Sunday, 23 March 2014

Rindu Menangis

Kaki-kaki melangkah jauh
Menjemput semesta
Di sampingnya terduduk cakrawala
Lalu berhenti
Katanya: ingin ikut mendengarkan cerita
Apa saja
Menangislah

Langkah-langkah menggema rapuh
Ia kehilangan sesuatu
Ada pencuri yang rindu dihukum
Mungkin dia lupa kepada dosa dan kematian
Mungkin esok telah berbisik sebuah rahasia
Mungkin saja

Musim-musim melepas bajunya
Kini tampaklah luka dan memar
Mulai meradang, menghilang
Tanggalkan saja topeng itu
Biar tak pandai lagi kerak mengendap
Merindulah
menangislah


Pekanbaru, 2014

Friday, 21 March 2014

Hujan Kamis Malam

Hujan kamis malam 
Terdengar rusuh berhamburan 
Angin-angin keluar 
Dingin-dingin girang 
Mereka menilik, berbisik: usik 
Hati yang rela tak perlu lagi suara

Hujan malam jum'at 
Tahu-tahu sudah datang 
Tanpa diundang 
Tanpa wejangan 
Mereka akan begadang 
Mengusir, menyingkir: jiwa-jiwa yang getir 

Hujan kamis malam 
Baiklah sudah saatnya 
Raga ini berselimut merah 
Gerah 
Baterai juga sudah menyerah 
Tunaikan saja tugasmu dengan gagah 
Aku sudah lelah. 

Yuni Andriany 
(Pekanbaru, 20 Maret 2014)
#LatePost

Thursday, 20 March 2014

Intuisi

Tidak lagi kata yang ditunggu untuk penjelasan
Tidak lagi suara yang diharap membuat remang
Ombak sudah memberitahu lewat deburan
Tentang angin
Ditemani bintang dan lautan
Tentang kita
Berbekal waktu dan ruang

Tiada perlu menemukan simpang untuk sebuah jalan
Tiada perlu perjalanan untuk akhir yang digenggam
Kabut telah menyimpan segenap kisah terbuang
Kepada malam
Janji dan bisu dikaitkan
Kepada jiwa
Takdir dan harapan jadi peraduan

Monday, 17 March 2014

Melawan Asap

Negeri Lancang Kuning kian mengabur
Polutan menyebar dengan sangar
Napas pelan-pelan mulai karatan
Rakyat sudah ingar-bingar tak karuan
Mereka yang mengerti lengah peduli
Atau memang tidak punya hati
Entah kemana nurani itu menyepi
Mungkin turut pula diasapi

Di mana keadilan?
Yang kabarnya simbol kebenaran
Yang ceritanya santer berkoar-koar
Kami hanya kurang paham
Tentang dunia yang penuh kepalsuan
Kami hanya tidak bisa mendengar
Tentang kidung yang hampa kekeringan

Sunday, 16 March 2014

Antologi Pertama (Cerita di Balik Cerita)

Aah, apa ini terdengar seperti awal dari sebuah pencapaian?
Berita itu saya terima tadi malam di sini, cerpen saya masuk 200 besar cerpen terpilih dari ribuan peserta. Artinya akan dibukukan secara self-publishing yang akan diterbitkan oleh NulisBuku yang notabene sebagi penyelenggara. Antologi pertama saya, dengan tema #LoveNeverFails. Tentang Cinta. Luar biasa.


Jujur, saat cerpen itu dikirim untuk diikutsertakan lomba, saya tidak terlalu berharap cerita itu akan lolos. Keikutsertaan hanyalah bentuk sebuah janji pada diri saya sendiri, meski dari lubuk hati yang paling dalam secuil harapan itu tetap ada. Kali ini saya memang tidak ingin terlalu berharap. Bukan apa-apa, bisa dikatakan proses pengerjaannya jauh dari kata siap. Cerpen itu saya tulis dalam sehari, tepat di hari terakhir deadline. Dalam waktu yang singkat serta banyak tekanan, Tentang Cinta lahir dengan cacat (re: typo dimana-mana). Mengingat itu, terlalu munafik sepertinya jika saya menginginkan yang lebih. Lalu, mengapa saya katakan dengan waktu singkat dan banyak tekanan? Baiklah, begini ceritanya…

Monday, 10 March 2014

Benang Kusut

Bukankah terkadang hidup seperti benang kusut?
Belakangan, saya mulai terpikir bahwa benang kusut memiliki filosofi tentang kehidupan, lebih tepatnya kemarin. Saat saya sedang membuat kesibukan sendiri dengan membuat kerajinan dari kain flannel, ketularan tetangga sebelah sebenarnya. Di waktu lalu―saat dunia belum benar-benar menyita, saya pernah belajar jahit-menjahit dengan tangan dan jarum jahit. Meski tidak bisa dikatakan mahir, setidaknya saya bisa menggabungkan dua buah kain atau merapikan pinggiran kain. Nah, saat kemarin melihat tetangga sebelah membuat kerajinan dari flannel, saat itulah saya tergoda untuk membuatnya sekaligus sekedar mengguji apa ilmu jahit yang saya dapat dulu masih menempel atau bagaimana. Kemudian, ditemukanlah benang kusut disana.

Sesuatu yang terlalu dipaksakan sering kali berujung tidak baik, jauh dari niat awal atau bahkan nyaris runyam. Seperti itu yang saya lalukan kepada benang malang itu. Entah terlalu bersemangat atau bagaimana, bukannya membuat benang itu terulur, saya malah menacaukannya. Dari awal saya memang sudah tidak sabar sebenarnya. Dan, di situlah letak kesalahannya. Saya lupa beberapa pelajaran kehidupan, lupa bahwa semua fenomena kehidupan pada dasarnya saling kait satu sama lain. Segala sesuatu―sekecil apapun―membutuhkan kesabaran, walau itu secuil juga. Imbas yang terjadi, saya membuat masalah baru―mengurai benang kusut itu tidak mudah.

