rumpuh hijau yang luas, pohon-pohon rindang yang mengelilingi, bangku-bangku panjang, wahana bermain, serta beberapa lampu taman. Tempat itu selalu terlihat hidup dengan segala benda mati yang ada di sana.

Alice memilih duduk sendirian di bangku sudut taman, di bawah pohon Trambesi yang teduh. Sebenarnya, sore itu ia tidak ingin terlihat terlalu menyedihkan, namun hanya bangku tersebutlah yang kosong. Tidak ada pilihan lain. Dari sana Alice dapat melihat taman itu sekarang dipenuhi gerombolan anak kecil yang berkejaran, bermain ayunan, jungkat-jungkit, seluncuran, dan lainnya, serta beberapa ibu yang sedang menemani anak mereka. Alice yakin tidak akan menemukan teman di sana. Tidak akan ada anak umur 12 tahun yang mau rebutan ayunan dengan anak-anak yang masih ingusan, tebaknya.

Saturday, 13 July 2013

Untuk Ramadhan Mamak

Aku memperhatikan kedai mungil ini, beberapa tahun lalu bahkan belum terlindung oleh papan-papan tua seperti sekarang. Alhamdulillah, kedai mamak sekarang sudah ada kemajuan. Bahkan sudah diberi nama walau hanya ditulis pada papan kedai menggunakan cat, Warung Jadi. Sebuah do’a―semoga warung mamak menjadi seperti yang diharapkan―begitu definisi mamak. Dua tahun lalu, saat keluargaku baru pindah di komplek ini, Mamak membuka kedai kecil-kecilan di depan rumah kontrakan kami. Mamak berjualan sembako, kedainya sederhana dan tidak terlalu banyak barang yang dijual. Kedai mamak hanya berupa rak yang disusun di luar sehingga apabila malam tiba dan kedai akan ditutup, seluruh barang harus diangkut lagi ke dalam rumah. Kadang ada barang yang rusak karena sering dipindahkan. Syukur sekarang tidak seperti itu lagi.
            Langit semakin pudar, menyiapkan sore yang akan segera pulang. Aku duduk sendiri di kursi plastik yang sudah terkelupas di mana-mana, tempat dudukan untuk aku, adik-adikku, atau mamak berjaga kedai. Jalanan komplek sepi, hanya ada anak-anak yang sedang bermain atau pulang mengaji halulalang sesekali. Kadang mereka lewat sambil melirik jajanan yang tergantung di kedai, seperti tergiur, namun memutuskan tidak membelinya. Mungkin uang mereka sudah habis untuk jajan di tempat mengaji, atau mereka lebih memilih membeli gorengan di ujung gang komplek.
            Baru dua minggu aku di kampung ini, pasca liburan panjang semester genap. Tahun ini aku tidak mengambil semester pendek, jadi liburan kali ini bisa menjadi sangat puas atau malah kebosanan. Aku menyeruput minuman gelas kemasan rasa jeruk di tanganku, masih menikmati sore yang terasa lebih hening dan berbeda. Tentu saja berbeda dengan suasana sore di kota tempat aku berkuliah. Dari arah jalan komplek sayup-sayup terdengar percakapan dua orang ibu-ibu, kelamaan makin jelas namun aku tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan. Ibu-ibu itu berbicara memakai bahasa daerah dan aku tidak begitu menguasainya. Mereka hanya saling bercerita, namun terdengar seperti sedang bertengkar karena suara yang begitu mengelegar. Aku tersenyum simpul, begitu lah orang Batak.

Friday, 5 April 2013

The Reason



Karena kita berbeda
Berdiri di tepian jurang nestapa
Karena kita terus bertanya
Di mana seharusnya ada asa?
Karena kita saling jatuh cinta
Dan semua seakan tak berdaya
***
          Rifky memandangi pinggiran cangkir capucinno-nya yang baru datang sebentar, lalu mendesah pelan. Aroma pekat minuman itu terkuar dari asap yang mengepul-ngepul ke udara, sejenak seperti menyita perhatiannya. Disentuhnya  bibir cangkir itu tampak enggan untuk segera meminumnya. The Cafe terlihat lengang sore itu, meninggalkan kesan nyaman yang terpendam. Dengan pandangan kosong Rifky mendapati pikirannya sedang melanglang buana, terdampar pada pembicaraan dengan seseorang tadi malam.
