Monday, 1 April 2013

Merindu

Tahukah kau rasanya merindu?
Merindu yang hebat
Rasanya menghisap

Sakitnya menyengat

Tahukah kau rasanya merindu?
Merindu yang sangat
Indahnya menyesak
Bahagianya menguap

Menjemput Malam

Terdengar sayup-sayup derita
Meneriakkan isak pencekam bulir air mata
Dia pulang, tak kan menampakkan punggung lagi
Tak terduga, tak teraba
Hanya hening terlalu berdiri sempit
Mengerang dalam setiap ucapan

Teringat senyum pengantar sebelum tidur
Esok akan memudar dan terlupa seterusnya
Ingin menangis lagi
Sampai habis, sampai tak mengerti untuk apa

Memori

Merasuk imaji dalam kenang 
Suatu masa terbalut cinta
Sebongkah rasa menyemat jiwa
Berputar dengan masa lalu

Tentang detik berderai tawa
Tentang hangat menyentuh raga
Tentang nada menggema indah
Tentang cerita suatu asa

Mengusik relung terdalam sukma
Menguak kembali luka tercipta
Yang pernah ada takkan sirna
Walau kembali tuk pergi

Kertas

Halaman-halamnnya telah habis
Dijamah tinta pekat yang kotor
Semua tercoreng oleh sajak bodoh
Kata yang ditempah raut derita
Makna yang meradang di tepian kesunyian
Kini, luruh senyap berlarian

Tertuliskan untaian membingungkan tentang hari esok
Katanya, hari akan bernyanyi dan menari
Menertawakan pujangga yang ditimpa hukuman

Kepada Sang Semu (Tak Tahu Apa-apa)

Semua mulai berakhir
Cerita habis tergulung samar
Dan aku tak tahu apa-apa
Malam berganti malam
Kesunyian mengurung kelam
Dan aku tak tahu apa-apa
Kebodohanku menggila

Dalam nurani waktu kau termangu
Menggangguku untuk cepat berlalu
Aku hanya tak tahu apa-apa
Kau membungkamku bersama ingar
Lalu, menjerat luka hingga melebar
Aku hanya tak tahu apa-apa
Kesakitan mengejarku

Kepada Mereka

Teraba kembali masa lalu
Saat peluh mereka mengalir bersama nadi
Di titik menggigil bukannya mengikis
Mereka menerjang
Sedang esok belum tentu hadir lagi

Tak terhitung napas yang surut
Tak terperi sakit yang mengering
Mereka tak terjamah angin ataupun hari
Hingga lupa menghela
Hingga lupa menyerah

