Showing posts with label Random. Show all posts
Showing posts with label Random. Show all posts

Saturday, 3 August 2019

Seperti Angin


Bukan lagi, kita tidak bisa menyelamatkan orang yang tidak mau diselamatkan, melainkan, kita harus menyelamatkan orang yang mau kita selamatkan.”

Saya teringat salah satu judul buku Tere Liye yaitu ‘Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.” Jujur saya belum baca buku tersebut, jadi secara pribadi memang tidak tahu makna analogi dari judul itu, tidak tahu bagaimana sebuah daun tidak membenci angin meski telah menggugurkannya. Saya hanya sampai pada batas menerka-nerka setelah membaca sinopsisnya di cover belakang. Buku itu bergabung dengan beberapa tumpukan buku lain yang belum sempat dibaca, setelah sekian lama dibeli. Bukan tidak minat, hanya saja… ah sudah lah bukan itu yang mau saya bahas di sini. Saya ingin menguraikan analogi saya sendiri, tentang angin itu.

Di bangku sekolah dulu kita mempelajari satu pemahaman yang mendasar, bahwa angin bertiup dari satu tempat ke tempat lain bukan karena dia pilih-pilih, mana tempat yang bagus untuk disinggahi, atau mana tempat yang nyaman diterpa, atau daerah mana yang perlu ‘dikerjai’, melainkan karena begitulah sifatnya, begitulah tugas Angin itu. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Tidak ada  pertimbangan apakah orang-orang di tempat itu sedang membutuhkannya, apakah orang-orang di sana pernah mengindahkan keberadaanya, atau apakah kedatangannya dinanti-nanti, dia tidak mempedulikan hal-hal tersebut. Angin bertiup, begitulah tugasnya.

Saya pernah memahami satu hal seperti ini, bahwa kita tidak bisa menyelamatkan orang yang tidak mau diselamatkan. Bagaimana bisa kamu mempedulian orang lain yang bahkan tidak peduli dengan dirinya sendiri? Seperti pekerjaan yang hanya menghabiskan waktu dan menguras perasaan, hal yang sangat melelahkan. Karena pada dasarnya seseorang tidak bisa berubah karena orang lain. Untuk berubah menjadi lebih baik seseorang harus memiliki keinginan itu terlebih dahulu. Tidak bisa hanya kamu paksa, atau kamu cekoki ini itu, orang itu bisa berubah menjadi apa yang kamu ingini, sekalipun hal itu baik untuk dirinya. Begitulah yang saya pahami.
Namun suatu hari, pemahaman itu patah dengan sendirinya, disadarkan sebuah kesalahpahaman.

Kepedulian itu… ada baiknya kita memahaminya terlebih dahulu sebelum meng-klaim memilikinya. Karena bisa jadi kita sebelumnya salah paham, seperti saya. Harusnya kita seperti angin, bukan? Tidak peduli akan hal apapun, hanya bertiup kemana harusnya bertiup. Satu hal yang dia pedulikan, tugasnya. Satu hal yang harusnya kita pedulikan, kepedulian itu sendiri. Berlaku lah seperti namanya, mempedulikan. Bukan pilih-pilih orang yang dipeduli mau dipedulikan atau tidak, namun pedulilah, terus-menerus. Karena seperti itu lah yang namanya kepedulian. Bukan lagi, kita tidak bisa menyelamatkan orang yang tidak mau diselamatkan, melainkan kita menyelamatkan orang yang mau kita selamatkan. Perkara orang itu selamat atau tidak, berubah menjadi lebih baik atau tidak, kita tidak bisa menjamin. Sebab bukan tugas kita memberi jaminan, melainkan Yang Maha Pemberi Jaminan. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan kepedulian itu, terus berusaha menyelamatkan orang yang kita pedulikan, sampai memperoleh hasil terbaik—wujud dari sebuah kepedulian itu.

