Untuk beberapa kata yang muncul, dan hanya dibiarkan menghilang,
untuk beberapa makna yang diabaikan,
untuk setiap pesona yang sempat hadir, namun tidak dijamu dengan baik,
untuk sebuah luka, yang disusul beberapa luka,
untuk setiap deru napas yang sesak, namun tak pernah diberi penawar,
untuk serangkaian tawa tak bermakna,
untuk tangisan tanpa suara,
untuk pengkhianatan ini, yang sudah kulakukan
berkali-kali.
Maaf,
dari hati.
(Jakarta, 09082017)
Wednesday, 9 August 2017
Monday, 24 April 2017
Run Away
Bisakah? Bisakah kita melarikan diri dari perasaan
kita sendiri? Karena, terkadang ada rasa yang tak ingin dirasakan, namun ia
tetap singgah. Menyita waktu beberapa saat hanya untuk mengeluh atau mengumpat,
tanpa sempat mencegah.
Andai hati benar-benar seperti pintu. Yang apabila
ada yang ingin masuk, perlu mengetuk terlebih dahulu, perlu izin dulu dari si
pemilik pintu. Lalu—serapat apapun pintu dikunci, pintu akan terbuka karena dibuka.
Apapun yang diluar sana, masuklah! Karena sang pemilik mengizinkannya.
Namun jangan tanyakan, bagaimana jika ada pencuri,
bagaimana jika kunci hilang, bagaimana jika pintu itu rusak, bagaimana jika...
Tolong, jangan tanyakan.
(Pare, 24042017)
Sunday, 6 November 2016
Masa Lalu
Saya
kehilangan kamu. Ini sudah terlalu jauh. Terlampau banyak detik yang membentangi
kita. Menciptakan jarak yang merusak. Kini saya hanya bisa merutuki diri
sendiri. Mengapa dulu, saya meninggalkan kamu. Mengapa dulu, saya melangkah
sejauh ini tanpa membawa kamu menyertai. Kini saya kesulitan. Bahkan sekadar
untuk menghadirkan bayanganmu di sini. Saya bagai cacat tanpa kamu temani.
Sekarang,
saya harus bagaimana? Ini sudah terlalu jauh. Terlampau banyak napas yang saya
lewatkan. Menciptakan pengap yang memekakan. Saya tidak tahu harus bagaimana. Yang
saya tahu hanya, saya ingin kamu kembali.
Maaf.
(Jkt,
06112016)
Saturday, 24 September 2016
The Choices
Most people are often faced two choices: to be a loser or be more losers. This is suck, isn’t it? Bagaimana caramu untuk memutuskannya tanpa harus mengurangi rasa kebijaksanaan yang dimiliki? Ah, mungkin saja sebenarnya keadaan ini tidak seburuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mungkin saja.
Biasanya hal yang kita takutkan dalam memilih adalah jatuh pada pilihan yang salah. Namun, yang terjadi di sini malah kedua pilihan terdengar sudah salah. Keduanya sama-sama memiliki lubang yang akan membuat pemilihnya jatuh dan merasakan sakit. Inilah bagian tersulitnya. Lubang mana yang lebih dalam? Seberapa sakit yang akan kita rasakan nanti? Pada dasarnya, kedua pertanyaan ini hanya kita yang dapat menjawabnya. Seberapa dalam lubang tersebut tergantung seberapa dalam kita membiarkan diri kita terjatuh di sana, seberapa sakit yang akan kita rasakan tergantung seberapa banyak kita membiarkan luka tersebut menyakiti kita (mengutip pelajaran dari tulisan Tere Liye). Jadi, bagaimana selanjutnya?
Kamu adalah apa yang kamu pilih. Selamat memilih!
(Pekanbaru, 24092016)
Saturday, 20 August 2016
Menemukan Pulang (Resensi Novel Pulang – Tere Liye)
Judul : Pulang
Penulis : Tere Liye
Penerbit:
Republika Penerbit
Editor : Triana Rahmawati
Halaman:
400 halaman
Tahun : 2015
Sinopsis:
Aku tahu sekarang,
lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih
banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya.
Sebuah kisah tentang
perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat
semua kebencian dan rasa sakit.
Mengisahkan
Bujang, seorang remaja dari pedalaman pulau Sumatra. Awalnya hidup Bujang sama
dengan remaja pedalaman seumurnya, sampai suatu hari seorang teman Samad, bapak
Bujang, datang dari kota. Orang itu, Tauke Muda datang untuk menggenapkan janji
Samad di masa lalu kepada keluarganya. Samad yang masa lalunya adalah seorang
tukang pukul. Tauke Muda membawa Bujang ke kota, sejak saat itu lah hidup
Bujang berubah.
Friday, 29 July 2016
Euforia #9
Ada beberapa
rangkaian makna yang belakangan ini tidak pernah kau terjemahkan, seakan ada
mozaik yang mengubahmu menjadi dingin dan angkuh. Kau mengabaikan bagaimana setiap
satu potongan harus diganti dengan potongan lain, hal yang biasanya membuatmu penasaran.
Ada yang mengganggumu. Tampak jelas saat sesekali kau menanyakan, haruskah
seperti ini? Kenangan. Kenangan hanya memainkan sebaris alunan, namun mampu
mengecohmu habis-habisan. Semakin kau dengar, semakin kau merasa kehilangan. Lantas?