Semi di Musim Gugur

Semi di Musim Gugur

    December 3th, 2011
    Musim gugur menyemat sendu. Tersisipkan di antara daun-daun yang luruh dari dahannya dalam satuan waktu. Semilir angin menggelitik agar bungkam, getir menyesap musim yang akan berganti awan.
    East River, Manhattan, New York City
    Aku menyusuri tepian East River sambil menikmati suasana sore musim gugur. Angin bertiup menerpa tubuhku yang walau sudah dibalut dengan overcoat masih saja terasa dingin. Merasa sedikit terganggu, kueratkan tangan yang berada di saku jaket untuk lebih membungkusku. Aku berjalan tanpa tujuan, tidak tahu untuk apa mendatangi tempat ini. Tempat di mana satu cerita berawal, dulu. Di dermaga East River bawah Brooklyn Bridge.
Kuhentikan langkah, terpaku pada pemandangan di sebelah barat tepi anjungan sungai. Sekumpulan anak muda sedang asik mengabadikan aksi mereka di sana. Dengan latar belakang megahnya kota Manhattan yang terlihat seperti tepat di kolong jembatan Brooklyn. Ditambah dengan sorot lampu warna-warni dari gedung pencakar langitnya?fenomena dengan langit abu-abu khas musim gugur itu terlihat semakin eksotik.
Aku mendesah, entah bagaimana caranya hal yang terjadi di sana bisa menginterupsi pikiranku untuk menggambarkan satu wajah, dia. Ah, kamera.
Tepat di sana tadi?di waktu terdahulu, adalah tempat yang menjadi akar dari ceritaku dengannya tercipta, layaknya sebuah takdir. Kala langit cerah mengawali musim panas, aku melewati tempat itu selepas mengantar temanku ke dermaga. High heel-ku terganjal sesuatu, akibatnya tubuhku limbung dan tidak sengaja menabrak dari belakang seorang pria yang tengah mengarahkan lensa kameranya pada potret kolong Brooklyn Bridge. Berkali-kali aku meminta maaf, karena telah merusak acaranya dan juga kamera miliknya yang sampai terjatuh. Pemuda tersebut terlihat geram, namun dia tetap mengatakan 'tidak ada masalah'. Padahal kutahu dia sangat terganggu dengan apa yang kuperbuat, terlihat dari raut yang timbul di wajah tampannya. Kupikir dia sungguh baik hati.
Setelah itu kami berkenalan, dan terlalu cepat untuk menjadi sangat akrab. Dia, seorang mahasiswa berkewarganegaraan Perancis yang kuliah pada jurusan Arts di NYU tengah menghabiskan liburan musim panasnya dengan menikmati ingar-bingar 'Big Apple'.
Tidak kusangka, liburan musim panas yang biasanya kurang nyaman itu berjalan dengan menyenangkan bersamanya. Saling bertukar pikiran tentang berbagai hal dengan banyak perbedaan, tentu bisa menjadi sesuatu yang menarik. Sambil berjejalan mengunjungi setiap pusat kota yang tidak pernah sepi. Tidak sedikit moment yang kami bekukan dalam kamera miliknya.
Wuuush.
Aku tersadar. Angin bertiup lagi, seakan membawa berita bahwa musim dingin akan segera menjelang. Huuft, bahkan Autumn pun hampir berakhir. Kupandangi lagi tempat tersebut, mereka sudah tidak ada. Aku melanjutkan langkah.
***
Central Park
Jalan setapak ini cukup ramai. Banyak pengunjung yang menghabiskan sore yang panjang di taman dengan berbagai aktivitas mereka. Jogging, bersepeda, bersepatu roda, atau pergi mengunjungi bagian-bagian Central Park yang beraneka rupa isinya.
Aku mengambil posisi duduk di bawah pohon maple yang bidangnya menurun seperti bukit kecil. Pohon dengan daun berwarna menyala berjatuhan dari batangnya, sudah hampir gundul. Kebiasaan yang membosankan sejak beberapa bulan lalu.
"Finally, you come again."
Aku menoleh ke sumber suara. Terlihat pria paruh baya dengan stelan musim gugurnya tengah berdiri memasang seulas senyum. Aku mengenalnya. "Kakek Barry," sapaku sembari membalas senyumnya. Dia duduk di sisi kananku. Perawakannya masih terlihat sehat, tidak termakan usia. Itu membuat kakek Barry tampak lebih muda dari usianya.
"So long i'm not here?" sambungku.
Dia memandangku, mengernyit beberapa saat. "Entahlah, tapi kurasa tidak seperti di waktu-waktu sebelumnya."
Aku hanya tersenyum maklum. Aku memang sedikit mengurangi kadar kunjunganku ke sini. Setelah mendengar berita terbaru tentang seseorang. Sesaat kami hanya diam sambil menatap lurus ke depan. Menikmati suasana taman luas di musim gugur yang akan riuh di saat matahari sudah condong. Seiring dengan kebiasaan membosankanku, diam-diam ternyata aku sudah mengagumi tempat ini. Menikmati setiap suasana taman yang indah tersebut. Kutelaah pergelangan kiriku, pukul 07.32 p.m.
"Apa sekarang kau sudah menyerah?" tiba-tiba kakek Barry bersuara dengan pertanyaan anehnya. Membuat aku memandangnya heran.
"Apa maksud kakek?"
"Ah, jelas kau tahu maksudku..."
Aku menyipitkan mata, tersudut bingung. Namun sepertinya jawaban tersebut belum habis terucap olehnya.
"Menunggu janji untuk musim semi yang sudah berlalu itu."
Seketika mataku melebar.  "You know 'bout it? How come?" Aku bertanya cepat. Agak tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Janji itu, tentang serangkai kata manis penghibur jiwa yang pernah diucapkan untukku, oleh seorang pria. Mengapa kakek Barry mengetahuinya? Tidak mungkin.
"Haha... tentu aku tahu," singkatnya yang diiringi gelak tawa, membuat kerutan wajahnya tertarik. Aku bahkan tidak dapat menemukan unsur yang menggelitik di sana. Jangan katakan bahwa kakek yang sering kutemui di taman ini adalah seorang peramal! Yang benar saja?
"So..." ujarnya lagi, membuang wajah dariku. "You really have to give up?"
Aku diam, sesaat mengabaikan kebingungan tadi. Lalu turut mengalihkan pandangan ke depan. Haruskah aku mengaku? Pertanyaan ini seakan mendakwaku. Kebodohanku. Setelah mendesah, "Sebenarnya, aku bahkan tak pernah berhenti berharap, walau kutahu tempo janji itu telah habis. Tapi..." terdiam sejenak untuk menarik napas, dalam. "Kenyataanlah yang memaksaku untuk berhenti menunggunya." Mengatakannya saja bisa membuat nyeri di hatiku.
Namun, hari ini, aku datang lagi. Ke tempat yang dia janjikan. Entah untuk alasan apa.
"Reality?" kening kakek Barry bertaut.
"He'll never come again," tuturku penuh kecewa.
"Don't be too quick to guess it," sarannya.
Tidak kutanggapi. Terlalu cepat? Ya, aku memang orang yang kurang sabar. Tapi, untuk tiga musim yang sudah hampir berakhir, bagiku itu sudah cukup lama. Lagipula penantian ini memang harus menemui ujung.
"Apa kiranya yang membuatmu berpikir demikian?" kakek Barry bertanya lagi.
"I heard from his friend... he has returned several weeks ago. Maybe he didn't intend to keep the promise. Sure he is busy with... his fiance." jawabku perlahan, rasanya berdenyut.
"Pemuda itu sungguh berarti rupanya," Aku menoleh cepat kepada Kakek Barry, lagi-lagi heran.
"You're so disappointed," tambahnya lagi, tetap tidak memandangku.
Aku tersengat. Menunggu pemuda yang hanya ingin mempermainkanku, kecewa?  Pasti. Aku menunduk memandangi ujung sepatuku yang menapak pada daun maple berwarna merah kecoklatan di rerumputan. Sadar. Ternyata dari awal semuanya memang… semu.
Membuang napas. "I just don't like being lied to..." ujarku akhirnya. Berusaha memakai tameng yang telah retak.
Hening. Kakek Barry tidak lagi bersuara. Aku pun enggan memperpanjang sematan sembilu untukku sendiri.
"Oh ya..." ingatku akan sesuatu, masih tetap penasaran. Kutolehkan wajah ke arahnya. "Siapa yang memberitahu Kakek tentang ini semua?"
"Aku."
Aku mendongak. Lalu, tidak bisa menahan diriku untuk terperangah. Oksigen disekitar seperti terampas dari penguasaanku. Di hadapanku sekarang, berdiri seorang pemuda tampan dengan postur tinggi tegap menggunakan duffelcoat abu-abu. Dengan senyum merekah?yang sudah kuhafal?merengkuh sebuah kamera DSLR di sebelah tangannya. Tidak banyak yang berubah, hanya potongan rambut yang sedikit memanjang namun tetap rapi, menjadikannya lebih menawan. Pemuda yang telah menyelipkan sejumput harapan untukku itu, dia. Datang.
"Briand?" suaraku hampir tidak terdengar.
"Lama sekali kau tiba," Kakek Barry berseru sembari bangkit. Aku bergeming, tidak tahu apa-apa.
"Uum... sebaiknya aku menyingkir saja. Mungkin pergi ke kedai mungil di Lookout untuk menyantap secangkir coklat panas akan menyenangkan," katanya lagi. Belum ada yang menanggapi. Lalu kakek mendekati Briand. "Baik-baiklah kau sekarang!" Setelah menepuk pelan pundak pemuda itu dan mendesiskan tawa renyahnya, dia segera menembus hiruk-pikuk taman.
Aku mengerjap, 'Apa-apaan itu tadi?'
Tinggal kami.
"Hi, Feli!"
Aku hampir tercekat. "Hi..."
Dia mendekat, mengambil tempat yang baru saja ditinggal sosok yang baru saja berlalu. Kurasa suhu tubuhku naik.
"Long time no see, how's your life?" dia bertanya santai. Tangannya bergerak menyentuh beberapa peranti kamera. Seharusnya aku juga begitu. Bersikap serba biasa. 'Ayolah, Feli! Ingat apa yang sudah terjadi sekarang!'
"I'm fine, New York who still treated me busy as usual. Not much different from the last." Kulihat dia menggangguk beberapa kali. Matanya beku pada benda mati di tangannya.
"Ya, you're still pretty well," balasnya masih dengan posisi yang sama sambil tersenyum sekilas.
Aku terbisu. Takut jika berucap akan ada kata yang tersangkut-sangkut.
Briand berdiri lantas mengambil satu potret bagian taman. "Cukup lama aku tidak ke sini," katanya seakan memberi informasi.
"Feli.." kuangkat wajah untuk menanggapi panggilannya.
"You know? I do miss you."
Darahku berdesir cepat. Aku meremang, semua terasa memanas. Tapi lain dari itu, ada sesuatu yang terganjal, hatiku. Terhimpit sesak. Jangan seperti in, Feli!
"Really? Unfortunately, I just know spring has long passed," jawabku sarkastis. Mencoba menahan segala gejolaknya.
Profil wajahnya berubah. Menunjukkan ekspresi menyesal?mungkin. "Maaf baru bisa menemuimu hari ini." Tidak kuucapkan sepatah kata pun. "Pengerjaan skripsi akhirku lumayan rumit. Aku harus mendatangi beberapa kota lagi selain London. Dosen pembimbingku bahkan tidak memberiku waktu untuk berlibur. Uumm... bisakah aku mendapat maaf untuk itu, Feli?"
Aku terdiam beberapa detik, "Ooh, that's well. Okay... you're forgiven," tuturku, entah benar-benar yakin. Lagi pula sudah tidak ada gunanya mempermasalahkan hal itu. Dia tersenyum lega.
"Selamat atas kelulusanmu. Cum laude?"
"I got the best."
Tidak terlalu surprise untukku. Kutahu dia mampu mendapatkannya. "Kapan kau datang, Briand?" tanyaku. Aku harus mendengarnya langsung.
"Dua minggu yang lalu. Tapi ada urusan penting yang sulit kutinggal, aku baru bebas hari ini." Kemudian Briand mengambil beberapa foto lagi.
Aku merasa, secara tidak langsung dia seakan mengatakan bahwa janji denganku tidak jauh beda dengan mengurusi tukang parkir yang tertidur saat jam kerja. Tidak penting, begitu kah? Huh, tidak kah dia terlalu kejam?
"Oh, urusan dengan tunanganmu itu, bukan?"
"Kau sudah tahu rupanya." Briand memandang ke arahku, entah dia terkejut Karen aku mengetahui hal itu. Tapi kurasa tidak karena setelah itu ia kembali pada aktivitasnya tanpa berkata apa-apa lagi tanpa merasa perlu menjelaskan sesuatu. Hanya menyisakan rongga udara yang menyempit untukku. Apa aku yang terlalu berharap?
"Apa kau marah dengan hal itu?" katanya tiba-tiba.
Kulirik dia sekilas, "Tentu tidak, itu hakmu," jawabku dingin.
Klik. Ada cahaya blitz yang menyorotku.
"Hei, what are you doing?"
"Taking of your picture," jawabnya ringan, sambil melihat hasil jepretannya. Aku tersinggung. "Haha... lihatlah wajahmu, Feli! Sangat lucu, bukan?" lantas dia duduk dan menyodorkan kamera ke hadapanku. Aku tidak sudi melihatnya.
"Pasti akan sulit membedakan wajahmu antara sedang marah dengan tersipu malu, keduanya sama-sama memerah." Dia  cerewet sekali.
"Aku tidak marah. Itu yang kukatakan padamu," tegasku.
"Benarkah? Tapi kameraku tidak menyadarinya."
Kudorong pundaknya pelan, "Kau begitu menyebalkan."
"Ah, ya, aku juga merindukan ucapanmu itu," dia menarik kameranya lagi. Oke, aku menyesal tidak mendorongnya hingga jatuh. Aku sedikit menggeser dudukku.
"You remember 'bout my promise, Feli?" Briand meletakkan kameranya ke samping.
"Of course." Ini lah yang mengusikku sejak musim semi itu. Tentang janjinya. Tentang apa yang pernah kuharapkan dari seorang pemuda yang hanya kukenal dalam kurun waktu sekitar tiga bulan.
'Aku akan menemuimu lagi, di sini. Pada suatu sore di musim semi yang akan datang. Ada yang harus aku katakan saat hari itu tiba.' Dipenghujung musim panas itu, saat dia akan pergi untuk mengurusi skripsi. Aku masih sangat mengingatnya.
Kemudian Briand bereaksi, kuteliti apa yang dilakukannya. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku dalam duffelcoat-nya. "Untukmu," lalu menaruh suatu benda dipangkuanku.
Aku menatap benda itu, agak tercengang. Sebuah kertas tebal segi empat yang diukir indah. Undangan pertunangannya? Ini kah yang ingin diberitahunya padaku? Ternyata sebuah bumerang. Aku hanya bisa tertawa miris di dalam hati. Aku bodoh sekali!
Kuraih kertas berwarna merah hati yang diletakkan dengan menampakkan bagian belakangnya tadi. Tercium lembut aroma mawar. Ada rasa ingin tahu yang menggeliat liar di dadaku, berbaur dengan sakit. Siapakah gadisnya?
Setelah kesusahan mengambil udara, kubalik kertas tebal itu. Aku, gamang.
Ya, aku mengenal nama gadis itu. Terlalu mengenalnya. Aku langsung menoleh ke arahnya. "What do you mean?"
-Briand Arnault and Felicita Laverne-
Pemuda itu memandangku lekat-lekat, tersenyum penuh arti. Lantas meraih jemari kananku. Semua terjadi begitu cepat.  Beberapa detik semua terasa berhenti.
"Je t'aime," tutur Briand pasti, dengan logat perancis yang kental. Mata birunya memancarkan bias wajahku utuh.
Perasaanku tergugah. Kurasakan seperti ada yang mengembang bagai bunga di musim semi, rasanya sungguh penuh. Pipiku bersemu. Dan semua terasa menjadi indah. Tiba-tiba selembar daun maple gugur tepat menyentuh punggung tanganku yang tengah digenggam seorang pemuda. Musim gugur.
Aku melepas rengkuhannya. Pemuda itu kaget. "Leluconmu tidak lucu," aku bimbang. Dia suka sekali menggodaku dan membuat lelucon bukan pada waktu yang tepat. Aku pikir dia sedang melakukannya sekarang. Namun tidak kupungkiri, aku senang mendengar pernyataannya tadi. Seperti ada di musim semi yang sangat kusukai. Tapi ini musim gugur, bukan?
"It's not kidding, Feli. I'm serious, trust me!" dia berusaha meyakinkanku. Bukan dengan kata-katanya, melainkan dengan sorot matanya. Refleksi itu berbicara. Aku mengedarkan mata kesekitar, terlebih pada pohon-pohon yang sudah rontok.
"Sekarang musim gugur, Briand."
Pemuda itu mendesah berat. "Aku tahu. Maaf, karena tidak bisa mengatakannya di musim semi. Untuk membahagiakanmu," raut wajahnya penuh sesal. Dia mengerti aku menginginkan semi yang sempurna. Mungkin pemuda ini berniat membuat pengakuan di musim yang paling berarti untukku. Ah, kurasa itu sudah cukup untuk membuatku selalu bersemu.
"Baiklah, semi di musim gugur kupikir tidak terlalu buruk."
Torehan wajahnya berubah. Kembali membuat senyum tampannya. Ini adalah musim gugur terbaik bagiku. Hanya untuk tahun ini, tentunya.
"Hei..." Briand menyikutku, "Kau tersipu, wajahmu merah." Lalu dia tertawa pelan. Ah, dia memang cerewet sekali hari ini.
"Dasar tukang gosip!" balasku, berniat menyindirnya.
"Apa yang kau katakan?"
"Mudah sekali kau memberitahu janji itu pada orang lain. Kau tahu? Kakek Barry bahkan mengejekku," rajukku padanya.
Briand memandang santai ke depan, "Dia kakekku, bagiku itu tidak masalah."
Apa?
Lalu kembali menambahkan, "Aku tidak tega pada seorang gadis yang selalu duduk di sini setiap sore sejak musim semi tiba untuk menungguku. Karena aku tidak bisa segera datang, kurasa dengan mengirim Kakek untuk menemaninya akan cukup membantu."
Tidak bisa kuterima. Dia bahkan sudah berniat mengerjaiku sejak lama. Aku beranjak, melangkah meninggalkannya.
Dia berseru cepat, "Hei, kau mau kemana?"
"Mengejar kakekmu, apa lagi?" Jawabku asal. Tak acuh dan tetap melangkah.
"Hahaha..." Aku bosan mendengar gelaknya hari ini.
Dia munyusulku, derap langkahnya tidak terlalu jauh. "Cepatlah selesaikan kuliahmu, Feli! Undangan tadi akan segera diperbanyak."
"Hentikan ucapanmu! kau gila. Ck, kurasa kau lupa meminum obat migranmu."
"Tidak akan kuminum lagi obat itu."
Aku tertawa kecil. Jalan setapak ini tampak semakin lapang, tidak sadar dia telah di sampingku. Sambil menaut jemariku, Briand berbisik, "Bolehkah aku mendengar jawabanmu?"
Oh, ya, aku belum membalas pernyataan ala Perancis yang diucapkannya sempurna tadi. Aku tersenyum, lantas mengangkat bahu.
"Tunggu lah sampai musim semi kembali!"
***