Jangan berhenti berusaha, karena seperti itulah usaha.
Jangan salah paham kepada Angin, karena begitulah Angin. Jangan mengabaikan kepedulian, agar kamu tidak salah paham.

Andrianyuni
(Pekanbaru, 27072019)

Pagi Ini


Pagi ini, lagi-lagi saya tertanya mengapa rasa kecewa itu masih bergelayut di hati dan tak kunjung pergi. Sudah hampir dua tahun, bukan? Tidakkah cukup untuk mengeringkan luka selama itu? Harusnya cukup. Jauh sebelum-sebelum hari ini, harusnya cukup. Di beberapa waktu yang lalu, sempat terpikir bahwa luka ini sudah kering, bahwa saya telah mendapati penerimaan yang benar itu, bahwa waktu akhirnya menyembuhkan, atas semua yang telah terjadi. Namun kenyataan mementahkan anggapan itu. Entah bagaimana luka ini, menjadi jenis luka yang tak pernah bisa benar-benar kering. Tidak akan bisa. Jadi, apa saya akan menjadi pesakitan selamanya? Apa saya harus menghabiskan jatah waktu saya di dunia ini dengan membawa beban itu kemana-mana? Saya tidak yakin, saya sanggup.

Pagi ini, lagi-lagi saya melemparkan pertanyaan pada diri sendiri, apa yang harus kamu lakukan, Yuni? Mengapa kamu selalu begini? Apa yang menyebabkan luka ini selau kembali melukaimu? Tak bisakah kamu merelakannya pergi? Tak bisakah kamu menenangkan hati yang marah entah sudah berapa lama itu? Ini melelahkan, kamu tahu, kan? Yuni, apa kamu baik-baik saja?

Lalu di suatu pagi, teringat satu ceramah seorang Ustad yang menceritakan kisah turunnya surat ad-dhuha.
“(1) Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), (2) dan demi malam apabila telah sunyi, (3) Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu, (4) dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan. (5) Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas. (6) Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu), (7) dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk, (8) dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. (9) Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. (10) Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya). (11) Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).”
Saya akhirnya paham, bahwa sebelum-sebelum hari ini, saya salah paham.

Memang benar, bahwa luka ini adalah jenis luka yang tidak akan pernah sembuh, bahwa beban yang menyertainya akan saya bawa sepanjang sisa hidup nanti. Sebab rasa sakit, sedih, kecewa, penyesalan, dan putus asa terhadap diri sendiri itu pada akhirnya memiliki sebuah tempat tersendiri dan menjadi bagian dari sebuah keutuhan. ‘Mereka’ bergumal bersama waktu menjadi sesuatu yang mau tidak mau harus saya akui keberadaannya. Kamu tidak bisa membuang bagian dari dirimu sendiri, bukan? Sebab ‘mereka’ adalah sebuah pembuktian eksistensi. Apa yang biasa kita sebut sejarah. Oleh sebab itu, luka ini, alih-alih dibuang, harusnya kamu merawatnya.

Tak perlu lagi pertanyaan-pertanyaan—yang saat sepi menjelang dan ia pun datang—itu dilontarkan. Sudahilah menyalahkan diri sendiri atas kesalahan di masa lalu. Jangan lagi menangisi diri sendiri. Hadapilah rasa sakit, berilah pemahaman pada kesedihan, hibur hati yang kecewa, tenangkan segala penyesalan yang ada, dan setiap putus asa datang kalahkan dengan semangat yang membara. Luka-luka itu, rawatlah mereka. Dengan kesabaran, kelembutan, keikhlasan, dan kegigihan,  rawatlah mereka dengan benar. Kamu tidak bisa menjadi kamu yang lebih baik tanpa mereka.