          “Ky?” Rifky terjaga dari lamunannya saat jari-jari seorang gadis menyentuh jemarinya. Ia baru sadar panggilan tersebut datang bukan dari visualisasi pikirannya itu. Ditatapnya gadis yang duduk di depannya, Viola. Wajah Viola tersenyum, namun matanya terlihat agak cemas. Rifky menyadari kesalahannya. Diliriknya capucinno yang belum diteguk setetes pun, mencari tahu apakah asap masih mengepul-ngepul dari sana. Uap itu terlihat mulai samar. Jadi, sudah berapa lama ia melamun sebenarnya?
          “Kok menung? Mau cerita?” Viola akhirnya bertanya, mimik wajahnya sekilas terbaca. Rifky terdiam sesaat, jari lentik itu sudah tidak terasa lagi. Rifky mencari kata-kata yang pas untuk memulai kata, tapi tidak menemukannya juga. Ia memilih menyeruput capucinno­-nya sebelum benar-benar dingin seperti jalan otaknya.
          Gimana siaran kamu tadi?” Rifky mengalihkan pembicaraan, ia lebih suka mendengar Viola yang bercerita daripada mengeluarkan ceritanya sendiri.
          Viola mengerjap beberapa kali, menyadari semuanya. Ia memilih lebih dulu memainkan sedotan sebelum meminum strawberry float-nya barang sekejap. Rifky mengawasi itu semua, gerakan-gerakan kecil Viola yang ia rekam dalam ingatannya. Bibir  Viola baru terbuka, namun matanya seakan sudah bercerita.
          Unexpectable! Kamu tahu Mita, kan? Itu... yang biasa nyiar bareng aku. Tadi dia enggak masuk, enggak tahu tuh kenapa. Yang bikin kesel Mita enggak kasih kabar ke aku atau pun yang lain kalau dia bakal enggak masuk. Kan, jadi ribet… Orang-orang di kantor sampai kelimpungan nyari ganti dadakan, mana waktunya udah mepet. Darma yang biasa nge-cover-in acara masih sakit...
          “Kebetulan aja sih ada Selly. Selly itu anak baru yang tugasnya bawain siaran acara siap aku, terpaksa narik dia, deh... Yah, not bad sih, cuma rada canggung gitu tadi. Biasa lah anak baru…” Viola terdiam sebentar menyadari ia sudah terlalu panjang berbicara dan ia butuh untuk menarik napas sebentar. “Semoga pendengar enggak kecewa aja, deh....” Lanjutnya, hal yang ia khawatirkan adalah para pendengar sejatinya tidak merasa terhibur olehnya.
          “Kan baru sekali ini, Vi. Pendengar kamu enggak bakal kecewa, lah... bahkan mungkin mereka enggak sadar kalau ada yang beda. Kamu santai aja...”
          Viola selalu bersedia kalau diminta bercerita, mungkin karena itu ia bekerja di salah satu kantor Radio swasta. Viola sangat mencintai pekerjaannya, ia pernah mengatakan ingin terus menjadi penyiar sampai semua orang sudah bosan untuk mendengarnya lagi. Kata-kata yang keluar dari bibir Viola nyaris seperti mengalir, saat berbicara semua gerakan tubuh Viola seakan ikut berkisah. Rifky menyukai hal itu, menyukai semua tentang Viola.
          Rifky hanya bergumam beberapa kali, masih menikmati jernihnya suara Viola yang terus terdengar. Rifky tahu, ia tidak akan pernah bosan untuk menjadi pendengar setia gadis itu, pemerhati gadis yang ia kenal empat tahun lalu tersebut. Sampai kapan pun. Dan dalam diam Rifky berharap satu hal, dapat mendengar suara gadis itu di sepanjang hidupnya nanti.
          “Oh, iya... aku udah kasih tahu kamu belum, kalau tahun baru ini aku bakal ngerayain di Malang bareng keluarga di sana?”
          Tuh, barusan kamu kasih tahu...”
          Viola kontan nyengir konyol karena keseringan lupa. “Kamu enggak pa-pa kan, aku tinggal sendiri? Hehe...”
          Hmm... Gimana, yaaa? Mungkin kalau ada cewek yang nemenim sih, enggak masalah...”
          “Mama kamu? Boleh aja, kok...” Viola memeletkan lidah, Rifky terkekeh mengulum tawa. Suasana seperti ini yang biasanya membuat mereka tenang. Yang mampu membunuh waktu yang tersisa. Meyakinkan keduanya bahwa masih ada alasan untuk bersama.