Until

Just Until
Ada pesan tak kasat mata
Dilebur tanpa harus menyapa
Dirajut waktu dalam roda
Untuk sekilas rasa tak dinyana
***
    Sang mentari masih bergelayut malu, belum mau menampakkan diri sepenuh dirinya. Namun sinar meganya telah dipamerkan  kepada hiruk-pikuk kota yang masih terlihat lengang dalam konteks normal seperti biasa.
    Hal yang sama terpeta juga pada tempat orang-orang menimba ilmu untuk tingkat menengah atas itu. Waktu yang masih menunjukkan pukul 6 pagi menegaskan bagaimana suasana SMA CAKRAWALA yang masih terlihat tenang. Hanya segelintir murid rajin yang bersedia meluangkan waktu untuk bergentayangan di sekolahnya dengan datang lebih awal.
Tak terkecuali gadis manis yang sedang berjalan melewati koridor sekolah tersebut. Dengan bersenandung kecil si gadis menapaki kakinya ke arah tujuan. Rambut panjang yang di kuncir kuda ikut berayun lucu mengiringi gerak ceria sang empunya.
     Sampai di satu ruangan, gadis itu mendorong pintu yang menjadi penghalang kelas?yang dia yakini belum berpenghuni. Dengan pasti menyusuri tempat yang dipenuhi perabotan kelas, lantas berhenti tepat di sebelah sebuah meja dan kursi. Dia merogoh tas yang disampirkannya di bahu, lalu menarik sesuatu dari dalam sana. Tersenyum simpul, dipandanginya untuk terakhir kali kotak yang telah dibungkusnya rapi tersebut. Seakan puas, kotak itu kemudian diletakkan pada tempat seharusnya, di atas sebuah kursi kosong di hadapannya. Setelah memastikan aksi rahasianya lancar, si gadis manis bersiap untuk meninggal kelas bercat putih itu, mengambil langkah panjang menuju kelasnya.
***
    Siswa-siswi SMA CAKRAWALA sudah mulai beredar di sekitarnya, menyamarkan ketenangan tadi dengan riuh percakapan ala anak putih abu-abu yang diperdengarkan sepelataran jalan. Sarat akan tentang kehidupan yang masih samar digenggam. Seorang siswa berjalan santai menyusuri lorong koridor dengan selalu menatap dingin ke depan, tidak terlalu peduli dengan siswa-siswi yang ingin menyapanya.
    Murid laki-laki tadi memasuki kelas menuju dan melempar tasnya sembarangan di atas meja. Belum sempat dia duduk, tangannya tergerak memungut kotak yang sudah bertengger duluan di bangkunya. Pemuda tadi memandang kotak itu dengan bosan, tahu sekali siapa yang mengirimnya. Selang mengambil napas sebentar, pemuda itu membuka ransel miliknya dan menjejalkan kotak tadi bersama buku-buku disana. Pertanda tidak minat mengetahui apa yang ada di dalam kotak.
    Pemuda jangkung itu memutuskan untuk duduk di bangkunya, masih tetap mengabaikan apa saja yang terjadi di kelas, seperti biasanya. Setelah mengambil mp4 dan headset dari dalam saku celana, lantas menyambungkan benda elektronik itu di telinganya, dia mencoba menenggelamkan diri dalam alunan musik yang disajikan. Tidak pernah mengubris hal yang terjadi hampir disetiap harinya.
***
Karena kau tak tahu bagaimana aku menunggu
Hingga habis rasa jemu
Disitu aku masih membeku
***
    "Hai, Kak! sorry gue telat," seru seorang gadis sambil menyeka keringat yang mengalir dari pelipisnya, napasnya tersengal-sengal.
    "Enggak ada yang nunggu lo," balas laki-laki yang dipanggil 'Kak' tadi sengit, tanpa mengalihkan perhatian sedikit pun dari bola basket yang sedang dimainkannya.
     Gadis itu diam saja, masih sibuk mengatur napas karena tadi harus berlari dari laboratorium kimia ke lapangan basket yang jaraknya memang tidak dekat. Padahal sesuai yang dikatakan pemuda tadi, tak ada yang mengharuskannya melakukan hal itu.
    "Tadi gue piket dulu di labor kimia, jadi rada lama, deh," lanjut gadis yang sama seakan ada yang meminta alasan. Masih dengan napas berantakannya, tanpa mempedulikan kata-kata tajam yang jelas diluncurkan untuk dia barusan.
    Gadis manis yang tak diharapkan kehadirannya itu beringsut ke samping lapangan, memperhatikan satu-satunya pemain disana. "Kak ikutan, dong! gue udah bisa main, lho…" pintanya.
    "Ck, Kak Tama! Acha ikutan main, yah?!" Suara Acha?gadis tadi?meninggi, peringatan bahwa dia butuh tanggapan.
    "Lo… ngapain sih, kesini?! ganggu tauk!"
    "Mau nemenin lo main basket."
    "Enggak butuh!"
    "Tapi gue mau!"
    "Sayangnya gue enggak mau!"
    "Eem… enggak pa-pa."
    "Ck!" Tama berdecak kesal, karena 'enggak pa-pa' gadis itu justru menjadi 'apa-apa' baginya. Sadar tak ada gunanya berdebat dengan gadis keras kepala?yang walau sudah dicetuskan semua kata penolakan kepadanya tetap belum mampu membuat dia jera, Tama memutuskan menghentikan permainan tunggalnya.
    Tama berjalan menuju pinggir lapangan tempat ranselnya diletakkan, tepat di sisi kiri Acha. Tanpa melempar pandangan ke arah gadis yang sedang menatapnya dengan tatapan tak terbaca itu, Tama berangsur menjauh. Dengan menyandangkan tas di sebelah kiri bahunya, sedang tangan kanan membawa bola basket yang sesekali dihujam ke lantai, laki-laki tampan itu pergi meninggalkan lapangan basket. Menyisakan kesunyian untuk menemani gadis itu sendiri.
    Hari beranjak sore, semua siswa telah bubar sejak bel pulang berbunyi beberapa jam lalu, kecuali dua orang tadi. Yang kini hanya meninggalkan satu sosok berdiri di pinggir lapangan, sedang menatap punggung laki-laki yang hampir hilang.
    "KAK TAMA!" teriakan Acha diberinya jeda, berharap akan ada gerakan kecil yang timbul dari orang yang dipanggil. Tapi naas, seonggok daging hidup itu tetap melangkah maju.
    "HATI-HATI YAA!" tepat setelah kata-kata itu terucap, Tama berbelok di tikungan menuju parkiran. Membiarkan serangkaian kalimat tadi hanya mengawang-ngawang bersama angin lalu.
    Acha mendesah kecewa, disadarkan kenyataan telak bahwa perjuangannya belum bisa melelehkan bongkahan es yang kian hari makin beku saja. Bahkan untuk sekedar membiarkan pemuda itu tahu bahwa dia ada dan masih tetap bertahan untuk menunggunya.
***
Di penghujung garis cakrawala
Semburat jingga terpendar di batas senja
Membawa riak mulai menjelma
Dalam bungkam seribu makna
***
    "Kak Tama kenapa, sih, suka liat sunset?" Selalu Acha yang memulai, sambil menyantap lukisan alam hasil sang maha karya, gadis itu mencoba menciptakan suasana nyaman diantara mereka.
    Yang selalu gagal!
    "Lo kenapa enggak bosan-bosan ganggu gue?" Alih-alih menjawab, Tama malah mengeluarkan pertanyaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan prihal sebelumnya. Dia pun tak lepas menikmati detik-detik saat sang bintang siang itu pulang ke ufuk barat. Detik yang paling dia kagumi keberadaannya.
    Acha mengerutkan kening sekilas, mendapati sifat Tama. Setelah menimbang beberapa waktu?karena kalau dipikir sejurus pertanyaan itu adalah sebuah sindiran untuknya, pada akhirnya dia memutuskan untuk berinterupsi. "Karena gue yakin, lo itu sebenarnya enggak seburuk seperti yang lo tunjukin ke orang-orang. Eem… buktinya, waktu itu, lo mau nolongin gue dari preman..."
    "Berapa kali harus gue bilang, itu cuma karena gue udah enggak mau liat preman-preman mangkal disitu. Ngerusak pemandangan aja!" Tama tidak habis pikir, gadis itu selalu saja mengungkit-ungkit kejadian pertama kali mereka berjumpa, membuat dia sedikit menyesal telah mengalaminya.
    "Apapun itu," Acha terdiam sesaat  untuk mengambil napas, "bagi gue, jati diri lo yang terus lo coba bunuh itu masih tetap ada. Dan waktu itu juga pasti ada, waktu dimana lo bisa nunjukin sisi diri lo apa adanya." Acha menyelesaikan interupsi yang tadi sempat terhambat dengan tersenyum puas. Sambil menerawang lurus ke depan. Mengingat karena pemikiran itulah, Acha betah mengusik ketenangan seorang Tama?dengan reputasi buruknya, sejak kejadian sekitar sebulan yang lalu. Yang juga menjadi penyebab dirinya malah terkadang melakukan hal-hal tidak masuk akal.
    Tama menaikkan sebelah alisnya, bingung dengan racauan gadis yang terasa tepat menohoknya. Membuat dia berpikir dalam diam tentang gadis itu sebenarnya.
    Acha mengalihkan pandangannya kembali, "sekarang gilirin lo yang jawab pertanyaan gue tadi!" tagihnya.
    "Gue enggak bilang mau jawab."
    "Ah, Kak Tama mah, curang!"
    "Enggak usah bawel!"
    "Jawab dong, Kak!" rajuk Acha lagi.
    Hening.
    Acha mengerucutkan bibirnya ke depan, melihat tingkah Tama yang kumat?lagi. Tapi, diam-diam gadis berparas indah itu bersorak dalam hati, tahu karena hari ini Tama tidak sedingin biasa, setidaknya.
    Membuat sore di bukit belakang taman itu lebih berkesan ditemani pesona sinar jingga yang menimpa mereka, walau hanya dibalut tanpa suara. Keduanya tahu, ada yang lebih menggema dari sekedar kata.
***
Adakah jiwa yang kan terjamah
Dengan nada tersampaikan indah
Tuk sekedar menyapu lelah
***
    "Kak Tama enggak pa-pa, kan?" Itu adalah pertanyaan terbodoh yang pernah Acha ajukan, karena saking paniknya melihat keadaan Pemuda itu. Tama yang sedang terkapar di aspal dengan lebam dan darah segar yang mengalir dari sekitar bagian wajahnya. Untungnya, tadi Acha berhasil mencuri dengar pembicaraan Tama dengan seseorang via HP saat dia tengah menghampiri Tama. Pemuda itu menyebutkan sebuah tempat dalam pembicaraannya, dan di sini lah mereka sekarang.
    Acha duduk bersimpuh disamping Tama, membantu menegakkan tubuh yang lemah itu dari posisi tergeletak. "Kok bisa gini sih, kak?" tanya Acha lagi, setelah berhasil membantu Tama untuk duduk. Tapi tiba-tiba tangannya ditepis oleh Tama.
    "Enggak usah banyak tanya!" Seakan ingin membentak namun terbebani dengan keadaannya, "dan lo enggak perlu sok perhatian sama gue!" tegas Tama di sela-sela lemahnya, namun nada sinisnya dapat ditangkap jelas.
    Air mata Acha seketika terbit, bukan hanya untuk kesedihan yang dari tadi ditahannya saat melihat keadaan pemuda didekatnya ini, terlebih disebabkan sayatan yang baru dibuat oleh orang yang sama.