Luka-luka ini, bisa jadi masa perawatannya sepanjang hidup. Meski sudah dirawat, tidak ada jaminan mereka tidak akan menyerangmu lagi. Karena ini bukan perihal menjinakkan, melainkan suatu proses pembelajaran dari sebuah penerimaan yang benar. Dan waktu terus berjalan. Maka berhati-hatilah, sebab terkadang, waktu lebih kenal baik dengan luka ketimbang kita.

(Pekanbaru, 21072019)
—Andrianyuni

Thursday, 13 June 2019

Memulai Kembali


Tidak mudah, tentu saja. Melakukan ‘memulai’ tidak semudah mengatakannya. Seperti saat ini. Tidak pernah saya hitung berapa kali tulisan semacam ini sudah saya tulis. Terlalu sering. Memulai, lalu berhenti. Memulai lagi, lalu berhenti lagi. Berkali-kali. Dan topiknya selalu sama: tidak tahu harus memulai dengan apa.

Saya bukan penulis handal, bukan juga penulis menawan. Saya: biasa-biasa saja. Mungkin karena itu sampai sekarang saya masih biasa-biasa saja. Tapi, dengan standar yang biasa-biasa itu, (entah dengan bagaimana) menulis seperti selalu membujuk saya kembali. Meski ‘kembali’ tersebut hanya terwujud dengan menulis beberapa paragraph, lalu menghilang lagi. ‘Dia’ selalu datang kembali, membujuk sekali lagi, sekali lagi. Membuat saya merasa sedikit berharga di dalam siklus itu, walau tanpa gelar handal dan menawan.

Entah (lagi-lagi) harus berapa kali lagi mengulang, ini akan tetap seperti ini. Setidaknya saya tahu kenapa. Karena sejak awal, di dalam hati saya, menulis sama dengan pulang. Tidak peduli seberapa jauh saya melangkah, seberapa banyak lelah ditempah, saya akan selalu butuh pulang. Untuk beristirahat, untuk menenangkan, hingga nanti bisa memulai kembali sebuah perjalanan.


(Pekanbaru, 11062019)

Thursday, 28 March 2019

2


Saya berencana tidak memberi judul tulisan-tulisan yang nantinya akan disimpan di folder penyimpanan berkas ini. menjuduli sebuah tulisan sudah terlalu sulit untuk saya, sedang saya masih tidak yakin tulisan ini akan sampai dimana, akan jadi sperti apa. Jika tulisan-tulisan ini, nantinya hanyalah menjadi alasan saya harus kembali lagi, biarlah seperti itu. Jujur saja, ini hanya rencana tanpa tujuan yang pasti, tanpa arah yang mengarahkan, tanpa pegangan. Benar, tulisan-tulisan ini, serapuhnya rapuh.


Saya suka angka-angka, menyimbolkan kepastian. Hal yang belakangan jauh sekali dari jangkauan. Dulu, saya pernah meyakini, bahwa menghitung makna lebih mudah daripada menafsirkan satu, dua, tiga. Saya sedih lagi. Dulu, saya seterlena itu. Namun perasaan itu ternyata dapat menguap. Sekarang, saya tidak seyakin itu. Bahkan terasa ragu. Saya tidak tahu apa yang harus saya yakini sekarang. Bagaimana meyakini sesuatu yang tidak meyakinkan apa-apa? Disinilah kesalahan saya. Persepsi ini menjerumuskan. Bukan sesuatu itu yang harus meyakinkan. Hati ini, yang terlalu mencari-cari alasan.


Dua: dia akan tetap menjadi dua. Tanpa perlu mengusahakan atau menjabarkan apa-apa, dua bisa meyakinkan siapapun makna dari dirinya. Tanpa ada samar-samar.


Sampai disini, adakah kata kembali?



(Pekanbaru, 15022019) 

1


Jadi, begini hal ini dimulai.

