Friday, 11 August 2017

Pagi Ini

Pagi ini,
terlalu pagi untuk dikatakan pagi.

Dengkur di bantal masih terdengar,
masih terkantuk-kantuk.

Mata itu mulai mengerjap-ngerjap,
mencoba memulai perjuanganya untuk hari ini.

Terlalu dini: terkanya
Haruskah aku tidur lagi?

(Jakarta, 11082017)

Wednesday, 9 August 2017

Maaf

Untuk beberapa kata yang muncul, dan hanya dibiarkan menghilang,

untuk beberapa makna yang diabaikan,

untuk setiap pesona yang sempat hadir, namun tidak dijamu dengan baik,

untuk sebuah luka, yang disusul beberapa luka,

untuk setiap deru napas yang sesak, namun tak pernah diberi penawar,

untuk serangkaian tawa tak bermakna,

untuk tangisan tanpa suara,

untuk pengkhianatan ini, yang sudah kulakukan
berkali-kali.

Maaf,
dari hati.


(Jakarta, 09082017)

Monday, 24 April 2017

Run Away

Bisakah? Bisakah kita melarikan diri dari perasaan kita sendiri? Karena, terkadang ada rasa yang tak ingin dirasakan, namun ia tetap singgah. Menyita waktu beberapa saat hanya untuk mengeluh atau mengumpat, tanpa sempat mencegah.

Andai hati benar-benar seperti pintu. Yang apabila ada yang ingin masuk, perlu mengetuk terlebih dahulu, perlu izin dulu dari si pemilik pintu. Lalu—serapat apapun pintu dikunci, pintu akan terbuka karena dibuka. Apapun yang diluar sana, masuklah! Karena sang pemilik mengizinkannya.

Namun jangan tanyakan, bagaimana jika ada pencuri, bagaimana jika kunci hilang, bagaimana jika pintu itu rusak, bagaimana jika...
Tolong, jangan tanyakan.


(Pare, 24042017)

Sunday, 6 November 2016

Masa Lalu

Saya kehilangan kamu. Ini sudah terlalu jauh. Terlampau banyak detik yang membentangi kita. Menciptakan jarak yang merusak. Kini saya hanya bisa merutuki diri sendiri. Mengapa dulu, saya meninggalkan kamu. Mengapa dulu, saya melangkah sejauh ini tanpa membawa kamu menyertai. Kini saya kesulitan. Bahkan sekadar untuk menghadirkan bayanganmu di sini. Saya bagai cacat tanpa kamu temani.
                
Sekarang, saya harus bagaimana? Ini sudah terlalu jauh. Terlampau banyak napas yang saya lewatkan. Menciptakan pengap yang memekakan. Saya tidak tahu harus bagaimana. Yang saya tahu hanya, saya ingin kamu kembali.
Maaf.


(Jkt, 06112016)

Saturday, 24 September 2016

The Choices

Most people are often faced two choices: to be a loser or be more losers. This is suck, isn’t it? Bagaimana caramu untuk memutuskannya tanpa harus mengurangi rasa kebijaksanaan yang dimiliki? Ah, mungkin saja sebenarnya keadaan ini tidak seburuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mungkin saja.

Biasanya hal yang kita takutkan dalam memilih adalah jatuh pada pilihan yang salah. Namun, yang terjadi di sini malah kedua pilihan terdengar sudah salah. Keduanya sama-sama memiliki lubang yang akan membuat pemilihnya jatuh dan merasakan sakit. Inilah bagian tersulitnya. Lubang mana yang lebih dalam? Seberapa sakit yang akan kita rasakan nanti? Pada dasarnya, kedua pertanyaan ini hanya kita yang dapat menjawabnya. Seberapa dalam lubang tersebut tergantung seberapa dalam kita membiarkan diri kita terjatuh di sana, seberapa sakit yang akan kita rasakan tergantung seberapa banyak kita membiarkan luka tersebut menyakiti kita (mengutip pelajaran dari tulisan Tere Liye). Jadi, bagaimana selanjutnya?

Kamu adalah apa yang kamu pilih. Selamat memilih!

(Pekanbaru, 24092016)

Saturday, 20 August 2016

Menemukan Pulang (Resensi Novel Pulang – Tere Liye)

Judul   : Pulang
Penulis : Tere Liye
Penerbit: Republika Penerbit
Editor  : Triana Rahmawati
Halaman: 400 halaman
Tahun  : 2015
Sinopsis:
Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya.
Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.
Mengisahkan Bujang, seorang remaja dari pedalaman pulau Sumatra. Awalnya hidup Bujang sama dengan remaja pedalaman seumurnya, sampai suatu hari seorang teman Samad, bapak Bujang, datang dari kota. Orang itu, Tauke Muda datang untuk menggenapkan janji Samad di masa lalu kepada keluarganya. Samad yang masa lalunya adalah seorang tukang pukul. Tauke Muda membawa Bujang ke kota, sejak saat itu lah hidup Bujang berubah.