          Rifky sudah hampir melupakan beban pikiran yang tadi ia bawa ke Cafe, sampai suara Viola selanjutnya mengubah duduknya.
“Ky... kamu yakin enggak mau cerita apa-apa sebelum aku pergi ke Malang? Nanti masalahnya makin larut, lho… Kita kan, udah pernah janji bakal menyelesaikan masalah sama-sama...” Viola tidak tahu sejak kapan ia merasa segala beban pemuda itu juga menjadi bebannya.
          Rifky terduduk resah di kursinya, mengerti pada akhirnya ini akan tiba. Mengungkapkan satu masalah yang sebenarnya sudah ada bersama kebersamaan mereka. Seperti sebuah lubang yang dapat membuat mereka jatuh kapan saja. Rifky menumpukkan kedua siku tangannya di meja, memuntahkan keputusannya.
“Tadi malam... Mama nanyain tentang calon pendamping hidup aku lagi, Vi...” Untuk sepatah kalimat itu ternyata Rifky kembali kehilangan kata, ia yakin tidak benar-benar bisa menyampaikannya kepada gadis di hadapannya sekarang. Melukai gadis itu… lagi.
          Kalimat Rifky layaknya sepotong mantra, menyihir keduanya menjadi saling tidak bersuara. Rifky dan Viola membiarkan udara hampa yang mengisi sebentar, membiarkan hanya senyap yang terkuar. Keduanya menyiapkan.
          Viola masih menunggu Rifky mengeluarkan penjelasan, hatinya sebenarnya juga tidak tenang. Ada sedikit sesal mengapa tadi ia harus mendesak Rifky. Ia tahu penjelasan itu mungkin akan terdengar menyesakkan. Pahit. Dan itu selalu membuatnya takut. Viola terhenyak, sepertinya pemuda itu memilih kembali menelan cerita.
Masih sunyi, sampai sebuah dentingan suara lonceng dari pintu Cafe berbunyi menandakan ada yang baru lewat sekaligus menyadarkan mereka. Mau tidak mau memaksa Rifky dan Viola mengingat bahwa mereka masih berada di tempat yang sama.
          Terus… kamu jawab apa?” Viola bertanya terlalu hati-hati, karena sejujurnya ia tidak ingin tahu jawabannya.
          Rifky menarik napas dalam-dalam lalu menjawab dengan pelan. “Aku bilang belum ada yang cocok aja, belum ada yang sesuai dengan tipe aku, lah... toh aku juga belum terlalu tua. Aku rasa Mama juga udah hafal sama jawabannya. Tapi... enggak tahu kenapa, semalam kayaknya Mama lebih cerewet dari sebelumnya, malah nyaris was-was...” Dan sekarang Rifky juga ikut was-was.
          Kembali diam, dan kembali lonceng pintu berbunyi lagi. Membebaskan waktu untuk membawa mereka pergi kepada takdir yang seharusnya.
***
          Viola menekan bel rumah itu beberapa kali dengan agak kencang―karena melakukannya dengan gugup. Rumah itu tampak asri dengan arsitektur minimalis. Viola pernah beberapa kali melewatinya, namun baru kali ini ia akan benar-benar masuk―itu pun jika dibukakan pintu dan dipersilakan masuk.  Kenyataanya Viola ingin sekali memasuki rumah itu, mengetahui isi di dalamnya. Namun, selalu ada alasan yang membuatnya berpikir dua kali untuk melakukannya. Karena itu tadi ia sempat ragu untuk mendatangi rumah ini, sayangnya ia harus menyerahkan berkas-berkas milik Rifky sebelum berangkat ke Malang. Lagi-lagi karena kelupaan.
          Ting Tong!
          “Pemisiii!”
          Selang beberapa menit pintu lebar itu terbuka, menampakkan seorang wanita setengah baya berkerudung warna nila dengan wajah berkerut bingung. Mamanya Rifky, tebak Viola.
          “Se-selamat siang, Bu...” sapa Viola canggung. Sepanjang ia bersama Rifky baru kali ini Viola berhadapan langsung dengan mama Rifky.
          “Selamat siang. Maaf... cari siapa, ya?” Mama Rifky belum lepas dari mimik wajah sebelumnya.
          “Saya Viola, Bu... temannya Rifky. Saya mau menyerahkan ini...” Viola menyerahkan suatu map berwarna merah. “ Kemarin tertinggal sama saya, lanjutnya to the point.