Sudah sejak lama saya selalu buruk dalam memulai sesuatu. Lebih tepatnya, entah sejak kapan. Memulai menjadi sesuatu yang tidak begitu ramah. Meski begitu, saya masih ingin memulai yang kali ini. Mengapa? Mungkin, karena tulisan ini seputus asa itu. Begitu juga dengan saya. Saya, seputus asa itu dalam memulai sesuatu, hingga saya tidak terlalu berpikir panjang mengenai baik dan buruk, mengesampingkan pemilihan diksi, tidak mencoba mengindahkan sama sekali. Biarkan saja ini dimulai.


Saya, yang disini sekarang, begitu jauh dari saya yang dulu. Saya yang dulu subuh-subuh bela-belain tidak tidur lagi sebelum ke kampus hanya untuk menuliskan beberapa paragraf ide yang tiba-tiba mampir di kepala. Saya bisa merasakan jarak itu, karena jarak tersebut terlalu kasat mata. Bukan tentang waktu, melainkan saya. Saya. Bukti autentik yang tak terbantah.


Thursday, 15 March 2018

Where have You Been? (Extended)

Langkah-langkah yang gelisah itu, terpantul pada genangan bekas hujan, dalam mimpku tadi malam. Rasa-rasa sudah lama sekali tidak mendengar percikan itu. Sejenak aku ingin berdiam, mencuri kehangatan kenangan yang belakangan ini menggigil—entah karena apa. Mungkin karena rindu yang tak jua bermuara, atau mungkin karena hati yang masih sama-sama jengah. Lalu, seketika percikan tadi tak lagi dapat kudengar. Hanya resah yang tertinggal dalam bias genangan. Menyusul pagi yang menghapus sisa-sisa semalam.

Ada di suatu siang, aku teringat ketika titk-titik masa lalu mempertanyakan ujung jalan itu. Seakan sekumpulan prosa tengah melempari bait demi baitnya, merontokkan setiap rima: tentang kita. Mendeklarasikan bahwa mereka tak lagi punya makna. Kepada kata tercampakkan dan terlupakan, mereka mulai belajar untuk tidak merasakan apa-apa. Sedang kita hanya menatap datar. Bahkan lebih datar dari kehidupan kita sebelum ini. Tidak mengingat apa-apa, dan tidak perlu mengenang apa-apa. Kini ujung jalan itu tampak lebih jauh. Sejauh dua punggung yang saling berhadapan. Sejauh ‘kita’: penghubung yang memisahkan.

Kisah Pembeli dan Penjual

Di suatu sudut belahan dunia, sebuah peradaban antah-berantah, terik kebingungan pekat sekali menyingsing hari itu. Menyusup ke dalam pori-pori sosok siapa saja yang tidak kuat tabirnya. Dua sosok tertantang, tegak tergugu saling berlomba mengurung tanya di kepala. Tidak tahan dengan lompatan-lompatan pertanyaan yang memasuki otaknya, satu suara memilih kalah, memecah suasana. Suara tipikal antah-berantah, bergaung membelah terik menjadi dua.

“Apa yang kau jual?”

Dia dipanggil si Pembeli. Kini tengah berdiri di depan sebuah toko segi empat nan sempit. Sempit sekali, pikirnya. Sampai-sampai dia merasa ruang itu tidak cukup pantas untuk dijadikan toko, membuatnya begitu sungkan untuk masuk ke dalam—takut akan kalah cepat merebut oksigen dengan sosok lain. Sejenak dia hanya bungkam, lalu mulai membunuh waktu dengan bergumam, mengerjap, lalu bergumam lagi. Terasa sedikit lama, namun dia tahu bagaimana cara membunuh waktu. Yang dia tidak tahu adalah cara membunuh rasa ingin tahunya pada toko itu. Napasnya ditarik dan dihempas, mencari spekulasi paling logis mengapa dia harus berdiri di sana.