    Tapi, beberapa detik kemudian air mata itu telah raib, diseka oleh tangannya sendiri. Seberapa kejam pun Tama, anehnya dia berusaha tidak peduli. "Gue obatin ya, Kak?" sapa Acha, tak menyerah.
    Tama mengabaikannya. Pemuda itu bangkit dengan sisa-sisa tenaga yang dia punya, tanpa ingin dibantu gadis itu lagi. Dalam hati sesungguhnya tidak habis pikir, apa yang sudah dimakan oleh gadis bodoh itu sampai dia kebal sedemikian rupa.
    Namun tak dinyana, ada bagian hatinya yang tergerak saat menangkap cairan bening tadi menetes dari sudut mata Acha. Untuk pertama kalinya Acha menangis di depannya. Entah dia iba kepada gadis itu atau apa pun lah, yang jelas hal tersebut sangat mengganggunya. Seperti torehan tak kasat mata.
    Susah payah Tama berjalan menjauhi tempat itu dengan agak terhuyung sambil memegangi kepalanya. Berusaha menghidar agar rasa tadi tidak bersarang terlalu lama di hatinya. Takut malah nanti dia yang berkelakuan melewati batas sadar. Pemuda itu langsung masuk ke Luxionya. Tanpa mempedulikan lagi apa yang ada disana, Tama pergi.
    Penyampakan barusan benar-benar sudah memperparah sakitnya. Meninggalkan gadis itu sendiri lagi untuk kesekian kali, yang sekarang malah ditemani dengan isakan memburu yang tak tertangguhkan seperti biasa. Mengorek jejak luka yang belum sempat dikeringkan. Kini, hanya ada kesunyian yang dirasakan Acha di tempat ini, bahkan lebih mencekik dari apa yang terlihat disana. Ditempat sepi itu, sebuah gang buntu terlindungi tembok tinggi menjulang di tiga sisi, Acha menangis seorang diri.
***
    Setelah cukup menjauh, Tama menghentikan mobilnya di pinggir jalan untuk menenangkan diri yang baru selesai berjibaku mempertahankan martabatnya. Nyeri yang menggerogoti hampir seluruh bagian tubuhnya itu benar-benar mengganggu, membuat dia tidak dapat berkonsentrasi mengemudikan mobil. Laki-laki itu melirik ke arah benda yang terletak di dashboard mobilnya, sebuah benda yang diberikan gadis yang baru saja dicampakannya beberapa menit lalu. Benda pertama yang diberikan gadis itu secara langsung kepadanya, sesaat sebelum dia pergi ketempat laknat yang baru dia tinggalkan. Sebuah CD.
    Dan untuk pertama kalinya juga?entah mengapa, Tama ingin tahu apa yang dipersembahkan gadis itu untuknya melalui sekeping CD tersebut. Tama memanfaatkan fasilitas yang ada di mobilnya. Tak perlu menunggu lama, sudah ada suara menggema di dalam sana. Nada yang diawali dentingan piano pertanda intro.
    I look in your eyes and I can see
    That love's a dangerous thing
    You're not trusting your heart to anyone
    You tell me you're gonna play it smart
    We're through before we start
    But I believe that we've only just begun
    When it's this good, there's no saying no
    I want you so, I'm ready to go
    Tama memejamkan matanya menikmati suara merdu Acha yang mengalun lembut bersatu dengan nada-nada piano. Merasakan hatinya ikut berdenyut menangkap pesan tersirat yang coba Acha sampaikan padanya.
    Through the fire To the limit, to the wall
    For a chance to be with you
    I'd gladly risk it all Through the fire
    Through whatever, come what may
    For a chance at loving you
    I'd take it all the way
    Membayangkan wajah gadis yang suaranya sedang dia dengar, hingga pemuda itu dapat merasakan rasa sakitnya sekarang berbaur dengan tarikan senandung pilu yang sedang dimainkan. Merajut satu cerita sendu yang sangat dikenal.
    Right down to the wire
    Even through the fire
    I know you're afraid of what you feel
    You still need time to heal
    And I can help if you'll only let me try
    You touch me and something in me knew
    What I could have with you
    Well I'm not ready to kiss that dream goodbye
    When it's this sweet, there's no saying no
    I need you so, I'm ready to go
    Through the test of time
    Through the fire, to the limit
    Through the fire, through whatever
    Through the fire, to the limit
    Through the fire, through whatever
    (Shioban Magnus - Through the Fire)
***
Dan selalu ada asa dalam cerita
Melambung lepas menembus daya
Tapi akhirnya harus terkurung di pelupuk tinta
***
    2 hari kemudian
    Toh, gadis itu tetap bertahan, mengabaikan sang hati yang berontak kesakitan. Memilih kedinginan disamping si bongkahan es dengan harapan dapat mematenkan thesis hatinya, untuk menununjukkan bahwa pada nantinya dia lah yang benar, dan dia menang. Tapi yang sebenarnya sedang gadis itu perjuangkan bukan lagi hanya tentang thesis hati, melainkan seluruh jiwa yang dia persembahkan. Sempurna.
"Kak Tama, gue boleh nebeng pulang, enggak? Sopir gue lagi sakit." Dengan khusus Acha mendatangi Tama yang masih berada di kelas, sedang membereskan alat tulis selepas bel pulang.
    "Enggak bisa, gue ada urusan."
    "Udah Tam, anterin aja! Songong amat sih, lo!" celetuk Riki, teman sebangku Tama sekaligus sahabat terdekatnya.
    "Kalau lo mau, lo aja sono yang nganterin," tantang Tama dingin.
    "Jiah, enggak usah panas gitu kali, Tam!" Riki terkekeh, "gue sih mau aja, tapi… masalahnya gue udah janji sama Fira mau nemenin dia beli gitar."
    "Ya udah, deh kak, enggak pa-pa. Gue balik sendiri aja." Acha memecahkan perdebatan kecil mereka. Tama hanya diam.
    "Eh, beneran enggak pa-pa nih, Cha?" Riki memastikan.
    "Iya..."
    "Oke deh, hati-hati ya!" Riki menyaut lagi.
    Setelah melempar senyum kepada keduanya, Acha melangkah pergi.
    "Tadi enggak mau, sekarang malah diliatin gitu," Riki menggoda, mendapati sahabatnya tengah menatap gadis yang telah ditolaknya berkali-kali itu pergi menjauh sampai hilang dibalik pintu.
    "Siapa yang ngeliatin dia!" elak Tama.
    "Ooh, berarti gue yang buta, dong."
    Lagi-lagi Tama memilih bungkam, tidak mau makin mati gaya.
    "Eem, Tam..." Riki masih menggantung perkataannya, mencari kalimat yang pas. "Kenapa lo harus bohong, sih?"
    "Bohong? Kapan gue boh…"
    "Gue tahu lo, Tam," sela Riki, tidak sabar. "Lo itu udah bohongin diri lo sendiri, terutama Acha." Lanjutnya lagi.
    Tama mendesah, sedikit menyesali mengapa orang disampingnya ini terlanjur mengerti dirinya. "Gue...gue terlalu buruk buat Acha, Ki. Enggak pantes!" aku Tama, akhirnya. Tersenyum miring, Tama meneruskan, "emang, apa sih, bagusnya anak broken home dan brandalan enggak berguna kayak gue?"
    "Lo pikir Acha peduli sama masa lalu lo yang udah basi itu!" Riki menaikkan suaranya satu oktaf, geram melihat temannya jadi cemen begini. "Enggak bisa liat dari semua yang udah dia lakuin buat lo?, Acha tulus, Tam."
    Tama menghempas napas lelah, "Gue enggak mau ngecewain dia," lirihnya, terdengar putus asa. Riki turut menghela napas, merasa ikut terbebani. "Enggak akan, selama lo bisa jujur sama kenyataan, Tam." Pemuda bergaya rambut harajuku itu meyakinkan.
    Riki tahu Tama tidak terlalu bodoh untuk menyadari kesalahan yang terlampau berlarut ini. "Gue yakin lo bisa sob," seru Riki lagi sambil menepuk pelan pundak Tama, lalu beranjak dari kursinya. "Gue duluan! Fira udah nunggu." Pemuda itu melenggang pergi tanpa menunggu jawaban Tama lagi.
***
    Drrt. Drrt.
    HP Tama bergetar, ada sebuah pesan masuk.
    Cewek lo ada sama gue. Gue tunggu lo di tempat kemarin
    Sender: Deni
    Tanpa perlu pikir dua kali, Tama yang baru sampai di pekarangan rumahnya langsung masuk lagi ke mobil, lalu melarikan kendaraan itu menembus jalan raya dengan kecepatan di atas rata-rata.
***
    Pemuda itu memarkirkan Luxio-nya sembarangan saat memasuki tempat dengan keadaan suram yang mencekam itu.
    "Akhirnya lo datang juga," sambut seseorang. Ada lebih dari 10 orang sangar disana.
    "Dia enggak ada hubungannya dengan masalah kita." Rujuk Tama langsung, menjurus ke gadis tidak berdaya yang sedang dijaga dua pemuda di kanan-kirinya, dengan tangan terikat dibelakang.
    "Emang enggak ada, tapi kayaknya bisa gue pakai buat ngerjain lo," tawa Deni seketika meledak.
    Tama tidak membalas perkataan rival sejatinya itu, tahu bahwa akan ada yang tidak baik nantinya, terutama untuk gadis di sana.
    "Kecelakaan trek setahun lalu yang gara-gara lo itu, udah ngebuat gue enggak bisa main bola lagi, seumur hidup. Padahal lo tahu kalau gue…"
    "Yang kemarin enggak cukup?" sela Tama, jengah dengan semua tuduhan tersebut.
    Deni tertawa sinis, "gue mau lo juga hancur, tanpa ada perlawanan sedikit pun yang bisa lo perbuat." Permintaannya telak.
    "HABISIN!" komando Deni.
    Mendadak Tama membatu, merasa kehilangan seluruh kemampuaannya untuk mempertahankan diri. Dia hanya bisa membiarkan hujaman pukulan, tendangan, dan benda-benda tumpul terus menghantam tubuhnya hingga dia jatuh dan terkulai tak berdaya. Benar-benar tanpa usaha pencegahan.
    Dentuman bertubi-tubi itu diiringi tawa puas Deni. Senang sekali bisa menghancurkan musuhnya sejak beberapa tahun lalu. Lamat-lamat terdengar suara isakan seorang gadis yang kini berdiri hanya dengan satu penjagaan?yang tidak berarti, tidak jauh dari tempat eksekusi. Karena penjaga satunya tengah asik bergulat di depan mata gadis itu, turut menghabisi Tama.
    "Cukup, deh!" ujar Deni santai. Sekejap kerumunan itu bubar. Deni berjalan mendekat ke arah Tama, mengambil balok besar yang tergeletak disana. Dengan satu tangannya, Deni menegakkan paksa tubuh Tama yang sudah terlalu lemah. Lalu mencengkram kerah pemuda itu kuat-kuat, hampir mencekik, sambil melanjutkan intimidasinya. "Hah, ternyata enggak sulit buat ngancurin lo!"