Ya, yang terjadi adalah kau rela terpaku berlama-lama, sebatas diam menjadikanmu
lelah, tafakur hanya untuk menemukan alasan: mengapa waktu tak jua membawamu
kemana-mana. Hei, sadarlah! Yang hilang bukanlah kenangan, melainkan tujuan. Tujuanmu
berteman dengan waktu. Dingin, angkuh, dan semua tumpukan pengabaian itu pada akhirnya
melumpuhkan sesuatu: kepekaan yang biasanya menjembatani kepada ujung pemahaman.
Entah ramuan apa yang sudah tercipta dari mereka (dingin, angkuh, dan
pengabaiaan), yang jelas saat ini sebuah penawar sangat dibutuhkan. Penawar yang
mampu mengembalikan rasa, bukan untuk mematikannya. Sebelum ada yang tak
terselamatkan, sebelum waktu benar-benar tak membawa kemana-mana, dan sebelum
mereka menemukan sebuah takhta, berupa euforia dimana pengap menjadi sang
penguasa.
(PSP, 29072016)
Monday, 11 July 2016
Satu Tanya
Di antara titik dan koma
Masihkah ada kita?
Kutipan kecil di sudut cerita.
(PSP, 11072016)
Wednesday, 22 June 2016
Dialog Kecewa #Radiasi
Kau tahu siapa sebenarnya Kecewa? Di mana rumahnya? Anaknya siapa? Tingkahnya bagaimana? Kau tahu? Karena jika kau mengetahuinya, beri tahu aku. Ceritakan padaku bagaimana Kecewa itu, bagaimana dia... tidak tidak. Kau tidak perlu melakukannya. Lupakan semua pertanyaanku tadi! Kau hanya perlu mengatakan di mana Kecewa sekarang. Beri tahu aku! Biar aku sendiri yang menemuinya, bertanya setiap detail yang ingin kutahu. Aku ingin mendengar dia sendiri yang mengatakan, menjawab semua rasa penasaran yang sudah terlanjur pengap. Jadi, apa kau tahu? Rasa-rasanya aku sudah tidak sabar untuk mendengar setiap penggal penjelasan darinya, untuk mendengar bagaimana dia masih bisa hidup seperti tanpa harus membenci atau dibenci. Bagaimana bisa? Setelah itu, mungkin aku tidak bisa menahan untuk tidak langsung menghajarnya.
Bisa jadi kau bertanya-tanya, mengapa aku sampai seperti ini: memburu Kecewa. Sebut saja ini bagian dari antisipasiku. Sebelum dia yang menyerang, harus aku yang menyerangnya duluan. Ya, tentu saja dia adalah si Kecewa itu. Ada yang datang padaku, seperti kabar burung yang mengatakan bahwa akan ada penyerangan dalam waktu dekat ini. Penyerangan yang tidak diduga-duga, yang pelakunya pun sulit diterka. Sudah mirip dengan penyerangan bom yang terjadi belakangan ini. Namun ada satu nama tercuat setelahnya, sudah didakwa sebagai pelaku utama: Kecewa. Oknum disebut-sebut memiliki keahlian membunuh, membunuh apa saja yang sanggup dia bunuh. Sebut saja Kepercayaan, yang paling kerap dijadikan korban. Mungkin, sekarang pertanyaanmu sudah berubah menjadi: apakah aku takut? Tidak. Tentu saja tidak. Eem, baiklah, sedikit.
Tuesday, 21 June 2016
Dalam Beberapa Hari Belakangan... #Radiasi
Saya tahu, ini terlalu payah untuk dikatakan sebagai
postingan kedua untuk tema yang beberapa minggu lalu saya janjikan. Oleh karena
itu saya buat postingan ini, untuk semacam pemberitahuan saja.
Dalam beberapa hari belakangan ini saya disibukkan
dengan kerjaan mengolah data, sekitar semingguan terakhir. Mengapa lama sekali?
Selain karena datanya yang agak susah, terjadi sedikit kesalahan dari pihak costumer yang mengakibatkan saya harus
mengolah untuk kedua kalinya. Jadilah saya tidak punya cukup waktu untuk
membuat postingan.
Wednesday, 8 June 2016
Sebuah Kepantasan #Radiasi
Saya kembali.
Sebelumnya, selamat berpuasa bagi semua yang
menjalankan! Semoga berkah, amin.
Di hari ketiga bulan Ramadhan ini, saya ingin
menggoreskan episode perdana dari #CemalCemal. Akhirnyah! Camilan yang berasal
dari hasil pengamatan dan pemikiran sok tahu kali ini bertajuk ‘Sebuah
Kepantasan’ dengan hastag #Radiasi.
But, wait wait! What is #Radiasi? Okay, let me tell you then! Radiasi adalah RAmadhan
DiAntara spaSi. Ceritanya ini semacam diari edisi Ramadhan, namun tetap dengan
tema cemal-cemil. And, I wanna give you all a kind of memo by the way, that...
I’ve wrote in the previous post that #CemalCemil is a sketch about snacks of
life that i’ve seen, heard, and felt. So don’t get me wrong, because i’m just
trying to say what I wanna say, to share what I wanna share, and of course, not
to keep away my fingers from the board. So, here I am.
Subscribe to:
Posts (Atom)