Satu-satunya sosok di dalam toko segi empat nan sempit itu maju beberapa langkah, sekarang tepat berdiri di mulut toko, di depan si Pembeli. Dia dipanggil si Penjual. Berdekap tangan dia menjawab, tanpa merasa perlu mengeluarkan suara—meski ada pertanyaan yang huru-hara di dalam otaknya—sambil mengedikkan kepala hanya melirik kepada plang yang berada di dinding atas toko. Dengan tersenyum sinis yang tipis, selagi diam dia mengolok sosok di depannya semacam bodoh karena tidak bisa baca.

TOKO RASA SAKIT

Thursday, 31 August 2017

Jarak

Jarak adalah satu langkah dan beberapa langkah.
Jarak adalah pemisah antara awal dan tujuan.
Jarak adalah pemisah antara kemauan dan kemampuan.
Jarak adalah penghubung yang memisahkan.
Jarak adalah seberapa lama kau berbicara dengan seseorang di telfon.
Jarak adalah jumlah argometer yang siap mengorek kantongmu.
Jarak adalah pemahaman yang tidak kau pahami.
Jarak adalah kerenggangan setelah perkelahian dengan teman.
Jarak adalah punggung yang saling berhadapan.
Jarak adalah seberapa sering kau menyebut nama seseorang.
Jarak adalah jumlah kalimat yang kau ucapkan kepada seseorang.
Jarak adalah cara menamai sebuah hubungan.
Jarak adalah seni melihat sesuatu.
Jarak adalah keinginan yang belum tersampaikan.
Jarak adalah doa yang kau panjatkan.
Jarak adalah batas kerinduan.

(Jakarta, 31082017)

Wednesday, 9 August 2017

Maaf

Untuk beberapa kata yang muncul, dan hanya dibiarkan menghilang,

untuk beberapa makna yang diabaikan,

untuk setiap pesona yang sempat hadir, namun tidak dijamu dengan baik,

untuk sebuah luka, yang disusul beberapa luka,

untuk setiap deru napas yang sesak, namun tak pernah diberi penawar,

untuk serangkaian tawa tak bermakna,

untuk tangisan tanpa suara,

untuk pengkhianatan ini, yang sudah kulakukan
berkali-kali.

Maaf,
dari hati.


(Jakarta, 09082017)

Monday, 24 April 2017

Run Away

Bisakah? Bisakah kita melarikan diri dari perasaan kita sendiri? Karena, terkadang ada rasa yang tak ingin dirasakan, namun ia tetap singgah. Menyita waktu beberapa saat hanya untuk mengeluh atau mengumpat, tanpa sempat mencegah.

Andai hati benar-benar seperti pintu. Yang apabila ada yang ingin masuk, perlu mengetuk terlebih dahulu, perlu izin dulu dari si pemilik pintu. Lalu—serapat apapun pintu dikunci, pintu akan terbuka karena dibuka. Apapun yang diluar sana, masuklah! Karena sang pemilik mengizinkannya.

Namun jangan tanyakan, bagaimana jika ada pencuri, bagaimana jika kunci hilang, bagaimana jika pintu itu rusak, bagaimana jika...
Tolong, jangan tanyakan.


(Pare, 24042017)

Sunday, 6 November 2016

Masa Lalu

Saya kehilangan kamu. Ini sudah terlalu jauh. Terlampau banyak detik yang membentangi kita. Menciptakan jarak yang merusak. Kini saya hanya bisa merutuki diri sendiri. Mengapa dulu, saya meninggalkan kamu. Mengapa dulu, saya melangkah sejauh ini tanpa membawa kamu menyertai. Kini saya kesulitan. Bahkan sekadar untuk menghadirkan bayanganmu di sini. Saya bagai cacat tanpa kamu temani.
                
Sekarang, saya harus bagaimana? Ini sudah terlalu jauh. Terlampau banyak napas yang saya lewatkan. Menciptakan pengap yang memekakan. Saya tidak tahu harus bagaimana. Yang saya tahu hanya, saya ingin kamu kembali.
Maaf.