    Tama tidak mempedulikan perkataan Deni. Matanya sibuk mencari gadis yang sedang menangisi nasibnya, satu-satunya hal yang tidak disukainya dari Acha. Membuat rasa sakit yang Tama rasakan bertambah dalam.
    'Jangan nangis Cha, please!'
    Acha terpekur menyaksikan penyiksaan yang terjadi pada Tama disertai rasa bersalah. Berharap Tuhan mau mengabulkan satu dari doa-doa yang dia panjatkan sejak tadi.
     "Kak Tama," lirih Acha di sela tangisan pilunya, tanpa terdengar. Suaranya hampir tandas karena menangis. Maka, saat dia melihat Deni melepas cengkramannya dan mulai mengangkat balok itu untuk dipukulkan kearah Tama, Acha tidak berpikir panjang untuk langsung berlari.
    Tidak ada yang mengira dengan hal itu, termasuk Tama yang memang tidak memperhatikan pergerakan Deni.
    BUUK
    Tepat saat Acha menabrak tubuh Tama hingga tersungkur jatuh, balok itu mengenai batok kepalanya. Acha terjerembab ke lantai aspal, dan dalam sekejap darah mulai bercucuran dari sela-sela rambutnya.
    "Gila lo, Den! Cewek tuh!" jerit salah satu anak buah Deni. Semua terkejut, tidak terkecuali pelakunya. "SIA!" umpat Deni.
    Tidak mempedulikan orang-orang bejat yang masih ada, Tama dengan tubuh remuknya merangkak ke arah Acha. Mencoba melakukan hal yang mustahil disana, membangunkan gadis itu.
    Beberapa saat kemudian sirene polisi mendekat kearah mereka dengan diiringi Riki yang tadi sempat diberitahu Tama sebelum pergi. Tapi sayang, kedatangan mereka pada waktu yang terlambat.
***
    Lorong bernuansa putih itu senyap, hanya ada obrolan ringan beserta suara hentakan kaki orang-orang yang mau mendatangi tempat ini pada malam hari dan juga para pekerja disana. Aroma karbol yang begitu menyengat, menusuk indra pencium setiap umat penghuninya. Tama termangu di kursi panjang koridor rumah sakit itu, luka-luka yang dialaminya sudah diobati secara kilat dengan sedikit paksaan pada suster yang merawatnya tadi. Kemeja putih yang ia kenakan masih dipenuhi bercak darah.
    Disebelah Tama, duduk seorang wanita paruh baya dengan mata sembab akibat terlalu banyak memproduksi cairan dari sana.
    "Maaf Tante, ini semua salah saya," cicit Tama memecah keheningan. Karena sedari tadi mereka hanya larut dalam diam. Dengan gerakan menyeka sisa-sisa dari kesedihannya, wanita itu menoleh ke arah Tama.
    "Kamu Tama, kan?"
    Tama tersenyum kecut mengiyakan pertanyaan klise itu.
    "Acha sering cerita tentang kamu. Ah, bukan sering lagi, bahkan hampir seluruh topik pembicaraannya menyinggung tentang kamu. Akhirnya, Tante ketemu dengan orangnya langsung." Ujar wanita itu layaknya memberi laporan. Seperti melupakan maksud perkataan pemuda tadi adalah meminta maaf. Sejujurnya mama Acha tidak tahu juga harus bersikap bagaimana. Beliau mengerti mengapa putri semata wayangnya melakukan tindakan kelewat ekstrim seperti yang terjadi. Masalah hati, dan tidak ada yang mengerti hal itu selain sang pencipta dan pemiliknya.
    Senyum Tama makin tidak enak mendengar pengakuaan langsung dari mama Acha. Menghantamnya kian terpuruk dalam rasa bersalah. Menyudutkannya dengan sesak yang menghimpit.
***
    Beberapa hari kemudian.
    Gadis itu masih saja betah dalam posisinya, tertidur pulas di ranjang rumah sakit dengan kepala yang dilit perban. Tidak mempedulikan waktu yang terus berlari, hingga telah memasuki hari keenam. Tama menatap sendu wajah pucat Acha, luka yang sudah ditabung hatinya sejak beberapa hari yang lalu semakin bertambah dan menyiksa. Ada rasa penyesalan atas tindakannya tempo hari yang tidak mau mengantar Acha pulang sehingga menyebabkan kejadian ini terjadi.
    Pemuda itu melihat ke arah dinding yang tetap bernuansa putih itu, belum jam 9 malam tapi dia sudah merasa mengantuk. Tama memutuskan keluar dari sana, pergi menuju kantin rumah sakit untuk sekedar menghilangkan kantuknya.
***
    Tama sedang menyantap coffee cream-nya, saat handphone di sakunya berdering. Memaksa dia menghentikan kegiatan, "ada apa, Tante?"
    "Acha sudah sadar, Tam," jawab orang diseberang telfon.
    Tama sampai di depan kamar Acha dengan berlari tepat saat bersamaan dengan mama Acha dan seorang dokter baru keluar dari dalam ruangan.
    "Acha beneran udah sadar, Tan?" tanya Tama menggebu. "Iya, tap..."
    "Tama masuk sekarang, ya?"
    Tanpa menunggu kelanjutan kata-kata dan persetujuan mama Acha, Tama langsung menyeruak ke dalam ruangan. Tama berjalan mendekat ke ranjang gadis?yang sedang memandang ke arah jendela, dengan rasa nano-nano di dadanya. Sedih, rindu, bahagia, berkecamuk jadi satu.
    "Hai, Cha..." Gadis itu memalingkan pandangannya dari luar jendela menuju orang yang menyapanya. "Gue kange...en…" Tama tidak meneruskan kata-katanya, bukan karena masih gengsi mengatakan kata 'kangen' tadi, melainkan karena dia mendapati tatapan kosong dari gadis itu untuknya. Tatapan yang tidak dia kenal, berbeda dengan 'biasanya'.
    "Eem, maaf kamu... siapa?"
    Tama cengo. Sejadi-jadinya. Apa-apaan ini?
    "Ee..." Tama ikut linglung, melihat tatapan ketidakpura-puraan Acha.
    Tiba-tiba mama Acha masuk dan berjalan perlahan mendekat ke putrinya. Sambil tersenyum maklum, wanita itu berkata mengagetkan, "ini kak Tama, sayang. Dia...kakak kelas kamu di sekolah."
    "Ooh..."
***
    Ingatan itu menghilang, cerita itu melayang, dan rasa itu tenggelam.
    Karma kah yang tengah dihadiahkan kepada pemuda itu? Sampai rasanya dia mau mengiba untuk dirinya sendiri. Entahlah, Tama sendiri tidak mengerti. Yang dia tahu hanya sekarang sedang dipaksa menelan kenyataan pahit yang dijejalkan untuknya.
    Tidak ada yang tersisa untuk pemuda malang itu. Hanya raga yang nelangsa, dan tidak tahu lagi jati diri sesungguhnya. Membuat pemuda itu meyakini sepenuh hati tentang pepatah yang mengatakan 'sesuatu akan terasa sangat berharga apabila kita telah kehilangannya'. Dan lagi-lagi, pemuda itu harus menelan pil pahitnya, tersadar kenyataan bahwa tak ada lagi makna dari nada yang pernah dilantunkan untuknya, apalah lagi arti benda-benda yang menyembul dari dalam kotak?yang baru beberapa hari lalu diketahui isinya, setelah lama terabaikan di kamarnya, kalau sang pemberi merasa tidak pernah mempersembahkannya.
    Masa lalu suram, hal itu lah yang menjadi tameng Tama selama ini. Memaksa dia menghukum dirinya dengan menjauh dari yang namanya cinta. Lebih memilih mengorbankan hatinya sendiri. Dan sekarang, hal itu telah bermetamorfosis menjadi bumerang bagi hidupnya, terlebih untuk hari ke depan.
***
    "Kita mau kemana sih, Kak?" tanya Acha saat Tama membawanya keluar dari kamar rawat. Acha diperbolehkan keluar karena keadaan fisiknya sudah beranggsur membaik, namun tidak berarti sama sekali pada ingatannya.
    "Katanya bosan di kamar terus."
    "Iya sih, tapi masak aku enggak boleh tahu kita mau kemana."
    "Ntar juga kamu tahu."
    Tama menghentikan kursi roda Acha di taman rumah sakit. "Cha, mau duduk di rumput?"
    Acha hanya mengangguk kecil sambil tersenyum. Hati-hati Tama menggendong gadis itu dari kursi roda, lalu mendudukkan Acha di rumput yang juga diikuti olehnya. Selang beberapa saat mereka habiskan dalam sunyi, menatap langit sore yang mulai berubah gelap.
    "Kak Tama kenapa suka liat matahari tenggelam?"
    Deja Vu!
    Tama menoleh cepat kearah Acha yang sedang menatapnya dengan tanya. "Eh, Aku cuma nebak doang kok. Salah ya, Kak?"
    Tama terhenyak sesaat, menyadari gadis lupa ingatan ini mengulang pertanyaannya dulu, menebak bahwa dirinya menyukai fenomena alam itu?hal yang sebenarnya juga tidak disenangi Tama dari gadis itu dulu, terkaan yang selalu benar. Padahal ini kali pertama Tama mengajak Acha lagi melihat sunset. Pemuda itu menatap lekat-lekat manik mata Acha, berharap menemukan sisa-sisa memori yang tertinggal disana untuknya.
    Nihil.
    Angan yang sesaat tadi coba direngkuh Tama terhempas bersama dirinya, karena realita berbicara, mata itu tetap berbeda. Tama membuang napas berat, kembali menatap ke depan sambil menjawab. "Kamu bener kok, Cha..."
    Tama diam sejenak, mencoba merangkai jawaban yang dulu tidak mau dia lontarkan kepada gadis yang masih sama, atau memang tak ada jawaban untuk pertanyaan itu. "Aku enggak punya jawaban dari pertanyaan kamu tadi, Cha. Karena menurut aku, kalau ada alasan kenapa suka sama karya tuhan itu, artinya aku juga mau memilikinya. Bukan itu yang aku butuhin, Cha. Aku cuma butuh sesuatu yang akan selalu aku dapat dari sana. Apapun, yang selalu membuat aku merasa lebih baik."
    Acha tertegun, sesungguhnya tidak terlalu mengerti dengan penjelasan Tama tadi. Terlebih karena nada pemuda itu saat menjelaskannya terdengar miris. "Ooh, gitu ya, Kak. Tanggapnya bingung.
    Tama melihat ke arah Acha lagi, hanya untuk tersenyum menatap gadis itu lalu kembali memandang jagad luas. Ada rindu tak tertahan yang ingin Tama urai dengan mengiring gadis itu kesini. Mencoba mengenang sendiri cerita yang terlewatkan. Karena Acha takkan mungkin mengerti dengan kisah-kisah pengabaian yang sedang Tama reka ulang, walau kenyataannya dia lah tokoh utama dalam sandiwara kehidupan itu. Menyadarkan Tama akan suatu keputusan. Sejak Matahari yang telah menghilang beberapa detik yang lalu, dia sudah menentukan pilihan.
    Walau nanti harus tertatih dan terjatuh lagi, Tama telah bersabda dalam hati akan terus berlari untuk meraih gadisnya kembali. Merajut cerita yang berbeda dengan rasa yang tak lagi sama. Memulai kembali semua itu dari awal. Mungkin, entah akan berapa kali benang semangatnya itu nanti putus, atau, dia akan sering merasakan perih akibat tertusuk jarum ketulusan miliknya sendiri, dia tidak terlalu acuh. Tama berharap, dia akan menemukan takdir terbaiknya. Apapun itu.