          Ooh… tapi Iky belum pulang, katanya ada sur-vei atau apa gitu… ibu kurang ngerti.”
          “Iya, Bu… makanya berkasnya saya antar ke rumah.”
          Mama Rifky mulai paham dan sempat tersenyum maklum kepada Viola. Tadi ia hanya ragu―jarang seorang gadis datang ke rumah, takutnya gadis yang tersesat. Mama Rifky kembali memperhatikan tamunya itu lebih intens. ‘Iky punya teman cantik kok, enggak pernah mau ngenalin?’ pikirnya. Saat baru ingat untuk mempersilakan Viola masuk, beliau tiba-tiba menunda niatnya. Bukan apa-apa, mama Rifky hanya sedang memastikan penglihatannya ketika menatap bandul dari kalung gadis tersebut, beliau sedikit terpana.
          Viola mengikuti arah mata mama Rifky dengan bingung, lalu reflek menyembunyikannya bandul kalungnya ke balik baju. Bandul kalung yang berbentuk simbol kepercayaannya itu mencuat. Ada sesal yang menggerogoti hati Viola setelahnya. Entah mengapa hubungan ini seakan selalu mengiringnya kepada penyesalan.
          “Kamu... teman sekantor Iky, ya?”
          Eum... Bukan, Bu. Saya... teman lama Rifky, teman sewaktu kuliah.” Sedikit gelagapan, Viola tersenyum sopan kepada mama Rifky. Ia melihat sorot mata itu, sorot mata yang tenang dan dalam. Kini Viola tahu dari mana sinar mata Rifky berasal.
          Mama Rifky baru ingin membuka mulutnya untuk meneruskan niat mempersilakan tamunya masuk saat…
          “Ya sudah, Bu... saya cuma mau ngasih ini. Tolong sampaikan ya...”
          “Ee, iya...nanti Ibu sampaikan, jawab beliau reflek.
          “Kalau gitu saya pamit pulang saja, Bu...”
          Lho... kok buru-buru? Enggak masuk dulu?” Mama Rifky jadi merasa bersalah karena tadi sempat menunda niatnya. Bagaimanapun, gadis itu datang untuk keperluan membantu.
          Enggak deh Bu... kebetulan saya memang lagi buru-buru.” Walau tadi ingin, Viola memilih menolaknya. Tiba-tiba ia jadi takut kecewa. Viola melangkah mundur bersiap untuk beranjak dari sana. “Saya pulang dulu, Bu. Permisi...”
          Viola akhirnya melangkah panjang, memutuskan untuk kembali seperti berpura-pura. Meski ia tidak tahu harus sampai kapan membiarkan harapan-harapannya terus mengawang di pelukan angan.
***
          Rifky terdiam menatap layar iPhone-nya, masih menimbang apa yang akan ia tulis di sana. Dibacanya sekali lagi pesan singkat dari Viola yang sudah masuk dari tadi.
          Sayaaang jemput aku ya?? Aku kangen nyiar jadi pulang duluan :D
          Di bandara jam 3 sore ini, see yaaa
          *ps: kangen kamu juga kok :p
          Sender: Viola +628137345XXXX
          Received: 01:16:48pm
          Today
           Hentakan sepatu yang beradu dengan lantai tangga mengagetkan Rifky, mamanya hampir sampai di dekatnya yang berdiri di ujung tangga.
          Lho Ky, kok masih bengong di sini? Mobilnya sudah dipanaskan?”
          Udah, Ma...” Rifky menjawab ogah-ogahan.
          “Ya sudah kalau gitu kita berangkat sekarang, yuk! Kasihan nanti Rere nunggu lama.” Ditariknya lengan Rifky agar segera beranjak. Mama tampak begitu antusias walau Rifky terlihat sebaliknya.
          Rifky merasa langkahnya berat, seakan seluruh badannya menjadi beban yang sangat mengganggu ketika ia bergerak. Ditambah ia harus mengetik balasan pesan singkat itu.
          Aku  meeting bareng bos vi, maaf ya?
          Besok aku jemput kamu di kantor, miss u too...