(Jkt, 06112016)

Friday, 29 July 2016

Euforia #9

Ada beberapa rangkaian makna yang belakangan ini tidak pernah kau terjemahkan, seakan ada mozaik yang mengubahmu menjadi dingin dan angkuh. Kau mengabaikan bagaimana setiap satu potongan harus diganti dengan potongan lain, hal yang biasanya membuatmu penasaran. Ada yang mengganggumu. Tampak jelas saat sesekali kau menanyakan, haruskah seperti ini? Kenangan. Kenangan hanya memainkan sebaris alunan, namun mampu mengecohmu habis-habisan. Semakin kau dengar, semakin kau merasa kehilangan. Lantas? Ya, yang terjadi adalah kau rela terpaku berlama-lama, sebatas diam menjadikanmu lelah, tafakur hanya untuk menemukan alasan: mengapa waktu tak jua membawamu kemana-mana. Hei, sadarlah! Yang hilang bukanlah kenangan, melainkan tujuan. Tujuanmu berteman dengan waktu. Dingin, angkuh, dan semua tumpukan pengabaian itu pada akhirnya melumpuhkan sesuatu: kepekaan yang biasanya menjembatani kepada ujung pemahaman. Entah ramuan apa yang sudah tercipta dari mereka (dingin, angkuh, dan pengabaiaan), yang jelas saat ini sebuah penawar sangat dibutuhkan. Penawar yang mampu mengembalikan rasa, bukan untuk mematikannya. Sebelum ada yang tak terselamatkan, sebelum waktu benar-benar tak membawa kemana-mana, dan sebelum mereka menemukan sebuah takhta, berupa euforia dimana pengap menjadi sang penguasa.



(PSP, 29072016)

Monday, 11 July 2016

Satu Tanya

Di antara titik dan koma
Masihkah ada kita?
Kutipan kecil di sudut cerita.


(PSP, 11072016)

Wednesday, 22 June 2016

Dialog Kecewa #Radiasi

Kau tahu siapa sebenarnya Kecewa? Di mana rumahnya? Anaknya siapa? Tingkahnya bagaimana? Kau tahu? Karena jika kau mengetahuinya, beri tahu aku. Ceritakan padaku bagaimana Kecewa itu, bagaimana dia... tidak tidak. Kau tidak perlu melakukannya. Lupakan semua pertanyaanku tadi! Kau hanya perlu mengatakan di mana Kecewa sekarang. Beri tahu aku! Biar aku sendiri yang menemuinya, bertanya setiap detail yang ingin kutahu. Aku ingin mendengar dia sendiri yang mengatakan, menjawab semua rasa penasaran yang sudah terlanjur pengap. Jadi, apa kau tahu? Rasa-rasanya aku sudah tidak sabar untuk mendengar setiap penggal penjelasan darinya, untuk mendengar bagaimana dia masih bisa hidup seperti tanpa harus membenci atau dibenci. Bagaimana bisa? Setelah itu, mungkin aku tidak bisa menahan untuk tidak langsung menghajarnya.


Bisa jadi kau bertanya-tanya, mengapa aku sampai seperti ini: memburu Kecewa. Sebut saja ini bagian dari antisipasiku. Sebelum dia yang menyerang, harus aku yang menyerangnya duluan. Ya, tentu saja dia adalah si Kecewa itu. Ada yang datang padaku, seperti kabar burung yang mengatakan bahwa akan ada penyerangan dalam waktu dekat ini. Penyerangan yang tidak diduga-duga, yang pelakunya pun sulit diterka. Sudah mirip dengan penyerangan bom yang terjadi belakangan ini. Namun ada satu nama tercuat setelahnya, sudah didakwa sebagai pelaku utama: Kecewa. Oknum disebut-sebut memiliki keahlian membunuh, membunuh apa saja yang sanggup dia bunuh. Sebut saja Kepercayaan, yang paling kerap dijadikan korban. Mungkin, sekarang pertanyaanmu sudah berubah menjadi: apakah aku takut? Tidak. Tentu saja tidak. Eem, baiklah, sedikit.