Story in memories

Aku memandang refleksi diriku dengan puas di depan sebuah cermin besar yang berada di kamarku. Dress hitam selutut ini terlihat pantas dikenakan olehku dengan aksen tak berlebihan yang menghiasinya. Aku membiarkan rambut panjangku terurai melewati bahu dengan sedikit gelombang pada ekornya. Aku tersenyum simpul, semua telah siap. Suara dering handphone membuatku agak terperanjat, pertanda pesan baru saja masuk. Santai aku bergerak meraih HP yang tergeletak sembarang di ranjang. Setelah memastikan isi pesan singkat itu aku mendesah lega, langsung menyambar tas yang terletak disitu juga dan memasukkan HP tadi kedalamnya. Segera melangkah panjang menuju luar.
***
Beberapa saat aku sempat memperhatikan plang besar bertuliskan nama sebuah Sekolah Menengah Atas di kota ini, sebelum Swift putih yang kutumpangi benar-benar melewati gerbang besar yang menjadi pintu utama sekolah. Tiba-tiba ada rasa rindu yang merambat liar di dadaku, sudah lama aku tidak mendatangi tempat ini. Tempat yang walau hanya menyimpan sebagian kecil dari masaku, tapi banyak cerita yang telah terukir di sana. Mampu membuat jejak dalam di hatiku.
Setelah memastikan mobil itu terparkir dengan manis di tempat yang sudah disediakan, aku dan pemilik mobil tadi berjalan beriringan sambil berbincang ringan menuju tempat perhelatan. Saat itu kami melewati koridor sekolah, membuatku mengalihkan sedikit perhatianku dari pembicaraan untuk sekedar memperhatikan koridor yang biasa aku lewati dulu. Tak ada perubahan yang berarti pada lalu lintas sekolah ini. Selain cat pada dinding dan tiang penyangga gedung yang direnovasi, semua masih terlihat sama. Dari sini aku bisa melihat lapangan upacara dan lapangan basket yang lengang.
Sesampai di depan pintu aula yang dijadikan tempat acara aku berhenti sesaat, mengedarkan pandanganku menyapu keseluruh ruangan. Bukan untuk mencari seseorang, namun hanya mencoba meyerap euforia acara ini, sebelum benar-benar memastikan diriku turut larut di dalamnya.
"Hei, Shin..." aku mendengar teriakan tertahan memanggilku, bersamaan dengan tepukan pelan di bahuku yang otomatis membuat aku menoleh ke samping.
"Via!" jeritku, reflek menyebut namanya. "Lo apa kabar?" kami langsung bercipika-cipiki. Setelah itu, aku dan Via telah larut dalam cerita seputar debut kami masing-masing selepas SMA. Sambil mulai menyusup ke dalam ruangan itu, aku dan Via masih saja asik bercurhat ria, sekilas melupakan ada orang lain selain kami berdua.
"Eh..." celetukku menyadarinya, sambil melirik pria manis di samping Via, yang membuat pembicaraan kami berhenti. Via turut meliriknya lalu tersenyum maklum.
"Oh iya, kenalin Shin, ini kak Dani. Eem, cowok gue."
"Ooo... Shinta..." Aku mengulurkan tanganku.
"Dani... panggil aja Dan," balasnya, tersenyum manis sambil menyambut uluran tanganku. Entah mengapa Via terlihat sedikit tersipu setelahnya.
"Dia tadi ke mana, Shin?" tanya Via, menjurus kepada pria yang menemaniku tadi yang belum sempat bergabung dalam percakapan.
"Pergi bentar, nerima telfon."
***
Ngiiiiiiiikk
Pintu itu berderit pelan, memberikan celah yang cukup untuk aku masuk ke dalam ruang tersebut. Salah satu kelas yang ada di sekolah ini. XII IPA 3, tertulis di pintu atasnya. Sedikit ragu aku berjalan memasuki ruang kosong itu membiarkan rasa rindu kini semakin mengintaiku. Sampai di satu meja aku membeku, tanganku bergerak meraba mejanya, meja yang terletak nomor tiga dari depan di barisan paling ujung. Rasa itu kian parah disertai sesak yang seketika saja menyeruak. Aku menghembuskan napas berat, berusaha menenangkan diri.
Aku bersandar di meja itu, tersenyum tipis menatap meja di depanku, di sebelah barisannya?mejaku. Dan kenangan-kenangan itu pun seakan menyergap tanpa ampun, mendesak ingin keluar karena sudah sedari tadi terkontaminasi hal-hal sensitif tentangnya. Aku mengeratkan pegangan di tepi meja, lalu perlahan menutup mata, memutar kaset masa lalu yang telah lama tersimpan. Kisah klasik masa abu-abu bersama seseorang.
>>>
"Sst..sst...Yo! nomer dua, dong!" ucapku pelan, memastikan guru di depan sana tidak dapat mendengar cicitanku. "Ck..." aku berdecak kesal meratapi anak laki-laki yang duduk di sebrang kiriku itu tak kunjung menoleh.
"Yo, Mario Ardana! nomer dua!" pintaku hopeless.
Akhirnya pria itu mengalihkan pandangannya ke arahku sambil memutar bola matanya, yang membuat aku membuang bernapas lega.
"Apaan, sih lo? Ganggu konsentrasi aja," protesnya tidak terima. Tapi aku tak peduli, ini sudah urgent.
"Nomer dua..." jawabku tidak terlalu ambil pusing. Karena soal ulangan kimia yang ada di depanku ini sudah cukup menyita pikiranku. Dengan sedikit kesal, Rio menggeser kertas jawabannya ke samping meja agar aku bisa menyontek. Sepertinya konsentrasinya benar-benar terganggu olehku.
"Iiiih... kagak keliatan begoookk!"
Rio langsung melotot sangar kepadaku, membuat aku jiper setelahnya. "Heh! Enak aja lo ngatain gue begok, yang nyontek, kan elo. Siapa yang begok sekarang?" katanya sadis.
Hanya nyengir bodoh, "Iya... tapi itu kagak keliatan Rio CAKEEEEP."
"Lo-nya aja tuh, yang katarak, dasar! Liat noh sendiri!" Rio terlanjur sensi. Mungkin jika Rio adalah seorang penyihir, dia sudah membacakan mantra paling mutakhirnya untuk melenyapkanku. Rio menggeser kertasnya lagi dengan kasar agar lebih mendekatkan ke pinggir, tapi tetap saja itu tidak membantu. Ya iyalah, Rio cuma geser dikit.
Rio kembali mengerjakan soalnya dengan santai, hanya sesekali kerutan terpeta didahinya. Tanpa memperdulikan aku lagi, yang sedang kelimpungan. Dengan harapan yang hampir tandas, aku melirik ke depan kelas, memastikan situasi aman. Aha, ternyata sesuai harapan. Ibu guru Kimia yang galak itu sedang sibuk dengan bukunya.
Dengan gerakan cepat aku mencoba menarik kertas yang sedang digunakan Rio menulis itu untuk bisa aku lihat, yang membuat sang empunya terganggu?lagi. Maka terjadilah aksi geser-menggeser kertas jawaban Rio di mejanya. Teman-temanku hanya menatap ngeri ke arah kami. Bahkan Via yang duduk tepat di belakangku telah memberi isyarat agar jangan macam-macam, aku tidak mengubris. Suasana ulangan yang tenang tadi kini agak terusik oleh ulah kami. Ugh, Rio menyebalkan sekali!
    Karena kepentinganku yang sudah mendesak dan kegeramanku akan tingkah Rio, aku beranjak dari tempat duduk lalu mencondongkan tubuhku ke arah Rio, ingin mengambil kertasnya hingga aku dapat menguasai sepenuhnya. Namun disaat bersamaan, "SHINTA! RIO!" menggelegar dari depan kelas. Uh-oh!
Akibat kegaduhan kecil yang kami perbuat, aku dan Rio harus naas menerima hukuman.
"Gara-gara lo, nih Yo... kita jadi dihukum gini, kan!"
"Berisik, lo!"
"Lo tuh, yang nyebelin!"
"Heh, sedeng! Lo bisa waras dikit kagak? Yang ada mah, gara-gara elo."
Aku cemberut. "Yeee... kalau lo nyontekinnya bener, kan enggak gini jadinya."
"Wooo... enggak tahu diri banget, sih idup lo. Udah dicontekin juga, pake ngatain begok lagi tadi."
"Ah, elo mah..."
Aku makin memajukan bibirku beberapa inci ke depan, benar-benar kesal dengan Rio. Yah, walaupun kalau dipikir menggunakan akal sehat memang aku yang salah. Tapi, posisi aku tadi adalah orang yang butuh pertolongan, jadi wajar saja bukan? pikirku keukeh.
Terik panas dari sang mentari seakan mendukung hukuman yang sedang kami jalankan. Aku rasa binatang melata pun enggan keluar dari tempat amannya.
"Lagian elo Shin... udah tahu mau ulangan kimia, bukannya belajar. Kayak otak lo encer aja di bidang begituan." Rio menyinggungku lagi, membuat tumbukan kekesalanku bertambah tinggi, pakai ngatain pula.
"Bawel lo, ah..."
"Ini tuh semester terakhir kita di sini, kasih kesan yang bener, dong!"
"Berisik banget sih lo... ini juga gue lagi ngasih kesan yang bener," jawabku ngeyel.
"Bener-bener hancur maksud lo?"
"HEI KALIAN! LAGI DIHUKUM MASIH SEMPAT MENGOBROL. HORMAT BENDERA YANG BENAR!" perintah ibu Winda, makin sangar. Teriakan yang mampu mengacaukan perdebatan tak penting kami.
Aku melirik Rio yang sedikit bersunggut karena teriakan itu, lalu kembali membenarkan posisi tegak dan hormatnya ke arah bendera. Dengan berat hati aku mengikutinya.
***
Aku tertawa kecil mengingat kejadian itu, beberapa bulan sebelum kami menghadapi Ujian Nasional. Mencoba melupakan rasa yang membebaniku tadi. Merasa cukup tenang, aku memutuskan keluar dari kelas itu dan melanjutkan langkahku ke tempat lain yang ingin kukunjungi juga.
Aku menatap kursi-kursi panjang yang berjejer di ruangan luas ini, lalu berjalan ke arahnya dan mendarat disana. Dari kursi penonton ini, aku seakan melihat visualisasi aku dan Rio yang sedang berkejaran bermain basket di lapangan itu. Saling rebut bola yang akan diakhiri dengan gelak tawa kami yang menggema ke seluruh penjuru.
Mungkin karena terlalu asik menerawang, aku sampai tidak menyadari kalau ada seseorang yang masuk ke GOR ini. Hingga dia duduk di sampingku dan mengagetkanku.
"Hei, sedang apa?" tanyanya lembut, tak mau aku terlalu terkejut.
"Eh, nggak ada. Uum... cuma lagi... kangen..."
Aku tidak melanjutkan perkataanku. Hari ini aku menjadi lebih pendiam di depannya, kurasa dia bisa memaklumi keadaanku. Lelaki berkemeja abu-abu itu hanya terseyum menanggapiku. Tak sadar malah turut denganku, larut dalam kenangan.
"Masih sama ya, Shin?" suaranya kembali terdengar.
Aku tersenyum tipis, "Iya."
>>>
Riuh suporter yang meneriakan tim kebanggaannya membahana di GOR SMA TUNAS JAYA, SMA tempatku menimba ilmu. Aku tentu tidak mau tinggal diam. Dengan posisi paling dekat dengan lapangan, aku sudah siap berkoar untuk memberi semangat kepada tim sekolahku tercinta.
"Rio!" seruku sambil melambaikan tangan, mendapati pelaku yang kupanggil baru saja memasuki pintu GOR bersama beberapa temannya yang sudah lengkap dengan seragam basket kebanggaan mereka.
