Showing posts with label FlashFiction. Show all posts
Showing posts with label FlashFiction. Show all posts

Thursday, 15 March 2018

Where have You Been? (Extended)

Langkah-langkah yang gelisah itu, terpantul pada genangan bekas hujan, dalam mimpku tadi malam. Rasa-rasa sudah lama sekali tidak mendengar percikan itu. Sejenak aku ingin berdiam, mencuri kehangatan kenangan yang belakangan ini menggigil—entah karena apa. Mungkin karena rindu yang tak jua bermuara, atau mungkin karena hati yang masih sama-sama jengah. Lalu, seketika percikan tadi tak lagi dapat kudengar. Hanya resah yang tertinggal dalam bias genangan. Menyusul pagi yang menghapus sisa-sisa semalam.

Ada di suatu siang, aku teringat ketika titk-titik masa lalu mempertanyakan ujung jalan itu. Seakan sekumpulan prosa tengah melempari bait demi baitnya, merontokkan setiap rima: tentang kita. Mendeklarasikan bahwa mereka tak lagi punya makna. Kepada kata tercampakkan dan terlupakan, mereka mulai belajar untuk tidak merasakan apa-apa. Sedang kita hanya menatap datar. Bahkan lebih datar dari kehidupan kita sebelum ini. Tidak mengingat apa-apa, dan tidak perlu mengenang apa-apa. Kini ujung jalan itu tampak lebih jauh. Sejauh dua punggung yang saling berhadapan. Sejauh ‘kita’: penghubung yang memisahkan.

Wednesday, 3 June 2015

Scars



Abby kembali masuk ke kamar ganti, mencoba gaun yang ke-26—mungkin, cemoohnya. Dia tidak ingin benar-benar menghitung. Kali ini berwarna krem, dengan model renda-renda di bagian dada yang nyaris sama dengan dua atau tiga gaun yang ia coba sebelumnya. Memuakkan. Ia harus cepat-cepat keluar dari sini, sebelum gaun-gaun ini membuatnya ingin jadi gila. Terserah dengan pesta konyol itu.

“Apa yang kau gunakan? Kau tampak sangat pucat. Kau tidak berniat membuat aku terlihat seperti sedang memaksamu untuk ke pesta di saat kau sedang sakit, bukan?” lagi-lagi, membuatnya ingin membuang seluruh gaun itu ke muka pria yang berkomentar tersebut. Tanpa terkecuali, lalu memaki pria itu hingga puas.

Monday, 16 March 2015

Jalan yang Lebih Panjang

“Pak, kenapa kita tidak sampai-sampai?”

“Sebentar ya, nak. Sedikit lagi kita sampai.”

“Tapi... pasar sudah lewat, Pak. Bukannya kita pamit kepada Ibu untuk membeli makanan?”

Laki-laki itu menyeka peluh, lalu menatap bocah 8 tahun yang duduk di boncengan sepeda butut yang ia dorong. Ia tidak menaikinya, ban sepeda itu sudah bocor dari awal mereka berangkat. Tadi, saat ia pamit ingin pergi mencari makanan untuk keluarganya, anaknya paling bungsu merengek ingin ikut. Sebabnya ia membawa sepeda yang telah usang itu, takut-takut anaknya akan kelelahan. Siang ini terik, matahari seperti sedang berada tepat di atas kepala.

“Benar. Tapi tujuan kita tidak ke pasar.” Laki-laki berumur itu kembali melihat ke depan, memperhatikan jalanan berdebu yang dipenuhi batu dan lubang. Mencoba memilih jalan yang paling aman.

Wednesday, 8 October 2014

Saturday Night #FF2in1

Di sini aku sekarang, di hadapan pintu lebar berwarna coklat tua, belum bisa melakukan apa-apa. Angin sabtu mala mini tidak terlalu dingin, tapi aku menggigil. Kali ini aku memahami satu hal, tidak ada perjuangan yang mudah untuk sesuatu yang berharga. Ya, tidak mudah memang mendapatkan hati Tiara, terlebih hati kedua orangtuanya.

“Aku capek backstreet terus…” kala itu Tiara mengungkapkannya, di malam dua hari lalu saat aku meneleponnya seperti biasa. Aku menghela napas panjang.

Di sini aku sekarang, mencoba untuk memperjuangkan cinta yang aku anggap benar. Aku tidak bisa menghilangkan bayangan perempuan yang aku cintai dengan segenap hati tersebut. Tiara pernah bilang, Papanya melarangnya menjalin hubungan yang lelaki yang tidak jelas.

Thursday, 24 April 2014

One and Only

Terserah kau mau menganggapku kurang waras, muka tembok, tidak punya telinga, atau apapun semacamnya, aku bisa terima. Lebih tepatnya tidak dapat menolak. Aku pun tidak bisa menolong diriku sendiri. Kau seperti telah mematikan seluruh daya kontrolku, kemudian aku hanya boleh berpusat padamu. Namun, setiap aku melihat kepadamu, kau selalu menatapku hanya sekilas lalu. Apa salahnya aku? Apa kurangnya aku?

“Pulanglah! Harus berapa kali aku bilang, aku tidak mau pergi denganmu.”

Lagi-lagi jawabanmu mengoyak harapanku. Malam itu, bermodal martabak mesir kesukaanmu, aku ingin mengajakmu keluar. Jalan-jalan saja, cari angin sambil keliling kampung. Tapi penolakan itu seperti tak bosan menamparku.

Wednesday, 26 March 2014

His Eyes #FF Nulisbuku

Tolong jelaskan padaku apa yang salah pada matanya! Atau… aku?
Biarkan aku menganggapnya sebagai sihir, karena aku benar-benar tidak ada ide. Bagaimana tidak? Aku masih ingat betul bagaimana aku mengemis kepada Rere agar tidak membawaku ke salah satu tempat yang termasuk dalam daftar danger area-ku: Perpustakaan. Dan itu tidak berhasil. Raungan dan sogokan ice cream tidak mempan pada Rere yang sedang semangat membabi buta mengerjakan tugas akhir kuliah. Maka aku hanya bisa pasrah.