Tuesday, 21 June 2016

Dalam Beberapa Hari Belakangan... #Radiasi

Saya tahu, ini terlalu payah untuk dikatakan sebagai postingan kedua untuk tema yang beberapa minggu lalu saya janjikan. Oleh karena itu saya buat postingan ini, untuk semacam pemberitahuan saja.

Dalam beberapa hari belakangan ini saya disibukkan dengan kerjaan mengolah data, sekitar semingguan terakhir. Mengapa lama sekali? Selain karena datanya yang agak susah, terjadi sedikit kesalahan dari pihak costumer yang mengakibatkan saya harus mengolah untuk kedua kalinya. Jadilah saya tidak punya cukup waktu untuk membuat postingan.

Saturday, 28 May 2016

Cemal-Cemil

Hai! Akhirnya saya buat postingan kedua di bulan ini (payah, kan?), dimana nyaris hanya membuat satu postingan mengingat ini sudah hari ke-28. Omong-omong, saya punya beberapa alasan mengapa hampir lima bulan terakhir saya tidak menulis apa-apa di blog ini. Oke, mungkin yang disebut alasan dalam konteks ini lebih untuk mengurangi rasa bersalah saya, tapi yah, saya merasa ini cukup untuk menjadi alasan. Beberapa alasan tersebut bisa saya rangkum dalam satu kata: sibuk. Oh, that word really doesn’t fit to me, ‘cause in fact, I’m a jobless. Biar pengangguran begini, bukan berarti saya tidak punya kegiatan yang bisa membuat saya sibuk. Selepas mendapat gelar Sarjana, sambil mencari pekerjaan saya mempunyai side job di bidang olah data menggunakan SPSS. Setelah beberapa waktu saya tidak kunjung mendapat kerja, saya kembali ke bawah ketiak orangtua dan meninggalkan kota kelahiran tercinta. Tinggal bersama orangtua membuat saya otomatis harus membantu usaha orangtua, dan hal ini lah yang memiliki andil besar dalam menyita waktu saya. Well, sampai saat ini status saya masih sama—pengangguran sok sibuk, namun saya ingin kembali nge-blog. Barang dua sampai tiga postingan perminggu sudah sesuatu sepertinya.
Baiklah, sudah cukup mukadimahnya.

Friday, 13 May 2016

Terbangun

Halo, Andrianalogy! Em.

Eem. Ini blog, kalau dia bisa ngambek, mungkin sudah ngambek ampun-ampunan kayaknya ke saya, ngusir-ngusir terus nge-block saya biar tidak bisa log in lagi sekalian. Merajuk, tak perlu dibujuk. Toh, siapa yang butuh? katanya.

Saya mau minta maaf, tapi rasanya malu. Sepertinya lafal dari empat huruf itu, sudah terlampau sering bertengger di jajaran kata yang saya tumpahkan di sini. Kadang maaf untuk ini, lalu maaf untuk itu. Kok kayaknya saya jadi minta maaf terus. Namun, saya jadi terpikir--lebih untuk membesarkan hati sebenarnya, toh manusia tidak luput dari kesalahan. Kalau dia meminta maaf, at least berarti dia tahu kesalahannya dan menyesal, dengan syarat dan ketentuan berlaku. I mean, dia bukan minta maaf hanya karena dia harus minta maaf, tapi karena dia ingin minta maaf. Saya rasa hal seperti itu patut dipertimbangkan untuk seseorang yang terlalu sering minta maaf. So, I apologize. I was too long to let this blog being lonely. I do apologize.