Friday, 29 July 2016

Euforia #9

Ada beberapa rangkaian makna yang belakangan ini tidak pernah kau terjemahkan, seakan ada mozaik yang mengubahmu menjadi dingin dan angkuh. Kau mengabaikan bagaimana setiap satu potongan harus diganti dengan potongan lain, hal yang biasanya membuatmu penasaran. Ada yang mengganggumu. Tampak jelas saat sesekali kau menanyakan, haruskah seperti ini? Kenangan. Kenangan hanya memainkan sebaris alunan, namun mampu mengecohmu habis-habisan. Semakin kau dengar, semakin kau merasa kehilangan. Lantas? Ya, yang terjadi adalah kau rela terpaku berlama-lama, sebatas diam menjadikanmu lelah, tafakur hanya untuk menemukan alasan: mengapa waktu tak jua membawamu kemana-mana. Hei, sadarlah! Yang hilang bukanlah kenangan, melainkan tujuan. Tujuanmu berteman dengan waktu. Dingin, angkuh, dan semua tumpukan pengabaian itu pada akhirnya melumpuhkan sesuatu: kepekaan yang biasanya menjembatani kepada ujung pemahaman. Entah ramuan apa yang sudah tercipta dari mereka (dingin, angkuh, dan pengabaiaan), yang jelas saat ini sebuah penawar sangat dibutuhkan. Penawar yang mampu mengembalikan rasa, bukan untuk mematikannya. Sebelum ada yang tak terselamatkan, sebelum waktu benar-benar tak membawa kemana-mana, dan sebelum mereka menemukan sebuah takhta, berupa euforia dimana pengap menjadi sang penguasa.



(PSP, 29072016)

Monday, 11 July 2016

Satu Tanya

Di antara titik dan koma
Masihkah ada kita?
Kutipan kecil di sudut cerita.


(PSP, 11072016)

Wednesday, 22 June 2016

Dialog Kecewa #Radiasi

Kau tahu siapa sebenarnya Kecewa? Di mana rumahnya? Anaknya siapa? Tingkahnya bagaimana? Kau tahu? Karena jika kau mengetahuinya, beri tahu aku. Ceritakan padaku bagaimana Kecewa itu, bagaimana dia... tidak tidak. Kau tidak perlu melakukannya. Lupakan semua pertanyaanku tadi! Kau hanya perlu mengatakan di mana Kecewa sekarang. Beri tahu aku! Biar aku sendiri yang menemuinya, bertanya setiap detail yang ingin kutahu. Aku ingin mendengar dia sendiri yang mengatakan, menjawab semua rasa penasaran yang sudah terlanjur pengap. Jadi, apa kau tahu? Rasa-rasanya aku sudah tidak sabar untuk mendengar setiap penggal penjelasan darinya, untuk mendengar bagaimana dia masih bisa hidup seperti tanpa harus membenci atau dibenci. Bagaimana bisa? Setelah itu, mungkin aku tidak bisa menahan untuk tidak langsung menghajarnya.


Bisa jadi kau bertanya-tanya, mengapa aku sampai seperti ini: memburu Kecewa. Sebut saja ini bagian dari antisipasiku. Sebelum dia yang menyerang, harus aku yang menyerangnya duluan. Ya, tentu saja dia adalah si Kecewa itu. Ada yang datang padaku, seperti kabar burung yang mengatakan bahwa akan ada penyerangan dalam waktu dekat ini. Penyerangan yang tidak diduga-duga, yang pelakunya pun sulit diterka. Sudah mirip dengan penyerangan bom yang terjadi belakangan ini. Namun ada satu nama tercuat setelahnya, sudah didakwa sebagai pelaku utama: Kecewa. Oknum disebut-sebut memiliki keahlian membunuh, membunuh apa saja yang sanggup dia bunuh. Sebut saja Kepercayaan, yang paling kerap dijadikan korban. Mungkin, sekarang pertanyaanmu sudah berubah menjadi: apakah aku takut? Tidak. Tentu saja tidak. Eem, baiklah, sedikit.

Tuesday, 21 June 2016

Dalam Beberapa Hari Belakangan... #Radiasi

Saya tahu, ini terlalu payah untuk dikatakan sebagai postingan kedua untuk tema yang beberapa minggu lalu saya janjikan. Oleh karena itu saya buat postingan ini, untuk semacam pemberitahuan saja.

Dalam beberapa hari belakangan ini saya disibukkan dengan kerjaan mengolah data, sekitar semingguan terakhir. Mengapa lama sekali? Selain karena datanya yang agak susah, terjadi sedikit kesalahan dari pihak costumer yang mengakibatkan saya harus mengolah untuk kedua kalinya. Jadilah saya tidak punya cukup waktu untuk membuat postingan.