          To: Viola +628137345XXXX
          Sent: 02:03:59pm
          Today
***
Saat kita kehilangan pegangan
Saat kita menyerah pada harapan
Kita mengerti, berpura-pura itu melelahkan
Dan pengkhianatan bukanlah jalan
Maka kini kita memilih melepaskan
Karena tak ada lagi alasan untuk mempertahankan
***
          Jazz itu sudah berhenti sejak beberapa menit yang lalu di depan sebuah pagar bercat coklat tua. Namun belum ada yang terjadi setelah mesin mobil dimatikan sejak beberapa menit yang lalu. Kedua penumpangnya  sibuk menata hatinya masing-masing.
          “Semua… bakal baik-baik aja, kan?”
          Viola benar-benar ingin mengatakan sesuatu untuk menenangkan pemuda yang bertanya itu, namun ia bahkan kesusahan menemukan suaranya sendiri. Entah kemana perginya celotehan panjang seperti biasa itu. Viola pun ragu… apa ia bisa menjawab pertanyaan itu sedang ia juga menanyakannya juga?
          “Mungkin… ini enggak seburuk yang kita bayangkan.” Viola merasa suaranya jauh sekali, “Mungkin semua akan baik-baik aja…”
          Rifky meremas steer mobilnya kuat-kuat, merasakan buku-buku jarinya memucat dan dingin. Baru kali ini ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperjuangkan yang diinginkannya, walau itu adalah hal yang paling diinginkannya di dunia ini. Dan itu membuat Rifky membenci dirinya sendiri.
          Rifky terkesiap saat tiba-tiba tangan Viola mengusap tangan kirinya, perlahan pegangannya pada steer mengendur. Sentuhan itu selalu terasa lembut dan hangat.  Rifky bergeming, tidak bisa membayangkan jika ini yang terakhir. Hari ini yang terakhir?
          Makasih buat semuanya… makasih karena kamu udah mau bertahan sejauh ini sama aku.” Viola sadar, kali ini ia tidak mampu menggantikan tangis yang ditahan dengan seulas senyum seperti sebelum-sebelumnya. Itu hanya akan menjadi usaha terakhirnya yang sia-sia.
          Rifky menatap Viola lekat-lekat, mendapati di mata gadis itu sudah menggenang air yang siap terjun kapan saja. Dan ia tidak tahu kapan air mata itu akan berhenti nantinya. Apa ia masih bisa menghapusnya untuk gadis itu? Apa ia masih bisa melihat gadis itu di hidupnya? Rifky sungguh tidak ingin ini menjadi yang terakhir.
***
          Gimana kabar kamu, vi?
          To: Viola +628137345XXXX
          Sent: 03:03:29pm
          19-02-2013
          Viola… kamu sibuk? Kita bisa ketemu ga?
          Makan siang?
          Sent: 11:41:23am
          22-02-2013
          Kamu dimana, vi? Kok gak ada kabar??
          To: Viola +628137345XXXX
          Sent: 11:12:59am
          26-02-2013
          Vi, kamu baik2 aja kan??
          Aku harap kamu baik2 aja, kita akan baik2 aja…
          Please kasih kabar ke aku vi…
          To: Viola +628137345XXXX
          Sent: 08:09:32pm
          01-03-2013
          Viola???
          To: Viola +628137345XXXX
          Sent: 08:09:32pm
          04-03-2013
***
          “Halo? Vi?”
          “Iya…”
          “Kamu kemana aja? Kenapa…”
          “Aku baik-baik aja, Ky…”
          “Syukur deh, kalau gitu. Dari kemarin-kemarin kamu enggak bisa dihubungi, Vi…”
          “Maaf  baru ngabarin kamu sekarang. Aku… pindah ke Malang, Ky…”
          “Apa? Malang?”
          “Iya, minggu lalu…”
          “Kenapa?”
          “Enggak pa-pa…”
          “Viola?”
          “Aku enggak pa-pa, Ky…”
          “Maaf…”
          “Gak perlu minta maaf, Ky… Aku pikir mungkin kayak gini jauh lebih baik…”
          “Tapi kenapa harus pindah, Vi? Aku rasa ini bukan jalan keluar…”
          “Karena aku  enggak punya alasan lagi untuk bertahan di sana…”
          “Seburuk itu, Vi?”
          “Dulu… kita udah nyoba berjalan di jalan yang sama, walaupun kita tahu tujuan kita beda. Kita berbeda, Ky… dan sekarang kita ngerti kalau cara itu enggak bakal berhasil. Jadi, aku cuma pengen ngelupain semuanya, memulainya dari awal lagi…”
          “Ini lebih buruk dari yang aku bayangkan, Vi…”
END