Wednesday, 20 January 2016

Euforia #8

Ini seperti terampas, hilang dan berbekas. Bukan lagi khayal yang berlarut-larut, hanya pembuktian sebagaimana harusnya ia diletakkan. Ada saat dimana kau ingin menoleh ke belakang, membayang, lalu dengan jengah memungut kepingan-kepingan yang dulu pernah sangat kau genggam.  Untuk apa kau melakukannya? Tentu saja untuk mengisi kekosongan yang tidak sepenuhnya bisa kau pahami. ‘Cukup hanya dengan seperti ini’, begitu mantranya, kau rapal setiap hari, layaknya itu adalah jawaban dari pertanyaan saat kau mati nanti. Nyatanya, kalimat itu pun tidak menjawab apa-apa. Tidak menenangkan apa-apa. Kini tiba saatnya waktu goyah, pijakanmu itu... mengkhianati janji yang pernah kalian ikrarkan. Menggenapkan bekas menjadi satu-satunya yang sudi membantumu menyelesaikan tugas paling sulit setelah semua ini: mengembalikan pagi seperti sedia kala. Dan, bagaimana kau melakukannya jika salah satu potongan telah meninggalkan mozaiknya? Kau menyumpahi pertanyaan ini. Sial sekali, bukan? Di saat kau ingin berhenti, malah tidak ada yang benar-benar bisa berhenti. Bahkan untuk sebuah pertanyaan. Kau tahu kenapa? Karena dari awal kisah ini, yang kau temukan adalah euforia. Rasa indah yang pada akhirnya akan kau benci selamanya.

(Pekanbaru, 20012016)

Wednesday, 16 December 2015

Terlintas...

Terkadang, saat kau terlalu lama meninggalkan rumah, tidak dapat menemukan alasan untuk kembali, bisa jadi kau akan sulit mengingat jalan ke sana. Jalan pulangmu sendiri. Mulai bertanya-tanya, apakah selama ini aku menuju rumah yang seharusnya? Benarkah rumah tersebut yang telah menggenapkan rasa pulang? Karena jika demikian, mengapa aku masih bisa tersesat?

Kau tahu, saat kita merasa sedang dihadapkan pada beberapa pilihan, pada dasarnya hanya ada satu pilihan—yang artinya itu bukan pilihan melainkan keyakinan. Lalu dari mana berasal pilihan satu, dua, dan seterusnya? Pilihan-pilihan tersebut berasal dari keraguan—sebab tidak ada yang namanya pilihan, maka sebut itu keraguan satu, dua, dan seterusnya. Maka jelas sudah selama ini, tidak ada yang namanya pilihan. Yang ada hanya satu keyakinan yang diganggu beberapa keraguaan. Jangan sampai bingung.

(Pekanbaru, 16122015)

Friday, 4 December 2015

Pigura

Hai.
Aku tidak yakin kapan terakhir kali kau terbujur di sebuah halaman kosong, dimana kau selalu mempunyai tempat. Belakangan kau kehilangan hak, seperti diabaikan untuk dibunuh pelan-pelan. Sekarang kau kembali, mungkin ingin menuntut, atau semacam meminta diberi wewenang yang lebih. Baiklah, kuberi kau wewenang untuk merindu. Adakah kau rindu, Hai? Maaf. Kehilangan bukan rasa yang seharusnya kau miliki. 

Hai, bisa jadi kau bertanya-tanya di mana rangkaian kata itu berdiam selama ini. Bisa jadi kau menerka-nerka adakah tempat yang lebih pantas untuk menyimpan daripada penjaranya: Pigura. Aku mengerti, sebagai pengawal kau adalah yang paling sibuk menyita perhatian, untuk mencari celah agar disulap menjadi ruang. Selama tidak ada itu, kau hanyalah seonggok bungkam, dan bisa-bisa Pigura akan sirna—sesuatu yang selalu kita cemaskan. Kini kau mulai sadar, perjalanan-perjalanan yang lalu menjadikanmu memahami suatu hal: waktu dapat menyihir seseorang menjadi kejam.