"Semangat, ya! Gue yakin kalian pasti menang," cerocosku sembari tersenyum menyemangati saat dia sampai di hadapanku. Rio membalas senyumku, mengangguk menyanggupi sambil memberikan ibu jarinya. Kemudian dengan sigap langsung mengacak-acak mahkotaku.
"Iih Rioooo enggak pake diacak-acak kali, rambut guenya. Udah cakep ini!" Aku menepis tangan Rio lalu mencak-mencak heboh sambil merapikan rambutku. Terdengar  tawa renyah milik Rio setelahnya.
>>>
PRIIIIIIT.
Peluit wasit dibunyikan, tanda pertandingan dimulai. Aku kontan heboh memberi semangat sambil memperhatikan pergerakan tim sekolahku yang sedang beraksi di lapangan, terlebih Rio. Saat mataku jelalatan menikmati permainan yang sedang disuguhkan oleh dua tim tangguh itu, indra penglihatku tidak sengaja tertuju pada sosok yang berada di lapangan yang sama.
Deg!
Jantungku yang dari tadi sudah dipompa bergerak cepat karena suasana pertandingan, seketika menjadi lebih tidak terkendali. Membuat desiran darahku mejalar menyalahi aturannya. Aku jelas tidak salah lihat.
Pertandingan berlangsung sengit, dengan saling kejar-mengejar point dengan jarak tipis. Dan akhirnya selesai dengan dimenangkan oleh... sekolahku. Tanpa koor dari siapapun, sontak siswa-siswi dari sekolahku bersorak merayakan suka cita yang didapat, akupun ikut di dalamnya.
Tapi konsentrasi kebahagiankanku buyar, saat aku sengaja melirik ke arah lapangan dan melihat sosok tadi baru saja bergerak keluar dari pintu GOR. Dengan tergesa-gesa aku berlari menuju pintu itu. Jangan sampai kehilangan kesempatan.
"Kevin!" pekikku tidak terlalu keras, karena menyadari posisinya belum terlalu jauh. Dia berbalik, aku mendekat.
"Shinta? Hai, apa kabar?" dia tampak takjub, "Lo... sekolah di sini?" tanyanya, terdengar penuh minat di telingaku.
"Iya... gue sekolah di sini, kabar gue baik kok. Hehe..." aku hampir salah tingkah. "Lo gimana?" tak lupa sambil tersenyum manis, berharap dia menyadarinya. Selanjutnya kami saling bertukar informasi satu sama lain. Kevin adalah teman sekelas lesku sewaktu SMP. Rio juga mengenalnya, walau tidak dekat karena memang Rio berbeda kelas dengan kami. Seusai pertandingan tadi aku juga melihat Kevin menghampiri Rio, mungkin memberikan selamat dan berbicara sebentar lalu pergi.
Hari itu aku lebih dari sekedar senang. Selain disebabkan kemenangan sekolah kami, ada yang dominan mengisi rongga di dadaku.
"Heh! kenapa lo senyum-senyum sendiri, sedeng beneran?"
Suara berat Rio membuyarkan lamunanku, saat aku baru saja masuk lagi ke GOR. Kurang ajar si Rio!
"Apaan sih lo, sirik aja! Enggak  lucu, tauk!"
"Ada juga  elo yang enggak lucu, siap pertandingan langsung ngilang," rajuknya.
    Aku terdiam sebentar, "Hehe, iya maap, deh..." aku cengengesan tidak jelas, "Tadi gue nyamperin Kevin dulu, Yo." Rio menaikkan alisnya, mendengar jawabanku tadi.Memang salah, ya?
"Eh, selamat ya... Benerkan gue bilang, kalian bakal menang." Aku langsung mengganti topik, tidak berniat menanggapi ekspresi Rio.
"Iyeeee... Udah yuk, balik!" tuntasnya. Rio menarikku ke sisi kananya lalu mengacak lembut puncak kepalaku dengan sebelah tangan lantas meletakkan tangannya di bahuku. Seperti biasa. Aku dan Rio bukanlah sepasang kekasih. Rio adalah sahabat terbaikku dari kecil, sahabat sepanjang masaku.
***
"Aku kangen dia, Vin." Lirihku tanpa menatap lawan bicara, masih fokus ke lapangan.
"Iya... aku ngerti, kok." Kevin menepuk pelan bahuku, tersenyum menenangkan.
"Berangkat sekarang aja, yuk!" ajaknya. Setelah menerima anggukan persetujuan olehku, Kevin meraih tanganku dan mengaitkan tangannya di sana, menuntun keluar GOR.
"Yah, kok hujan, sih... Malah lebat lagi." Kevin ngedumel sendiri, tidak terlalu menyukai tangisan awan yang datang pada waktu yang kurang tepat baginya.
"Kita tunggu reda aja ya, Shin?" Kevin kembali meminta persetujuanku, dan lagi-lagi hanya kutanggapi dengan anggukan kecil.
Kami memutuskan duduk di bangku semen yang ada di dinding luar GOR. Tadi aku sudah mengatakan kepada Via dan teman-teman yang lain bahwa kami tidak bisa mengikuti acara sampai selesai. Setelah itu aku meminta izin untuk berjalan-jalan melihat bagian sekolah yang memang tidak kulalui saat memasuki sekolah ini tadi. Meninggalkan Kevin yang sedang asik bercerita dengan beberapa teman yang dia kenal di sekolahku.
    Aku menatap langit yang hampir sore, hujan yang sedang diluruh awan ini seakan ingin menutup lembar kenanganku. Aku mengamit kedua tanganku di lengan Kevin, lalu menyandarkan kepalaku di bahunya, membuat diriku senyaman mungkin. Untuk menerawang kembali ke masa yang telah terlewatkan, tentang ujung dari setiap jalan.
>>>
Tangisan alam kala itu cukup lebat, memaksa orang-orang yang sedang beraktivitas di luar sana untuk menyingkir sesaat dari peredaran, sekedar berteduh mencari aman. Tapi tidak untukku. Hujan yang turun ini bagai nada yang sedang mengiringiku berlari di tepian trotoar jalan suatu kompleks. Berlari, bukan untuk menepi dari hujan ini, melainkan untuk turut juga meluruh. Meluruh rasa yang menggebu di dada.
Aku berhenti di depan sebuah rumah.
"RIO...RIO..." berteriak melawan deru hujan yang menghantam tubuhku. Hujan tidak menunjukkan akan mengurangi kadar air yang diturunkannya.
    "YO... RIO..." aku masih bersemangat memangil nama itu, tidak peduli suaraku akan tersamarkan detak hujan. Tidak lama orang yang kuteriaki keluar, langsung berlari membuka gerbang rumahnya. Ikut menikmati hujan bersamaku, sebelum aku mengundangnya.
    "LO APA-APAAN SIH, SHIN? HUJAN LEBAT GINI TERIAK-TERIAK DEPAN RUMAH ORANG.  LAGIAN KENAPA JUGA LO PAKE MANDI HUJAN? RUMAH LO ENGGAK ADA AIR?!" Rio meneriakiku, seperti khawatir.
"GUE MAU NGOMONG!"
"YA UDAH, DI DALAM AJA YUK! HUJANYA LEBAT BANGET. ADA YANG MAU GUE BILANG JUGA. PENTING!" Rio sudah siap menyeretku masuk ke dalam, tapi segera kubantah dengan menggelengkan kepala.
Deranya masih saja kuat, tapi sepertinya gemuruh suara air turun itu sedikit melemah. "Disini aja!"
"Lo mau ngomong apaan, sih? Sampai harus hujan-hujanan. Mau kayak sinetron?" Rio itu orang paling rese' yang pernah aku kenal, enggak bisa diajak mellow sedikit.
Aku tidak mengubrisnya. Menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan, bersiap untuk meluncurkan sebuah berita. "Gue udah jadian sama Kevin!" Yup, akhirnya berita bahagia itu terbagikan juga.
"Apa?"
Aku jadi agak kesal karena Rio tidak mendengar kata-kataku tadi. Aku rasa suaraku cukup sampai ke telinganya.
"GUE UDAH JADIAN SAMA KEVIN, MARIO!" Ulangku, mantap.
Seketika, aku menangkap sejurus ekspresi aneh yang ditimbulkan Rio, terlihat syok saat mendengar beritaku tadi. Huh, kenapa lagi dia?
"Lo kok, diam aja sih, Yo? Lo enggak senang sahabat seumur hidup lo ini bahagia?" Rio seakan tidak menghargai perjuanganku yang sudah berlari dari rumah, hujan-hujanan hanya untuk menyampaikan berita paling bahagia kedua yang kudapati setelah kelulusan kami kemarin. Untuk menjadikannya orang pertama yang tahu. "Lo pernah bilang, lo bakal ikut senang kalau gue..."
"Gue senang kok, Shin..." Akhirnya dia berucap. "Selamat, ya!" Lanjutnya sambil tersenyum ganjil. Ada yang lain dari tarikan bibir itu, yang tidak dapat terbaca jelas olehku. Atau karena efek kedinginan Rio jadi begitu?  Aku juga sudah kedinginan sebenarnya.
Tiba-tiba saja, aku merasakan lengan Rio menarikku dalam dekapannya. Memelukku... hangat. Ya, setidaknya itu yang kudapati dari perlakuan aneh Rio. Walau di tengah hujan seperti sekarang, pelukan yang diberikannya terasa begitu nyaman, bahkan lebih dari sekedar yang kurasakan. Aku merasa ada yang berbeda dengan rengkuhannya kali ini, tidak seperti biasa. Mengapa Rio tiba-tiba memelukku? Apa untuk meluapkan rasa senangnya? Entahlah, tidak ingin berpikir panjang, aku hanya bisa membalas mendekapannya.
    Dan semakin lama, pelukan itu menjadi terlalu asing. Pelukan yang membuatku nyaman, namun menimbulkan sesak di dalam. Memberikan rasa yang berbeda di tengah euforia kebahagianku yang ada.
>>>
Pagi telah menjelang, dan hari ini masih libur. Aku terbangun dari tidur ketika jam wekerku yang sudah menunjukkan pukul 08.30 berbunyi. Setelah mematikannya, aku mengerjap-ngerjap sebentar, membalik-balikkan badanku secara asal?menunggu jiwaku benar-benar terkumpul. Setelah beberapa saat, akhirnya aku beranjak dari tempat nyaman itu, lalu menyibak tirai yang menutupi pintu balkon kamarku.
Langit tampak tidak terlalu cerah, biru yang kelam. Mungkin karena efek hujan kemarin yang memang baru berhenti subuh tadi. Tiba-tiba ekor mataku menangkap ke arah lantai balkon, ada yang tergeletak di sana. Aku membuka pintu balkon dan memungut benda persegi empat itu.
Bibirku langsung membentuk senyum tipis saat mengamati benda berbentuk kado itu. Aku tahu siapa yang melakukannya. Hanya ada satu nama yang akan memperlakukanku seperti ini. Tapi, ini kan, bukan hari ulang tahunku. Aku masuk kembali ke kamarku. Tanganku sudah siap membuka bungkusan berwarna biru itu saat..
Tok Tok Tok
"Shinta, kamu sudah bangun?" Bunda berteriak dari arah luar pintu kamarku.
"Sudah, Bun!"
"Ya sudah, cepat mandi! Habis itu sarapan ke bawah." Perintah Bunda, layaknya komandan.
"Iya, Bunda!' jawabku menyanggupi. Terdengar suara langkah menjauh setelah itu. Tidak ingin membuat repot bunda hanya untuk menyuruhku mandi kedua kalinya, aku meletak kotak kado tadi di tempat tidurku, langsung menyambar handuk dan memasuki kamar mandi.
Setelah beberapa menit kuhabiskan untuk berbenah diri, aku sudah siap turun ke bawah, seperti perintah bunda tadi. Aku melirik jam yang betengger di dinding kamarku, hampir jam setengah sepeluh. Sebelum benar-benar beranjak, aku melihat benda yang tersampirkan di tempat tidurku, aku jadi merasa tergelitik untuk mengetahui isianya.