Saturday, 1 March 2014

Kehilangan Februari

Begitukah?
Sedikit hambar, saya rasa seperti itu. Atau, lebih buruk. 28 hari yang tidak bersahabat sudah pergi. Ya, mungkin tidak bisa diakumulasikan secara keseluruhan, terdengar terlalu tidak bersyukur menurut saya. Tapi, beberapa hari yang lumayan kacau itu cukup pantas mewakili Februari. Saya akui, saya tidak berhasil membuat Februari menjadi menyenangkan di hari-harinya yang nyaris seperti singkat. Well, lagi-lagi mood saya berada dalam keadaan lost-control. Dengan kesadaran penuh saya melewatkan juga kehilangan. A bad news at beginning of the year.

Rencana tinggal lah rencana, takdir lebih dari segala angan-angan. Klise sekali ternyata kenyataan itu. Rasanya, saya ingat betul bagaimana sebuah rencana yang kemudian terus berbuah itu mencuat, tumbuh, berkembang, hingga rampung dan mengapung. Jika semakin dibayangkan hasilnya, maka semakin indah rencana tersebut. Bahkan sampai meremang sekaligus berdebar. Namun, beberapa saat kemudian, dengan cara tidak terbayangkan, partikel dari rencana tadi berguguran seenaknya dengan perlahan, layaknya daun di musim kerontokan. Pelan tapi pasti, pasti menyakitkan. Terlebih karena yang menjadi perusak adalah si pembuat rencana sendiri. I have no idea.

Monday, 10 February 2014

Saturday, 1 February 2014

Balada Setengah Cinta

Alkisah, di suatu kerajaan bernama Kehidupan ditemukan sebuah Hati yang tengah tertanya. Sebab, suatu hari Raja dari Kerajaan Kehidupan memberikannya sebuah hadiah yaitu berupa Masa saat ia akan menempuh jalan pulang. Awalnya Hati tampak kebingungan dengan hadiah tersebut, tidak mengerti harus memperlakukan bagaimana. Hari itu Masa masih terlalu asing bagi Hati. Namun Hati cukup tahu, ia tidak akan pernah bisa menolak apapun yang diberikan oleh Raja Kehidupan. Mutlak. Hanya satu petunjuk yang diberikan: jangan pernah menyia-nyiakan Masa. Setelah menimbang-nimbang, Hati memutuskan untuk membawa Masa, dan dalam perjalanan pulangnya yang panjang, Hati terus-menerus mencari tahu apa yang harus ia perbuat kepada Masa. Sambil memikirkan hal itu, Hati senantiasa merapal jangan penah menyia-nyiakan Masa. Berharap dengan begitu ia dapat menemukan jalan keluar.

Pulang, adalah sesuatu yang paling jauh yang pernah Hati tahu. Perjalanan paling panjang yang pernah ia lakukan. Sayangnya, Hati tidak membawa bekal apapun untuk menghadapi itu semua, selain hadiah dari sang Raja Kehidupan tadi. Bukan apa-apa, Hati sadar bahwa ia tidak akan pernah tahu apa yang akan ditemuinya di depan nanti. Dan bagi Hati tidak ada bekal yang cocok untuk sesuatu yang tidak terprediksikan. Akan tetapi, tidak membawa bekal bukan berarti akan membuat Hati menyerah pada kesulitan. Mungkin, ada sesekali di saat dimana Hati merasa lelah dan ingin berhenti. Langkah-langkah yang telah terlalu banyak membawa beban. Namun, perjalanan yang sudah ditempuh di belakang sedikit banyaknya membuat Hati belajar. Berhenti bukanlah suatu jalan keluar, apalagi hal itu hanya akan membuat ia menyia-nyiakan Masa―hal yang sangat ia hindari. Seiring menuju pulang, Hati mendapat sebuah pencerahan: bekal terbaik adalah belajar dari pengalaman.

Thursday, 30 January 2014

Oase

Banyak hal yang sudah terjadi dan kita lupakan begitu saja, seperti angin yang tahu-tahu melintas dan kita tidak peduli apa maksudnya. Entah angin itu datang dengan maksud baik atau tidak, entah angin itu sebuah pertanda penting atau memang hanya untuk mengganggu saja. Kita jarang benar-benar memikirkannya, kebanyakan. Untuk beberapa hal terkadang kita mendadak buta, keahlian membaca seketika hilang entah ke mana, perasa tiba-tiba jadi mati rasa. Semacam kerasukan sesuatu se-per-sekian-detik dan kita hanya tidak sadar. Begitulah. Salah satu contoh dari sesuatu yang sering kita perlakukan tidak penting.

Belakangan saya terpikir tentang angin tadi, maksudnya, waktu-waktu yang saya kategorikan sebatas angin-saja itu. Saya tidak bisa mengingat semuanya. Tentu. Namun, kejadian beberapa hari ini―entah bagaimana―seperti memaksa saya berkali-kali menoleh ke belakang. Kepada ampas kehidupan yang saya anggap angin tadi. Dan memandang masa lalu tidak membuat saya menjadi orang yang tidak bisa maju ke depan, melainkan dari sana saya temukan suatu pelajaran. Setidaknya saya berpikiran seperti itu. Bukan tentang penyesalan, tetapi tentang semua yang terjadi memiliki alasan. Saya merasa lebih baik.

Maka di sana, saya mendapati diri seperti sedang berada di Oase. Suatu masa dari padang waktu yang ternyata menyenangkan. Masa yang dulu terabaikan dan juga yang akan datang, ternyata semua merupakan Oase kehidupan. Saya baru sadar.