Tanganku mulai merayap untuk membukanya. Aku terhenyak, mendapati sebuah kotak musik klasiklah yang ada di dalamnya.
Sebuah kotak musik keluaran lama, tapi aku jelas sangat mengenali benda itu. Kado terakhir yang diberikan almarhum Papa pada saat aku masih kelas 6 SD. Lama kuamati benda lazim itu. Rindu dalam sekejap merasuk, mencoba meciptakan genangan air di pelupuk mata yang siap meluncur, namun langsung kucegah. Kemudian aku kembali berkutat dengan benda mati di tanganku. Aku mengangkat kotak musik itu, sehingga baru menyadari ada kertas terlipat rapi sebagai alas di bawahnya. Aku duduk di ujung tempat tidurku, meletakkan kotak musik itu di pangkuanku, dan memutuskan membuka kertas yang kuyakini adalah sebuah surat.
Dear Shinta...
Sebelumnya, gue mau beri penjelasan tentang kado yang gue kasih bukan di hari ulang tahun lo. Hehe, lo pasti ingat kotak musik itukan, Shin? Kotak musik pemberian almarhum Papa lo sebelum beliau pergi, yang sukses gue rusakin padahal umurnya baru beberapa bulan. Untuk yang terakhir kalinya... maaf ya, Shintaaa. Gue benar-benar enggak sengaja jatuhinnya. Asal lo tahu, gue amat sangat merasa bersalah waktu itu, apalagi sejak itu lo enggak mau lagi ngomong sama gue, main bareng gue. Merasa orang paling berdosa sedunia gue. Hehe, rada lebay enggak pa-pa kali, ya!
Karena itu, gue bertekat mau benerin kotak musik itu dengan tangan gue sendiri. Tapi berhubung gue masih anak kelas 6 SD, gue enggak mungkin bisa benerinnya. Untung bunda lo berhasil bujukin lo biar maafin gue. Tapi gue tetap bertekad kalau suatu saat nanti gue harus benerin kotak musik itu dengan tangan gue sendiri. Dan itu lah hasilnya sekarang.
Sebenarnya surat ini gue jadiin perantara buat pamit sama lo. Sorry karena gue belum sempat kasih tahu lo, dan sorry juga kalau ini sulit buat lo. Gue take off pagi ini jam 8. Bokap pindah tugas ke Aussie, dan kita sekeluarga terpaksa ikut. Keputusannya mendadak banget Shin, sampai gue bingung cara bilanginnya ke elo gimana. Kemarin sore gue udah niat buat ngomong, sekaligus ngasih tau lo sesuatu. Tapi gue enggak cukup tega ngurangin kebahagian lo waktu itu. Dan hal penting yang mau gue kasih tau ke elo itu, 'Entah sejak kapan gue enggak lagi nganggap lo sekedar sahabat doang. Gue enggak  pernah tahu, kalau sering-sering bareng lo bisa bikin gue... jatuh cinta. Maaf, Shinta.'
Gue tahu ini begok, ngungkapin perasaan gue cuma dari surat perpisahan, setelah gue tau isi hati lo, dan setelah gue pergi jauh dari lo. Kenyataannya, gue enggak pernah benar-benar punya nyali buat ngungkapinnya, sampai gue tahu kalau gue bakal kehilangan lo. Karena itu, gue putuskan lo cukup tahu perasaan gue dari surat ini aja. Sorry kalau kali ini gue egois. Kayaknya gue udah kebanyakan sorry dari tadi. Hahaha...
Gue sempat takut buat ninggalin lo, ingat betapa terpuruknya elo waktu ditinggal Papa lo. Tapi gue udah bisa tenang sekarang, karena lo udah dapat pengganti gue yang bakal jagain lo, gue percaya Kevin bisa. Dan gue harap lo baik-baik aja selepas gue pergi nanti. Udah deh, salam perpisahan gue, udah kepanjangan kayaknya. Oya, Shin... mudah-mudahan kotak musik itu bisa membantu lo lagi saat lo rindu almarhum Papa lo, seperti dulu. Dan mungkin, saat lo kangen gue. Hehee...
Gue akan selalu sayang sama lo, Shinta!
           With love
        Mario Ardana
Cairan bening dari mataku sudah menganak sungai sedari tadi, cucurannya menimpa torehan tinta di kertas itu. Kupeluk kotak musik itu, merasakan kehilangan yang teramat dalam pada alamarhum Papa, yang meninggalkanku sebelum puas bermanja kepadanya. Papa terbaik sedunia. Dan untuk terlalu cepat, aku merindukan sosok yang memberiku ini lagi.
"Dasar Rio begoookk!! Hiks... lo pikir... lo siapa bisa ngelakuin ini ke gue!! hiks hiks..." aku meraung, berharap Rio akan segera datang untuk memarahiku dengan kata-kata sok tahunya, menghiburku dengan tingkah bodohnya. Sejak Papa meninggal, Rio bilang dia enggak akan ngebiarin aku sedih. Tapi, di mana Rio sekarang?
"Gue enggak mau maafin lo, Yo!! Enggak akan... Hiks... hiks... lo harus... lo harus pulang buat ngejelasin semuanya ke gue!!... MARIOOO..."
Cklek.
Pintu kamarku terbuka, menunjuk wanita paruh baya yang telah mengurusiku seumur hidup tengah menatap nanar ke arahku. Pandanganku mengabur karena air mata.
"Kamu yang sabar ya, sayang..." Bunda menghampiriku lalu memelukku dan mengelus lembut rambutku. Aku hanya bisa menanggapinya dengan isakan tertahan. Sepertinya Rio sempat pamit dengan Bunda, mungkin saat dia menaruh kado ini sebelum berangkat. Apa hanya kepada aku Rio menyampaikannya melalui sepucuk surat. Keterlaluan sekali anak itu!
"Biarkan dia tenang di alamnya."
DEG.
Jantungku mencelos mendengar kelanjutan kata-kata bunda. Apa maksudnya? Aku langsung menarik pelan tubuhku dari pelukan Bunda. "Maksud bunda apa? Rio Cuma pindah ke Aussie, Bun.." suaraku serak dan bergetar, akibat belum selesai menangis. Bunda terlihat membuang napas berat. Melihat ekspresi Bunda, entah mengapa aku jadi tidak yakin dengan ucapanku sendiri.
"Pesawat yang dinaiki keluarga Rio mengalami kecelakaan. Terjadi kesalahan sistem penerbangan... ditambah cuaca yang buruk. Sayangnya... tidak seorang pun selamat dari sana."
Lengkap sudah semua, serasa dihimpit beban sebesar dunia.
Tidak pernah kubayangkan, sekalipun dalam mimpi terburukku. Rasa nyeri di ulu hati yang begitu parah, hingga mampu melemahkan saraf-saraf tubuh. Aku menahan isakku mengingat sosoknya, sahabat yang ternyata diam-diam menaruh hati padaku, tanpa kuketahui. Masih dapat kurasakan pelukan hangatnya sore itu. Pelukan terakhir darinya, yang takkan dihadirkannya lagi untukku. Aku kalut, menyadari rasa kehilangan yang begitu besar ini menggerogoti hatiku tanpa ampun. Meninggalkan bekas yang amat tidak nyaman.
    Bunda kembali mendekapku, berusaha meredam kesedihan yang semakin dalam. Diam-diam turut menangis meratapi nasibku.
***
Kevin menggenggam tanganku erat, menuntunku melewati jalan setapak berkerikil. Setelah hujan yang mereda beberapa menit tadi, aku dan Kevin memutuskan pergi dari pekarangan sekolahku, meninggalkan acara Reuni angkatanku tadi.
Langit sore kala itu hanya menyisakan gerimisnya, hal yang tak terlalu berarti untuk aku dan Kevin bisa sampai ke tempat kami sekarang berada. Akhirnya, kami tiba di salah satu rumah masa depan itu. Kevin melepaskan kaitan jarinya. Membiarkan aku berjongkok yang lalu diikuti olehnya. Kuusap nisan yang bertuliskan nama sahabat terbaikku itu. Setelah membersihkan daun-daun kering yang mengotori kuburan itu, aku berdo'a dengan khusuk, mengharap yang terbaik untuk Rio.
"Hei Yo, udah lama ya gue enggak k esini. Maaf... gue sibuk ngurusin wisuda." Aku mulai bermonolog, hal yang selalu aku lakukan kalau mendatangi tempat ini. Dan Kevin selalu memposisikan dirinya sebagai pendengar yang baik, atau kadang sebagai penguatku, kala aku tak mampu membendung kesedihan.
"Enggak kerasa ya, Yo, ini udah masuk tahun keempat gue ngabisin hari-hari gue tanpa lo. Hmmp... dan itu semua masih tetap terasa berat. Gue ngerasa selalu ada yang hilang di setiap hari gue...
"Asal lo tahu, sampai saat ini gue masih belum bisa baik-baik aja tanpa lo, seperti yang lo harepin. Sorry, karena itu memang terlalu sulit buat gue. Disaat gue sadar enggak ada lagi Rio yang selalu bersedia ngantarin gue kemanapun gue mau, enggak ada lagi Rio yang bakal nge-hibur gue saat sedih sampai gue bisa tersenyum lagi, enggak ada lagi orang yang setiap minggu pagi gedor-gedor pintu kamar gue cuma buat ngajakin main basket, orang yang bisa gue rayu buat mandi hujan bareng, dan enggak akan ada lagi kado di balkon setiap hari ulang tahun gue. Semuanya enggak akan pernah menjadi mudah, Rio..."
Aku hampir saja meneteskan air mata lagi jika mengingat hal itu, namun sekuat hati kutahan, tidak mau lagi ada air mata. Aku menarik napas, menghirup oksigen hingga memenuhi rongga dadaku, lantas mehembuskannya perlahan. Berharap sesak ikut terurai bersamanya.
"Tapi gue sadar Yo, waktu enggak bakal mau nunggu buat kesedihan gue. Untungnya Kevin selalu ada buat gue disaat paling sulit hidup gue. Menguatkan gue yang belum sanggup menerima kenyataan. Dan, lo nggak boleh cemburu kalau gue bilang minggu depan gue tunangan sama Kevin."
Aku terkekeh sendiri dengan ucapanku, mencoba menunjukkan untuk ketidaksia-siaan perjuanganku dan Kevin. "Ya udah Yo, gue balik dulu. Gue harap lo tenang di sana. Gue juga bakal tetap dan selalu sayang sama lo." Tersenyum, aku menandaskan ucapanku. Aku menoleh ke arah Kevin, yang tengah tersenyum menatapku, lalu beralih.
"Rio, makasih udah kasih kepercayaan buat gue gantiin lo jagain Shinta. Gue tahu lo enggak akan pernah diam kalau Shinta kenapa-kenapa. Lo tenang aja, gue pasti jagain Shinta sebaik-baiknya. Bahkan melebihi nyawa gue. Gue cinta banget sama dia."
Tanpa harus dipungkiri, aku tersanjung mendengar monolog Kevin barusan, yang memberi kesan berbeda terhadapku. Menciptakan semburat merah jambu yang tidak kentara di pipiku.
"Pulang yuk, Shin! Ngeri juga lama-lama di sini." Aku kembali terkekeh, kali ini karena kata-kata Kevin dan mimik wajah yang dibuatnya.
"Ya udah, yuk!"
Kami beranjak dari tempat peristirahat terakhir itu. Dengan tangan yang mengeratkan satu sama lain, aku dan Kevin berjalan keluar dari area pemakaman. Ditemani cakrawala yang tengah melukiskan keindahan langit senja, dengan latar sang surya yang hampir kembali ke peraduannya. Menghadirkan pias jingga yang megah dan gradasi tujuh warna dari efek sehabis hujan yang mendera.